
"Ueekk...."
"Ueeekk...."
Dengan sengaja aku memasukan jariku ke dalam tenggorokan kemudian aku berusaha memuntahkan isi perutku, dan dengan sengaja aku lakukan ini di dapur untuk memancing perhatian Daddy.
Ku dengar langkah kaki yang mendekat dan aku tahu itu pasti Daddy, aku kembali melancarkan aksiku dengan terus berpura-pura mual bahkan muntah.
"Sansa! Ada apa?" Daddy langsung menghampiriku dan ia memijat tengkuk ku.
"Dad, aku rasa...." Aku memegang kepalaku sebelum akhirnya aku menjatuhkan diri, Daddy dengan sigap menangkap tubuhku dan membawaku ke kamar.
Aku memejamkan mata dengan erat, berharap rencana ini berhasil. "Oh Tuhan! Sansa, apa yang terjadi denganmu," gumam Daddy dan suaranya terdengar sangat cemas.
Oh, Dad. Maafkan aku, aku terpaksa melakukan ini.
Setelah Daddy menidurkanku di ranjang, aku membuka sebelah mataku, mengintip Daddy dan ku lihat dia menghubungi Dokter.
"Sansa sayang...." Daddy duduk di sampingku, ia mengelus kepalaku dengan lembut kemudian mengecup keningku. "Bangun, Sayang," ucap Daddy lirih.
Perlahan aku membuka mata. "Dad...." rengekku seolah aku sedang sangat lemah.
"Hey, akhirnya kamu bangun juga, Sayang. Kamu pusing? Sesak napas? Atau sakit kepala?" Cecar Daddy, bisa ku lihat kecemasan dan ke khawatiran di matanya.
"Aku mual, Dad. Kepalaku pusing," jawabku.
__ADS_1
"Sebentar lagi Dokter datang, Sayang."
Tak lama kemudian terdengar suara bel pintu. "Apa Dokter datang secepat itu?" Gumam Daddy segera beranjak dari tempatnya untuk membuka pintu.
Aku hanya tersenyum tipis, dan dalam hati aku terus berdo'a semoga rencanaku ini berhasil.
Tak lama kemudian Daddy datang bersama seorang wanita yang memakai jas Dokter, dan juga tentunya ada Emily.
Aku tersenyum saat Emily mengedipkan sebelah matanya padaku. "Sayang, biar kau diperiksa Dokter dulu ya," kata Daddy dan aku mengangguk. "Oh ya, Emily datang untuk menemuimu." lanjutnya.
"Hai, Emi...." sapaku, padahal aku yang memintanya datang kesini, aku menghubunginya menggunakan telfon tetanggaku saat Daddy masih tidur tadi pagi dan aku merencanakan kejutan ini bersamanya.
"Sejak kapan kau merasa mual, Nona Turner?" Tanya Dokter.
Dokter itu memeriksaku, dan ku lihat Daddy yang tampak mencemaskanku. Oh, Dad. Ini baru awal, aku harap kau tidak pingsan setelah ini dan aku bersyukur kau tidak punya penyakit jantung sepertiku.
Setelah melakukan pemeriksaan, Dokter tersenyum padaku kemudian berkata, "Selamat ya, Nona Turner. Kau sedang hamil."
"APA?!" pekik Daddy, ia menatap Dokter itu kemudian menatapku dengan tajam.
"Sansa! Bagaimana bisa....?"
"Hikss...." Aku menundukan kepalaku, menunjukan raut wajah penyesalan dan rasa bersalah pada Daddy yang ku buat-buat. "Maafkan aku, Dad," lirihku.
Namun Daddy tiba-tiba bergegas keluar dari kamarku, aku, Emily dan Dokter langsung mengejarnya.
__ADS_1
"Dad! Mau kemana?" Teriak ku namun Daddy seolah tak mendengarku, ia melangkah cepat dan lebar.
"Daddy....." Aku kembali berteriak saat dia masuk ke dalam mobil.
"Oh sial! Rencana berhasil tapi Alex dalam bahaya," tukasku antara senang dan cemas.
"Ayo pergi dan selamatkan pangeran tuamu itu," tukas Emily.
"Oh ya, terimakasih sudah membantu," ucapku kemudian pada Dokter palsu yang di sewa Emily itu. "Bayarannya nanti ya," ucapku sembari masuk ke dalam mobil Emily dengan terburu-buru.
Dan di saat yang bersamaan, Dokter yang asli datang namun aku tak memperdulikannya.
"Ayo cepat, Emi!" seruku pada Emily.
"Sabar, Honey," jawab Emily.
"Hufff, ini menegangkan," ucapku kemudian. "Aku kasihan sebenarnya pada Daddy, dan aku mengorbankan Alex di sini, Daddy pasti akan menghajarnya habis-habisan."
"Itu tidak masalah, Honey. Semua adil dalam perang dan cinta."
Yeah, semua adil dalam perang dan cinta.
...Tbc.... ...
__ADS_1