Gairah Cinta Putri Sahabatku

Gairah Cinta Putri Sahabatku
MTDF #51 - Everything Will Be Alright


__ADS_3

Karena Sansa tidak mengizinkan, maka Alex segera memberi tahu Elaine bahwa ia tak bisa membantu perusahaan Elaine, tentu kabar itu membuat Elaine kesal, marah dan kecewa, padahal ia menaruh harapan yang begitu besar pada Alex.


Dan Alex memberi tahu Elaine lewat telfon karena Sansa melarang Alex menemuinya, bahkan panggilan itu di speaker sehingga Sansa bisa mendengar semua percakapan mereka.


"Aku mohon, Alex. Sekali ini saja, aku janji, aku akan meminta maaf pada Sansa. Akan aku lakukan apapun yang kamu mau, atau yang Sansa mau, tapi aku mohon, bantu aku..." Sansa mencebikkan bibirnya mendengar ucapan Elaine yang begitu memelas itu.


"Baik, kami akan membantumu," ujar Sansa kemudian dan tentu hal itu membuat Alex terkejut. "Kamu tunggu saja kabar dariku. Oh, ya. Jangan lagi menghubungi Alex, hubungi saja aku, mulai sekarang, bisnis ini antara aku dan kamu," tegas Sansa yang sudah seperti seorang boss saja. Alex hanya terkekeh dengan kelakuan istri kecilnya itu.


"Baik, aku akan menunggu. Terima kasih, Sansa." tanpa menjawab, Sansa langsung memutuskan panggilan itu, sadis.


"Kamu mau membantunya?" Tanya Alex dengan kedua alis yang terangkat.


"Iya, kasihan juga dia," gumam Sansa lirih.


"Terus? Bagaimana kamu bisa membantunya?"


"Suruh Daddy saja." Sansa menjawab sambil cengengesan yang membuat Alex langsung terkekeh.


Sansa segera keluar dari kamarnya untuk menemui sang ayah dan membicarakan masalah ini.


"Ehem ehem...." Sansa berdeham saat melihat ayahnya sedang membuat lemon junce sambil senyum-senyum seperti orang gila.


"Eh, Sayang. Ada apa? Kenapa belum tidur? Ini sudah malam," kata Dorian.


"Kenapa Daddy membuat lemon juice malam-malam begini?" Tanya Sansa sambil bersender di pantry, ia bersandekap dan menatap ayahnya dengan curiga.


"Tidak apa-apa, hanya saja ... tadi Kate membuatkan Daddy lemon juice, rasanya enak," jawab Dorian malu-malu yang membuat Sansa langsung melongo. "Padahal Daddy minta kopi, tapi dia bilang, lemon juice lebih baik. Dia perhatian sekali."


Sansa masih melongo sebelum akhirnya ia menyadari sesuatu, ia pun hanya bisa menahan senyum geli karena sepertinya rencananya berhasil.


"Oh, begitu...." Sansa mendekati ayahnya. "Baguslah, Daddy punya sekretaris yang sangat baik. Tunangan Kate pasti bahagia sekali memiliki wanita yang perhatian seperti Kate." raut wajah Dorian langsung berubah saat mendengar ucapan Sansa, seolah ia menyadari kalau perhatian Kate sekarang tidak akan berarti apa-apa.


"Oh ya, Dad. Sebenarnya aku datang hanya...."ucapan Sansa terhenti saat ia merasakan sesak di dadanya, Sansa langsung memegang dadanya itu dan wajahnya meringis kesakitan.

__ADS_1


Dorian yang melihat itu langsung menghampiri Sansa.


"Sansa...." pekik Dorian panik. "Sansa, kamu tidak apa-apa? Sayang...." Sansa hanya bisa menatap ayahnya dengan nanar, rasanya begitu sesak, ia kesulitan bernapas bahkan ia tak bisa bersuara.


"Alex...!" teriak Dorian lantang.


"ALEX!!! " ia kembali berteriak memanggil menantunya itu.


Alex yang mendengar teriakan Dorian pun langsung pergi ke dapur dan ia sangat terkejut melihat Sansa yang sudah tak berdaya dalam pelukan Dorian.


"Sa-Sansa...."


"Panggil ambulance! Sekarang!"


...* **...


"Aku minta maaf atas apa yang aku katakan," ujar Emily pada Samuel.


