
...Pov Sansa Turner...
Oh, Tuhan. Aku benar-benar bersyukur karena Daddy membiarkan Alex kembali ke kamar bersamaku, atau kami berdua akan gila karena hasrat kami yang harus tertahan.
Setelah mengunci pintu, Alex langsung menggendongku ala bridal style dan secara spontan aku langsung melingkarkan lenganku di lehernya. Aku mengecup denyut nadinya dengan lembut dan bisa ku rasakan tubuh Alex yang menegang, apalagi saat aku menjulurkan lidahku dan menggoda titik sensitif itu dengan sensual.
"Miliki aku, Alexander. Cintaku, jiwaku," bisikku saat Alex menurunkanku di ranjang.
Aku kembali menciumi Alex dan menggodanya, dan ia pun tak mau kalah dariku.
Alex langsung merobek piyama yang aku kenakan dan melemparnya dengan asal, ku lihat tatapan laparnya pada tubuhku yang kini terpampang di hadapannya.
Alex langsung memangut bibirku dengan menggebu, seolah ia bibirku ini adalah kebutuhannya, aku hanya bisa mengerang dan pasrah di bawah cumbuannya, hingga perlahan ciuman Alex turun ke leherku, ia menghisapnya dengan sensual, meninggalkan tanda kepemilikan disana, membuatku seperti melayang ke udara.
"Oh, Damn it, Sansa." Alex mengumpat seksi kemudian ia juga merobek celanaku dengan tidak sabar. Napas kami memburu, darah kami terasa panas dan api gairah yang membara terlihat jelas di mata kami yang kini saling menatap.
"Kau sangat seksi, Baby girl. Panas," desis Alex yang kini menyentuh kakiku, menyusuri kaki hingga pahaku dengan tangan panasnya itu.
__ADS_1
"Ahh...." Aku mengerang tanpa sengaja saat tangan panas Alex masuk ke paha dalamku, merabanya bahkan meremasnya dengan nakal sementara matanya tetap menatapku dengan tajam.
Aku menahan napas saat tangan Alex semakin naik ke pangkal pahaku hingga menyentuh bibir yang basah disana.
"Ohh...." Aku melenguh dan melengkungkan punggungku saat jari Alex menerobos masuk yang membuat seluruh tubuhku seperti tersengat listrik.
"Kau suka ini, hm?" Tanya Alex sembari menggerakan jarinya keluar masuk di bawah sana, kemudian memutarnya dengan pelan, cepat, semakin cepat dan sangat cepat yang membuat seluruh tubuhku bergetar, pinggulku terangkat, kepalaku terhempas saat kurasakan gulungan dahsyat dalam perutku, seperti ombak yang sangat kuat.
"Jawab aku, Baby girl," desak Alex dengan suara yang serak, ku tatap matanya yang kian menggelap dan bibirnya terbuka.
Oh, demi apapun di dunia ini! Ini baru jari, hanya jari Alexander tapi aku begitu kepanasan, terbakar oleh gairah.
"Jawablah, Nyonya Alexander Ghan!" Tegas Alex, tatapannya begitu tajam, seolah ingin memakanku. "Apa kau suka ini? Apa kau suka jariku berada di dalam sini? Oh, Baby. Di sini sangat basah, licin, dan panas." mendengar ucapannya itu membuatku semakin terbakar gairah.
"Yeah, Alex. Aku suka ... aku suka!" pekikku dengan napas yang terputus-putus, ku rasakan pergerakan tangan Alex yang semakin cepat keluar masuk dan memutar di bawah sana hingga akhirnya aku merasakan seluruh tubuhnya menegang.
"Alex, Ah, Alex...." aku meneriakan namanya saat aku merasakan puncak itu begitu dekat.
__ADS_1
"Yeah, Baby girl. Teriakan namaku, ayo, keluarkan, Sayang...." ia menggodaku hingga akhirnya aku melenguh panjang saat aku merasakan ada sesuatu yang aku lepaskan dari tubuhku. Tubuhku menggelepar lemas di ranjang sementara ku lihat Alex tampak tersenyum puas padaku.
"Good girl, kau sangat seksi saat mencapai puncak seperti ini, Sayang. Membuat milikku berkedut, ingin segera memasukimu." Aku tersipu mendengar ucapan frontalnya itu
Dan kini ia kembali menciumi setiap inci wajah ku, menyesap bibirku, dan menjilati leherku, kemudian menggigitnya pelan memberikan rasa sakit dan kenikmatan yang tak tertandingi.
Aku tidak ingin menunda lagi, aku ingin Alex melakukannya sekarang.
Aku membuka kemeja yg Alex pakai dengan tidak sabar dan ia pun melepaskan celananya dengan cepat.
"Kau sangat seksi, Baby," seruku sambil mengamati tubuhnya yang tak tertutup apapun, aku menahan napas saat mengamati dada bidangnya, perutnya yang berotot dan bagian bawahnya yang berdiri menantang, membuatku bergidik ngeri namun juga penasaran dalam waktu yang bersamaan.
Alex kembali menatapku dengan lapar, membuatku meremang dan kewanitaanku berdenyut.
"Aku tidak mau menunggu lagi, Sansa" bisiknya menahan gairah yang seakan ingin meledak.
Tbc...
__ADS_1