
...POV Alexander Ghan...
Aku memeluk Sansa dari belakang, aku mengecup lehernya, menghirup aroma lavender yang menguar dari tubuhnya.
Saat ini ia sedang membuat cokelat hangat dan itu adalah kebiasaannya, sebelum tidur ia akan meminum susu, seperti anak kecil saja.
"Sansa...." panggilku dengan suara serak, aku menggesekan pusat tubuhku yang kembali menegang saat melihat Sansa dalam balutan piyama berbahan satin yang membentuk lekuk tubuhnya dengan sangat sempurna.
"Emmm...." Sansa mengerang lirih dan erangannya itu semakin mengusik jiwa lelakiku. Aku menyelipkan tanganku di bawah ketiaknya kemudian aku meraba dadanya yang terasa Kenyal dan pas di tanganku itu sementara Sansa kini sedang meminum susu cokelatnya.
"Oh, Alex!" erangnya saat aku menekan puncak mungil itu, Sansa menyandarkan kepalanya ke dadaku, napasnya mulai memburu saat aku memainkan kedua dadanya dengan begitu intens sementara aku menekan bukti gairahku ke bokongnya.
"Emmm, Baby. Do you feel hot?" Ia bertanya dengan suara serak bahkan setengah mendessah.
"Yes, Sweetheart," jawabku sembari membuka kancing piyamanya satu persatu hingga benda mungil dan kenyal itu kini keluar.
__ADS_1
"Kalau begitu...." Sansa menjauhkan tanganku dari mainan baruku itu, yang seketika membuatku mendesah kecewa. "Ayo kita ke kamar dan nyalakan AC," ucapnya sambil terkekeh.
Dia berjalan hendak melewatiku namun aku mencegahnya dan aku letakkan tanganku pada pusat tubuhnya kemudian dengan sensual aku berbisik di telinganya. "Aku yakin, disini pasti berkedut dan sudah basah."
"Alex...." rengek Sansa. "Jangan menggodaku, aku benar-benar masih kesakitan, Baby. Kau menggempurku tanpa ampun," cetusnya yang membuat aku langsung tertawa geli.
"Benarkah?" Godaku sembari menekan tanganku di bawah sana, ku lihat dia menahan napas dan mengangguk. "Maafkan aku, Sweetheart. Aku lupa diri dan salahkan aku, itu semua karena dirimu. Kamu selalu membuatku gila, dan di atas ranjang, kamu benar-benar mengambil semua kawarasanku."
"Apa aku hebat di atas ranjang?" Tanyanya sembari mengalungkan lengannya di leher ku, aku memegang pinggangnya dan menariknya hingga kini tubuh kami menyatu. Ku kecup bibirnya, kemudian menjilat bibirnya yang masih menyisakan rasa cokelat.
"Aku sangat mencintaimu, aku harap kau juga mencintaiku sebesar Daddy mencintai Mommy, meskipun aku pergi, cintamu tidak pudar," ucapnya lirih dengan tatapan yang begitu sendu.
"Memangnya kemana kau akan pergi, hm? Aku tidak akan membiarkanmu pergi," tukasku.
Aku menidurkannya di ranjangku dengan lembut, kemudian aku pun berbaring di sampingnya dan memeluknya dengan erat.
__ADS_1
"Mungkin aku akan menyusul Mommy, tidak ada yang tahu usia seseorang," tukasnya yang membuatku mengernyit kan kening. Kenapa pembicaraannya jadi seperti ini?
"Maksudmu jika kau mati?" Tanyaku dan Sansa mengangguk pelan. "Jika kau mati, aku akan ikut mati, Sweetheart." Aku berkata sambil terkekeh. "Dan aku harap, aku mati lebih dulu, karena aku tidak akan sanggup bila harus hidup tanpamu," ucapku dengan serius.
"Kemungkinannya besar kau akan mati duluan karena kau sudah tua," tukas Sansa kemudian sambil tertawa.
"Aku sudah tua, tapi ini masih perkasa, 'kan?" Tanyaku sembari membawa tangan Sansa ke pusat tubuhku yang masih besar dan keras, celana yang aku kenakan tak bisa menyembunyikan tonjolan besar itu.
"Kau...." Sansa menjilati bibirnya dan ku lihat wajahnya yang merona. "Kau sangat perkasa," cicitnya. "Tapi aku mohon, jangan menggodaku, Baby. Nanti aku tidak tahan, sementara di bawah sana masih sangat perih," rengek nya kemudian.
"Sekarang apa kau tahu...." Aku membawa tangan Sansa untuk memberikan pijatan lembut di bawah sana. "Betapa tersiksa nya aku menahan goda'anmu, hm?" Anggap saja aku balas dendam dan aku puas melihat raut wajah tersiksanya.
"Kau, dasar pria tua!" desisnya kemudian ia meremas di bawah sana dengan kuat yang membuatku memekik.
"Aaucch, sakit, Sweetheart."
__ADS_1