Saat ini keduanya sedang berada di taman, duduk saling membelakangi. Emily kesal dengan Samuel yang keras kepala, sedangkan Samuel kesal dengan Emily yang seolah tak memikirkan harga dirinya sebagai seorang lelaki.


Emily beranjak dari tempat duduknya kemudian ia duduk di samping Samuel, Emily menyenderkan kepalanya di pundak kekasihnya itu yang membuat rasa kesal Samuel mereda.


"Aku juga minta maaf," ucap Samuel kemudian ia mengecup kening Emily. "Bukan maksudku tidak menghargai bantuanmu, hanya saja, semuanya akan berbeda jika aku mendapatkannya dari kerja kerasku."


"Iya, aku baru mengerti itu, Sansa sudah menjelaskannya panjang lebar," jawab Emily sambil terkekeh.


"Dia membawa pengaruh baik untukmu," kata Samuel dan Emily tertawa kecil. "Tapi kamu membawa pengaruh buruk untuknya." lanjutnya yang membuat Emily langsung mengerucutkan bibirnya.


"Pengaruh buruk bagaimana? Kami sahabat, saling membantu dalam segala situasi dan kondisi," sanggah Emily.


"Sansa itu gadis yang polos, tapi kamu selalu menceritakan tentang kegiatan ranjang kita padanya." Emily terkekeh dan menampilkan wajah tak berdosanya.


"Itu sebagian dari ilmu yang harus dia pelajari dan akan sangat bermanfaat untuknya, itu bukan pengaruh buruk namanya, Sam. Tapi berbagi ilmu dan pengalaman," tutur Emily panjang lebar yang membuat Samuel gemas. Ia memencet hidung Emily dengan gemas yang membuat Emily langsung mengerang kesal.

__ADS_1


"Sam...."


"Dasar, gadis nakal," kekeh Sam. "Ini sudah malam, ayo! Aku antar kamu pulang." Samuel menarik Emily namun gadis itu masih tak bergeming, ia memberengut dan menatap Samuel dengan manja.


"Masih mau disini, Sam. Mau sama kamu dulu," rengeknya manja.


"Ini sudah malam, Honey. Nanti kamu masuk angin, selain itu, besok kamu ada kelas pagi."


"Oh ya!" pekik Emily. "Besok aku juga ada urusan dengan Sansa."


"Urusan apa?" Samuel bertanya penuh curiga, karena jika kedua gadis itu sudah bersama, maka pasti ada yang tidak beres.


"Merebut tunangan orang."


"Hah?!"


...***...


Sementara di rumah sakit, Alex dan Dorian hanya bisa mondar-mandir di depan ruang ICU.


Keadaan Sansa yang tiba-tiba drop seperti ini membuat kedua pria paruh baya itu seperti terkena serangan jantung juga. Apalagi sebelumnya Sansa sehat, baik, dan mereka yakin Sansa tidak sedang tertekan.


Dorian terus berdo'a dalam hati agar putrinya baik-baik saja, bahkan rasanya ia ingin menangis setiap kali Sansa jatuh sakit seperti ini. Namun saat Dorian melirik Alex, Dorian tercengang karena Alex ternyata sudah menangis.


Pria itu mengucek matanya dengan lengan bajunya, berusaha tegar namun air mata kembali menetes.


Alex sangat ketakutan, ini sudah kedua kalinya ia melihat Sansa drop dan itu seperti sambaran petir untuknya.


"Heh...." Dorian menjitak kepala Alex. "Jangan menangis, bodoh! Malu di lihatin cicak," ujar Dorian dengan suara bergetar, padahal kedua matanya sendiri sudah memerah dan berkaca-kaca.


"Dia istriku, sialan! Apa yang kamu lakukan padanya sampai dia pingsan?" Tanya Alex, kembali ia mengucek matanya yang terasa Panas.


"Aku juga tidak tahu, dia berbicara padaku, tapi tiba-tiba dia kesakitan, aku ... aku ... aku bingung, aku takut, aku...." Dorian meracau tidak jelas karena ia pun sangar ketakutan. Sansa adalah hidupnya, belahan jiwanya, ia tidak akan sanggup jika harus menghadapi kondisi Sansa yang seperti ini.

__ADS_1


Alex menarik Dorian dan memeluknya, kedua pria itu saling menguatkan." Semuanya akan baik-baik saja, tidak akan terjadi sesuatu pada Sansa, aku yakin."


Tbc...


__ADS_2