
Jam menunjukan pukul 1 dini hari, Alex dan Dorian masih setia menunggu Sansa yang masih belum sadarkan diri dan Dokter menyarankan agar Sansa di operasi secepatnya.
Tentu saja Dorian dan Alex langsung setuju dan meminta mereka menangani Sansa sebaik mungkin.
"Aku benar-benar takut," kata Dorian dengan suara bergetar, apalagi saat ia mengingat mendiang istrinya yang juga meninggal karena penyakit jantung setelah operasi.
"Sansa tidak akan bernasib seperti Malvina, aku yakin itu," gumam Alex yang sebenarnya meyakinkan dirinya sendiri, karena ia pun juga sangat ketakutan. "Dokter sendiri yang bilang, penyakit Sansa tidak sampai separah penyakit Malvina, jadi peluang sembuh pasti lebih besar. Kita berdo'a saja." ucapnya namun Dorian enggan menanggapi, ia hanya bisa tertunduk lemas tak berdaya.
Sansa di jadwalkan akan melakukan operasi besok pagi, dan malam ini Alex juga Dorian akan tetap tinggal di rumah sakit.
"Kamu bilang, Sansa akan seperti ini jika dia tertekan, tapi kenapa Sansa drop sekarang? Bukankah dia sangat bahagia? Apa yang salah?" Alex bertanya seolah ia tidak bisa menerima keadaan ini.
"Namanya juga penyakit, bisa kambuh kapan saja, tidak ada yang tahu," kata Dorian lesu.
Mata kedua pria paruh baya itu sudah begitu sayu, mereka lelah juga cemas, dan yang mereka bisa lakujan hanya sedikit mengobrol untuk mengurangi sedikit saja ketegangan mereka.
"Sekarang rasanya lebih baik, ada kamu yang menemaniku," ucap Dorian lirih. "Sementara dulu, aku menjaga Sansa sendirian, aku ketakutan sendirian, aku ingin memberi tahumu tentang keadaannya tapi dia melarangku, dia bilang dia yang akan memberi tahumu," tutur Dorian panjang lebar sambil tersenyum masam mengingat masa-masa itu.
"Seharusnya kamu memberi tahuku, jika sampai terjadi sesuatu padanya sementara aku tidak tahu, aku bisa gila," ujar Alex.
"Aku fikir kalian dekat seperti ayah dan anak, tapi ternyata aku salah, kalian menjalani kisah cinta terlarang di belakangku." Alex terkekeh mendengar kata-kata Dorian.
__ADS_1
"Terlarang dari mana? Dia hanya anak dari temanku, bukan anak dari saudaraku. Jadi sangat wajar kalau kami menjalani hubungan ini, lagi pula, berhenti menyalahkanku. Aku dan Sansa dekat juga karenamu, kamu yang selalu mengantarnya ke rumah."
"Mau bagaimana lagi? Tidak mungkin aku membawanya bekerja keluar kota, dan aku hanya percaya padamu." lagi-lagi Alex tertawa karena apa yang di katakan Dorian.
"Oh ya, tadi Sansa katanya ingin mengatakan sesuatu padaku, apa itu tentang sesuatu yang penting?" Tanya Dorian karena ia takut mungkin hal itu yang menyebabkan Sansa setres sampai drop.
"Dia ingin membantu perusahaan Elaine yang sedang bermasalah," lirih Alex. "Dia tidak mau aku berurusan lagi dengan Elaine jadi dia bilang dia akan menyuruhmu yang membantunya"
Dorian menghela napas panjang dan mengangguk mengerti.
"Setelah Sansa sembuh, ayo kita jalan-jalan ke luar negeri, kita bawa Sansa senang-senang."
"Rencanaku memang seperti itu."
Hari ini Emily tampak semangat, selain karena ia dan Samuel sudah baikan, Emily juga tidak sabar untuk menjalankan aksinya bersama Sansa untuk merebut tunangan orang.
Nakal?
Anak muda selalu menyukai hal-hal yang berbau tantangan.
Namun sesampainya di kampus, Emily tidak melihat Sansa disana. Ia sudah menunggu di kelas namun wanita itu tidak juga terlihat batang hidungnya.
__ADS_1
Emily mencoba menelfonnya namun ponselnya tidak aktif, ia pun mencoba menghubungi nomor telepon rumah Sansa, tak ada yang menjawab.
Emily mulai cemas, apalagi saat ia juga tak bisa menghubungi Alex dan Dorian. Tanpa fikir panjang, Emily beranjak dari kursinya dan di saat yang bersamaan, Mr. Robert datang.
"Emily, kembali ke kursimu, kamu mau kemana?" Tanyanya.
"Mau kerumah Sansa, Alex sakit," jawab Emily asal kemudian ia berlari keluar dari kelas tanpa memperdulikan teriakan dosennya yang meminta Emily kembali.
Emily melajukan mobilnya menuju rumah Sansa dan sesampainya disana, Emily tidak melihat siapapun sementara lampu di rumah itu masih menyala.
"Apa dia sakit lagi? Tapi bagaimana bisa? Kemarin dia baik-baik saja," gumam Emily cemas. Ia kembali ke dalam mobil dan kemudian melajukan mobilnya menuju rumah sakit tempat biasa Sansa di rawat.
***
Alex menandatangani surat persetujuan untuk operas Sansa, tangannya gemetar dan jantungnya berdetak kencang.
"Kalian harus membuatnya sembuh, awas saja kalau sampai istriku kenapa-kenapa," desis Alex yang membuat Dorian langsung menepuk kepalanya.
"Aku tidak pernah mengatakan itu pada Dokter Malvina dulu, semua ada di tangan Tuhan, jadi berdo'a lah," ujar Dorian
"Juga di tangan Dokter!" sanggah Alex. "Dan satu hal lagi, aku sudah membayar kalian dengan sangat mahal, aku tidak mau tahu pokoknya Sansa harus sembuh! Dan jika tidak, aku akan menuntut kalian semua."
__ADS_1
Dokter dan Suster tentu hanya bisa mengangguk mendengar ucapan Alex yang penuh penekanan itu.
...Tbc... ...