
...POV Alexander Ghan (New York, USA)...
Aku tersenyum saat membaca pesan dari kekasihku ini, yang terus mengingatkanku agar tak menghabiskan banyak waktu bersama Elaine, mantan istri sekaligus mitra bisnisku.
Yang membuatku selalu ingin tertawa, Sansa yang terus memanggil Elaine dengan wanita tua yang sudah uban, padahal warna asli rambut Elaine memang putih sejak lahir.
Sudah beberapa hari aku di New York dan aku sangat merindukan Sansa-ku, belahan jiwaku.
"Aku harap kau bisa datang malam ini, aku menunggu." Aku mendongak saat mendengar ucapan Elaine.
Saat ini kami sedang berada di restaurant tempatku menginap untuk membicarakan bisnis.
Pernikahanku dan Elaine berjalan selama 7 tahun, alasan kami bercerai karena kami sama-sama merasa tidak cocok menjadi pasangan tapi kami menjadi teman yang baik dalam bisnis, kami berpisah secara baik-baik.
Dan malam ini aku di undang ke acara ulang tahunnya yang ke 41, di usianya yang sudah berkepala 4 ini, dia masih terlihat sangat cantik.
Saat aku mengagumi kecantikannya, ponselku bergetar, aku membuka pesan yang masuk dan aku tersenyum.
^^^My Little girl^^^
^^^"Jangan terpesona pada wanita lain apalagi pada si tua yang berambut uban itu!"^^^
Astaga, kekasihku ini sangat posesif dan aku suka itu.
"Aku akan datang," ucapku kemudian pada Elaine dan Elaine pun tersenyum senang.
"Padahal kau bisa tinggal di salah satu apartementku, Alex. Kenapa kau harus repot-repot tinggal di hotel?" Tanya Elaine lagi.
Sejak aku sampai di kota ini, Elaine sudah memintaku agar tinggal di apartementnya saja, namun aku menolak, karena jika gadis kecil itu tahu, dia akan sangat menyiksaku.
"Tidak apa-apa, aku lebih suka di hotel," jawabku kemudian sambil tersenyum. Dan kembali aku mendapatkan pesan dari Sansa yang seketika membuatku terkekeh.
^^^My Little Girl^^^
^^^"Jangan tersenyum pada mantan istrimu! Nanti dia salah faham dan mengira kau masih mencintainya, karena wanita terkadang begitu."^^^
__ADS_1
"Kau punya kekasih?" Tanya Elaine tiba-tiba yang membuatku sedikit terkejut sementara Elaine justru tersenyum. "Sejak tadi kau senyum-senyum terus dengan ponselmu, siapa dia, hm? Aku mengenalnya?" Tanya Elaine menggodaku.
"Tidak," jawabku "Tapi dia mengenalmu dan sangat cemburu padamu." Elaine langsung menaikkan alisnya mendengar jawabanku.
"Kenapa? Apakah dia lebih tua dariku?"
"Lebih muda."
"London atau New York?"
"London."
"Rambut putih atau?"
"Cokelat keemasan."
Dan kami pun tertawa bersama karena topik ini, aku ingin jujur pada Elaine bahwa wanita itu anak dari sahabatku. Yang telah aku kenal sejak ia di lahirkan, bahkan sering di titipkan padaku, namun aku belum siap.
Setelah selesai membicarakan bisnis, Elaine mengajakku jalan-jalan di kota indah ini dan aku pun tak menolak karena aku memang tidak punya kegiatan lain setelah ini.
^^^My Little Girl^^^
^^^"Wanita biasanya akan merayu laki-laki dengan cara mengajak jalan-jalan, makan atau minum kopi bersama. Aku harap mantan istrimu tak melakukan itu atau aku akan menangis dan hanya akan berhenti saat kau kembali."^^^
Astaga! Apakah setakut itu ia kehilanganku?
"Mungkin lain kali, Eli," tukasku kemudian pada Elaine.
"Kenapa?" Tanya Elaine.
"Kekasihku ingin berbicara," jawabku yang membuat Elaine langsunng mengernyitkan keningnya namun kemudian ia tersenyum geli.
"Wow, cinta yang luar biasa, Alex. Aku mengerti, sampai bertemu nanti malam.
...***...
__ADS_1
Kini aku sudah kembali ke kamar hotelku dan aku langsung video call Sansa yang langsung di jawab olehnya, dan akupun di cecar berbagai macam pertanyaan yang membuatku bingung harus menjawab yang mana.
"Kenapa kau hanya diam saja? Jawab aku!" Serunya dengan menekuk wajahnya itu dan bibirnya mencebik lucu.
Ah, Sansa! Jika saja kau disini, aku sudah akan mencium bibir mu sampai kau kehabisan napas.
"Aku baru saja meeting dengan Elaine, Little girl. Dan setelah selesai, aku langsung kembali ke kamar," jawabku.
Sansa terlihat menarik napas berat dan tatapannya sendu.
"Ada apa?" Aku bertanya dengan lembut.
"I miss you," ucapnya dengan nada yang membuat hatiku berbunga-bunga.
Demi Tuhan! Aku adalah pria tua yang lebih pantas menjadi ayahnya, namun Sansa selalu berhasil membuatku merasa seperti remaja.
"Oh, I miss you more, my little girl," ucapku.
"I want to kiss you," rengek Sansa dan aku pun mendekatkan bibir ke kamera seolah meminta dia mengecupku, dan dia pun mendekatkan bibirnya ke kamera.
"Tunggu aku, sebentar saja," ucap ku kemudian.
"Tadi ada Emi datang kerumah," ucapnya kemudian yang langsung membuatku menatap Sansa dengan serius.
Ah, Emily. Gadis itu membawa virus yang tak baik untuk kekasihku, dan setiap kali Sansa mengucapkan namanya, aku tahu ada yang tidak beres.
"Lalu? Aku harap dia dan kekasihnya tidak meminjam kamarmu untuk bercinta," tukasku yang seketika membuat Sansa tertawa geli.
"Samuel tidak ikut datang, jadi tadi Emi meminjam kamar mandiku dan aku mendengar suaranya yang...."
"Oh Gosh!" Pekikku yang sudah mengerti kemana arah pembicaraan Sansa, sementara gadis ku ini justru cengengesan.
"Alexander, can we do as they do?" Godanya yang membuatku hanya bisa menganga.
"Aku akan menghukummu nanti," geram ku dan dia justru tertawa lebar.
__ADS_1
...Tbc... ...