
Sansa hanya bisa merenung sedih karena ayahnya terlihat sangat marah, bahkan Kate pun tampak kecewa pada Sansa. Namun melihat raut wajah sedih Sansa, hatinya tersentuh, karena ia tahu, Sansa melakukan semua ini demi kebahagiaan ayahnya.
"Maafkan aku, Kate. Aku tak bermaksud menipumu meskipun aku berbohong, aku hanya kasihan pada Daddy. Sebenarnya dia mencintaimu, tapi dia menahan perasaannya karena dia takut aku tidak menerimamu. Meskipun awalnya aku memang tak suka saat mengetahui dia mencintai wanita lain selain Mommy, tapi kemudian aku sadar, kebahagiaan Daddy juga penting apalagi selama ini dia melakukan segalanya untuk kebahagiaanku. Termasuk mengizinkanku menikah dengan Alex."
Kate tak menjawab penuturan panjang lebar Sansa, ia hanya memperhatikan wajah sendu putri tirinya itu yang kini tiba-tiba tampak pucat.
Alex merangkul Sansa guna menenangkannya. "Sudah, jangan sedih. Dorian tidak marah, Sweetheart. Dia hanya sedih bad mood karena masalah perusahaan."
Sansa tidak menjawab, tiba-tiba ia merasa lemas, tubuhnya panas dingin dan gemetar, dan biasanya ia merasakan ini saat merasa tertekan atau terkejut.
Alex yang menyadari itu langsung mengajak Sansa duduk, ia memberikan air putih untuk Sansa dan kembali menenangkannya. Sementara Kate hanya bisa mengerutkan keningnya melihat kondisi Sansa.
"Ada apa, Sayang? Kamu sakit?" Tanya Kate cemas, ia menyentuh kening Sansa yang berkeringat.
"Sebenarnya ... aku lah yang tidak boleh cemas, Kate," lirih Sansa. "Aku yang sakit."
"Apa?" gumam Kate yang tampak semakin cemas. "Oh Tuhan! Bagaimana bisa?"
...****************...
Dorian sungguh tak bisa berfikir jernih saat ini, marah akan keadaan di tambah dengan kelakuan Sansa yang membuatnya semakin naik darah.
Dorian bergerak cepat, menangkap kepala keamanan di kantornya dan menyerahkannya pada polisi. Dan saat ini, Dorian sedang menyaksikan introgasi polisi yang cukup keras karena sang tersangka tak juga mengaku.
__ADS_1
"Entah karena dia takut, di ancam, atau dia di bayar sangat mahal untuk bungkam." ujar salah satu polisi disana.
"Aku tidak mau tahu, dua harus mengaku!"
...****************...
Setelah seharian sibuk dengan semua pekerjaan yang membuat kepalanya penat, akhirnya Dorian pulang.
Ia di sambut hangat oleh Kate namun Dorian mengabaikannya, ia masih berfikir Kate menikahinya hanya karena merasa kasihan dan itu membuatnya sangat kesal.
"Kenapa? Lelah?" Tanya Kate sembari memeluk Dorian dari belakang.
Dorian tak menjawab, ia menyingkirkan tangan Kate dengan dingin namun Kate justru menarik Dorian hingga keduanya terjatuh di atas ranjang. Tanpa membuang waktu, Kate langsung menduduki perut Dorian sambil tersenyum menggoda.
"Sebenarnya kamu marah kenapa? Karena Sansa berbohong? Terus kenapa aku juga kena?" Tanya Kate cemberut.
"Aku tahu kamu menerimaku hanya karena kasihan," lirih Dorian sedih seperti anak gadis yang di campakkan.
Kate terkekeh, ia tak menyangka bosnya yang hampir berusia setengah abad ini bisa menggemaskan seperti ini.
"Kata siapa? Aku memang mencintaimu, sangat. Dan kau memang benar. Aku menerimamu karena aku fikir kau sakit jantung dan mungkin akan segera mati, aku ingin menemanimu di akhir hayatmu, karena aku sangat mencintaimu. Aku tak mau hidup dalam penyesalan jika nanti kau mati dan aku belum sempat mengungkapkan cintaku."
Dorian merona mendengar apa yang di katakan Kate, ia tersenyum malu dan itu membuat Kate semakin merasa gemas.
__ADS_1
Ia pun menunduk dan mengecup bibir Dorian dengan gemas, tangan Kate meraba dada Dorian, membuat gerakan abstrak disana yang membuat tubuh Dorian langsung meremang.
Ia tak lagi muda, namun gairahnya mudah sekali terpancing sejak ia dan Kate bercinta.
"Jangan marah juga pada Sansa, kasihan dia. Dia melakukan semua ini untuk menyatukan kita, cinta kita,"lirih Kate di depan bibir Dorian, kemudian ia menyapukan bibirnya di atas bibir Dorian dengan lembut.
"Anak itu sangat nakal, dulu dia pura-pura hamil agar aku merestuinya dan Alex."
"Semua adil dalam perang dan cinta, Sayang. Penipuan, kelicikan, apapun itu. Dan Sansa bukannya nakal, dia anak yang cerdik."
...****************...
Di sisi lain, Emily harus bersedih karena keluarganya yang kaya raya itu menolak Samuel hanya karena Samuel berasal dari keluarga biasa.
Bahkan, keluarga Emily meminta Emily memilih, keluarganya atau Samuel. Karena mereka tidak sudi menerima menantu dari orang biasa.
Emily hanya bisa menangis karena kesal, marah juga kecewa karena hal itu.
Tentu ia tak bisa memilih, Emily menyayangi Samuel dan keluarganya.
Tapi, apa yang harus ia lakukan untuk bersatu dengan Samuel tanpa harus meninggalkan keluarganya?
Tbc...
__ADS_1