Gairah Cinta Putri Sahabatku

Gairah Cinta Putri Sahabatku
MTDF #13 - Haruskah Menggunakan Ide Brilliant?


__ADS_3

"Sayang, buka pintunya! Kamu tidak mau sarapan? Nanti sakit," teriak Daddy sambil mengetuk pintu kamarku, aku menutup telingaku dan enggan mendengarnya.


Sejak tadi malam aku mengurung diri di kamar, aku tidak makan malam, tidak juga sarapan, tapi aku tidak kelaparan karena saat tengah malam, aku menyelinap ke kulkas untuk mengambil buah.


Aku benar-benar kesal pada Daddy sekarang, apalagi dia mengambil ponselku sehingga aku tak bisa menghubungi Alex. Oh, hatiku sedih sekali.


"Sansa! Keluar, Sayang. Kau harus makan!" Seru Daddy lagi, aku berdecak kesal. "Nanti kamu sakit, Sayang." ia membujukku dengan lembut namun aku tetap tak perduli.


"Sansa!" Teriaknya lagi yang membuatku semakin kesal.


"Biarkan saja aku sakit," Teriakku. "Daddy sudah tidak sayang padaku, Daddy egois! Daddy jahat!" Hardikku.


"Aku melakukan ini demi dirimu, Sayang. Daddy ingin kau mendapatkan pasangan yang baik, yang sejajar denganmu, bukan pria tua seperti Alex."

__ADS_1


Ufff, aku semakin kesal mendengar kata-kata Daddy itu.


"Daddy juga sudah tua!" Seru ku kesal. "Kenapa Daddy mengejek Alex karena tua? Apa Daddy  tahu? Pria tua seperti Alex itu akan menjadi suami yang baik untukku, dia baik, bertanggung jawab, dan mampu mengimbangi aku yang  belum dewasa. Aku nyaman berada di sampingnya, Dad," rengekku panjang lebar, entah bagaimana caranya aku membuat dia mengerti tentang cintaku ini.


"Jangan gila kamu, Sansa! Bagaimana bisa kau berfikir akan menikah dengan sahabat ayahmu sendiri?"


"Tentu saja bisa, karena aku mencintainya," balasku.


Tak lagi terdengar suara Daddy, apa dia pergi? Di saat kami sedang berdebat sengit seperti sekarang? Ah, Daddy tidak seru.


"Kau masih kecil, Sansa. Kamu tidak mengerti apa itu cinta dan pernikahan," tukas Daddy yang membuatku mendelik kesal. "Daddy tahu, kau mengagumi uncle Alex, kau juga sangat dekat dengannya dan kau pasti sangat sayang padanya, dan sepertinya kamu salah faham akan hal itu, Sayang. Itu bukan cinta yang bisa membawamu ke jenjang pernikahan."


Aku menghela napas berat mendengar ucapan Daddy yang tak juga mempercayai cintaku, aku pun duduk bersila dan bersender di pintu.

__ADS_1


"Kalau begitu, beri tahu aku, Dad. Cinta apa yang benar menurutmu? Yang bisa di bawa ke jenjang pernikahan?" Tanyaku namun selama beberapa saat, Daddy tak menjawab.


"Apakah harus seumuran?" Tanyaku lagi. "Baiklah, kalau begitu aku akan melakukan survey ada berapa manusia yang menikah dengan perbedaan usia yang sangat jauh, akan aku serahkan datanya pada Daddy," sinisku.


"Tapi Alex itu sahabat Daddy, Sansa." Aku kembali berdecak kesal mendengar pembelaan Daddy.


"Apa ada hukum yang tidak memperbolehkan seorang gadis menikah dengan sahabat ayahnya?" Aku kembali menantang Daddy. "Dia sahabatmu, Dad. Bukan saudara kandungmu."


"Berhenti bersikap gila, Sansa!" Seru Daddy kesal kemudian ku dengar suara langkah kaki yang menjauh dari kamarku.


Aku membuka pintu dan mengintip keluar, aku melihat Daddy berjalan menuju kamarnya.


"Huffff...." Aku menghela napas berat, kemudian aku keluar dari kamar, aku ingin menghubungi Alex lewat telfon rumah, tapi... "Astaga, Daddy...." geramku karena telfon rumah tiba-tiba menghilang. "Seriously? Daddy akan memisahkanku dari Alex? Oh, aku rasa saatnya menggunakan ide brilliant agar Daddy membiarkan kami menikah."

__ADS_1


...Tbc... ...


__ADS_2