
Tuan Bose tidak bisa menemani Emily mengurus pernikahannya di karenakan ia sedang sibuk dengan segala pekerjaannya yang menuntut untuk segera di selesaikan.
Dan saat ini, ia sedang berada di perusahaan rekan bisnisnya untuk membicarakan kerja sama mereka yang akan diperluas.
Mereka berbincang dengan sangat serius, menyusun rencana sebaik yang mereka bisa.
"Sebenarnya, aku ingin mengenalkanmu pada temanku, dia seorang investor yang sudah sangat terkenal dan sukses. Dia berinvestasi di sejumlah perusahaan besar, dia pemilik saham terbesar di London. Semua orang mencarinya."
"Oh ya? menarik sekali," ujar tuan Bose. "Mungkin lain kali kau bisa aturkan waktu agar aku bertemu dengannya."
"Sekarang agak sulit untuk bertemu denganya sejak dia menikah."
"Apa dia masih muda?"
"Tidak, usianya sudah hampir 46 tahun. Tapi dia menikah lagi dengan putri temannya, itu lucu tapi entah kenapa aku juga bahagia dengan pernikahan mereka." rekan bisnis tuan Bose itu terkekeh, kemudian ia melanjutkan. "Mereka terlihat saling mencintai dan saling menjaga, itu adalah bukti bahwa cinta itu tak bersyarat."
"Benakah? Aku jadi penasaran, bagaimana bisa pernikahan itu terjalin."
"Istrinya masih muda, mungkin seusia putri mu, aku punya fotonya. Kau ingin melihatnya?"
__ADS_1
"Yeah, tentu. Aku penasaran." rekan bisnis tuan Bose itu pun menunjukan foto yang ia simpan di ponselnya.
Dan betapa terkejutnya tuan Bose saat mengetahui siapa yang ada di foto. Sansa Turner dan Alexander Ghan.
"Tunggu, kau yakin itu... Istriya?" ia bertanya terbata-bata, berharap itu bukanlah Sansa sahabat putrinya.
"Iya, Sansa Turner. Dia masih muda, cantik dann tentu pintar. Aku pernah beberapa kali bertemu dengannya, dia juga putri kesayangan Dorian."
Tuan Bose tak tahu harus berkata apa, karena ini sungguh sangat mengejutkan. "Apa dia punya keluarga lain? Keponakan misalnya?" Tanyanya kemudian.
"Tidak, dia tidak punya keponakan. Dia bahkan tak punya saudara."
"Aku dengar, orang hamil muda itu mual dan selera makannya hilang. Tapi kenapa kalian makannya rakus sekali," ujar Samuel yang saat ini sedang memperhatikan Sansa dan Emily yang makan dengan sangat lahap.
"Kami mual hanya sesekali, dan hanya ada sebagian makanan yang tidak kami sukai. Tapi sebagiannya lagi, kami sangat menyukainya. Bahkan kami akan makan dengan rakus," jawab Emily panjang lebar dan Samuel hanya mengangguk-anggukan kepalanya.
Sansa dan Emily pun sibuk memakan makanan yang baru saja mereka beli di restaurant saat di perjalanan pulang.
Setelah selesai makan, Sansa dan Emily tiduran di sofa sembari menepuk perut mereka yang sudah sedikit buncit, bukan karena hamil, melainkan karena tertumpuk dengan makanan junk food.
__ADS_1
"Kalau Alex dan Daddy tahu aku makan junk food, Mereka Pasti marah," gumam Sansa.
"Hanya sekali, semoga mereka tidak marah," balas Emily.
Terdengar suara bel apartment yang di pencet beberapa kali, seolah sang tamu tak sabar ingin segera di bukakan pintu.
"Biar aku yang buka, biar makanan di Perutku turun," kata Sansa dan Emily hanya mengangguk, setelah kencang sekarang ia jadi malas bergerak dan justru mengantuk.
Sansa membuka pintu dan ia sangat terkejut karena yang datang tuan Bose.
"Uncle..." lirih Sansa.
Tuan Bose tampak sangat marah, kedua matanya melotot dan itu membuat Sansa bergidik ngeri.
Dan tanpa berbicara sedikitpun, Tuan Bose menarik tangan Sansa ke dalam, bahkan ia mencengkram tangan Sansa dengan keras sampai membuat Sansa meringis kesakitan.
"Dad, lepaskan Sansa!" Seru Emily yang melihat sang ayah menyeret sahabatnya itu.
"Aku sudah tahu kebohongan kalian semua! Dan itu pasti otaknya adalah kamu, Sansa Turner!" Seru ayah Emily marah bahkan ia melempar Sansa dengan keras hingga membuat Sansa jatuh dan perutnya menabrak ujung sofa.
__ADS_1
"Sansa!" Pekik Emily.