
Curiga dengan keadaan dirinya yang memang sudah telat datang bulan, di tambah dengan apa yang di katakan Kate, Sansa meminta Alex mengantarkannya ke Dokter untuk memeriksakan diri. Dan benar saja, Dokter menyatakan dirinya hamil. Tentu Sansa sangat senang, namun tidak dengan Alex. Karena ia tahu, dalam keadaan Sansa yang masih dalam masa pemulihan, kehamilannya bisa saja mengancam nyawa Sansa.
Dan ketidak senangan Alex itu membuat Sansa sangat kesal, marah dan merasa sangat kecewa. "Dengar, Sweetheart. Kamu bisa hamil, tapi tidak sekarang. Nanti saja, ya? Sekarang kamu masih dalam pemulihan," bujuk Alex.
"Lalu kamu mau apa? Mau aku menggugurkan kandungan ini?" Desis Sansa dan tanpa ragu Alex mengangguk.
Sansa tercengang, tak percaya atas jawaban Alex, bahkan air mata menetes dari sudut matanya. "Kamu mau bunuh anak kita?" Desis Sansa dengan suara tercekat.
"Bukan begitu, Sansa. Hanya saja..."
"Aku ibunya, aku yang mau mengandung dan aku mau melahirkannya!" ujar Sansa penuh penekanan yang membuat Alex tak tahu lagi harus berkata apa.
Apalagi ia tahu, Sansa sangat menginginkan kehadiran bayi sejak dulu.
__ADS_1
"Sweetheart...." Alex mencoba menyentuh pundak Sansa namun Sansa menepis tangan suaminya itu dengan kasar. "Ini demi kebaikanmu, Sayang. Aku mohon...." bujuk Alex namun ia Sansa enggan mendengarkan, ia melenggang pergi begitu saja menuju mobilnya.
Saat hendak masuk ke dalam mobilnya, Sansa melihat mobil Emily, ia pun menghampirinya dan mengetuk pintu mobil.
"Emi! Kamu kenapa?" Tanya Sansa yang melihat wajah Emily sebab, bahkan sisa air mata masih tampak jelas di pipi Sansa. Ia pun masuk ke dalam mobil saat melihat Alex datang menyusulnya.
"Ayo Pergi dari sini, Emi! Aku sedang marah!" Ujar Sansa sembari membuang ingusnya dengan tissue.
"Kamu juga nangis?" Tanya Emily dan Sansa mengangguk. "Kenapa?"
"Aku menangis juga karena aku hamil, hiks hiks...." Emily memberikan hasil pemeriksaannya pada Sansa yang membuat Sansa tercengang.
"Terus kenapa kamu menangis? Bukannya itu bagus? Biar Samuel cepat menikahimu," tukas Sansa.
__ADS_1
"Masalahnya Samuel tidak mau bayi, hiks hiks hiks...."
Alih-alih menenangkan Emily yang tangis nya semakin jadi, Sansa justru menangis terisak sambil memegang perutnya. "Alex juga tidak mau bayi, dia menyuruhku menggugurkannya, hiks hiks hiks...."
Kini Emily yang tercengang mendengar penuturan Sansa, ia menatap sahabatnya itu sambil mengucek matanya yang berkaca-kaca. "Kok bisa?" tanya Emily namun kemudian ia menyadari, bahwa Sansa masih dalam masa pemulihan.
"Honey..." Emily memeluk Sansa dengan sayang, rasanya, ingin sekali Emily menyuruh Sansa menyetujui permintaan Alex karena memang sebaiknya kehamilan Sansa di tunda untuk saat ini, namun kini Emily juga hamil dan rasanya ia tidak mau kehilangan janinnya, ia mengerti pasti itu juga yang di rasakan Sansa.
Keduanya di kejutkan dengan suara ketukan pintu.
Alex mengintip ke dalam mobil Emily dan mengetuk pintunya, meminta Sansa agar keluar karena Alex mengkhawatirkan keadaan Sansa.
Namun, Emily justru menancap gas atas perintah Sansa.
__ADS_1
Alex hanya bisa menghela napas panjang, ia tahu Sansa keras kepala dan takkan mengikuti permintaan begitu saja. "Bagiku kamu sangat berarti Sansa, aku cuma takut terjadi sesuatu padamu jika kamu hamil, kenapa kamu tidak mengerti, Sayang." Alex menggumam lirih