
Emily siap dengan tongkat bisbolnya, sementara Sansa siap dengan sapu di tangannya.
Dan....
BRUKKKKK
Emily dan Sansa langsung menubruk seseorang yang baru saja datang, bahkan Sansa langsung memukulnya dengan sapu yang di pegangnya sambil meracau, marah-marah, me maki-maki dan mengumpat. Sementara Emily, kini ia hanya tercengang, mulutnya menganga lebar, kedua matanya melotot sempurna karena yang mereka serang bukan Samuel. Melainkan...
"Aaa...ggghhh!"
"Apa-apaan ini?"
Sansa langsung berhenti menyerang saat mendengar suara seorang wanita yang mengerang kesakitan
Sementara Samuel, pria itu melongo seperti orang bodoh menyaksikan penyerangan brutal dari kekasih dan sahabatnya itu.
"Ops, salah target...." Sansa menggumam dan langsung bersembunyi di balik tubuh Emily. Sansa menunduk takut saat Samuel kini menatapnya, ia juga membuang sapu yang ia pegang, sementara Emily masih memegang tongkat bisbolnya.
"Tuan Samuel, siapa mereka?" geram wanita itu sembari merapikan rambut dan jas putih yang ia kenakan.
__ADS_1
"Maafkan saya, Dokter. Mereka ... mereka kekasihku dan sahabatku," ujar Samuel terbata-bata.
"DOKTER?" pekik Emily dan Sansa bersamaan.
"Saya akan melaporkan penyerangan ini pada polisi!" Seru Dokter wanita itu marah.
"Ja-jangan...." cegah Samuel panik. "Kau tidak terluka, Dokter. Tolong jangan laporkan mereka pada polisi, mereka tadi hanya bercanda, terkadang memang begitu," cicit Samuel sambil menggaruk tengkuknya, ia menatap Emily penuh tanda tanya.
"Sam, kenapa kamu membawa Dokter wanita ke apartment? Apa kau ... kau selingkuh?" cicit Emily dengan bibir yang sudah bergetar dan yang hidung kembang kempis.
"Aku membawanya kesini untuk memeriksa keadaanmu, Honey," sanggah Samuel. "Akhir-akhir ini kamu menunjukkan gejala yang tidak biasa, jadi aku membawa Dokter kesini untuk memeriksa."
"Ya aku tahu, Sayang. Kan kamu yang memberi tahu kalau hari ini akan kesini, makanya aku bawa Dokter nya kesini. Apalagi tadi malam aku lihat kamu sangat pucat dan lemas."
Emily menatap curiga pada Samuel, namun jika di lihat paras dokter ini, rasanya tidak mungkin dia adalah selingkuhan Samuel karena wanita itu tampaknya sudah tua, mungkin usianya di atas 30 tahun.
"Aku rasa, kekasih mu tidak sakit, Tuan Samuel. Orang sakit tidak mungkin menyerang orang lain apalagi dengan tongkat bisbol," ujar sang Dokter sambil melirik Emily dan Sansa dengan sinis.
"Ada apa ini? Kenapa kalian tiba-tiba melakukan penyerangan begini?"
__ADS_1
"Maaf," cicit Emily. "Tapi ini ide Sansa."
"Hehe... " Sansa hanya cengengesan, menampilkan gigi putihnya.
"Baiklah, sekarang lebih baik kau di periksa."
Dokter yang di bawa Samuel memeriksa keadaan Emily seperti permintaan Samuel, namun Emily masih tak berani memberi tahu bahwa dirinya sudah positif hamil.
"Bagaiamana keadaannya, Dok? Akhir-akhir ini dia sering mengeluh pusing dan mual, dia juga pucat sekali," tutur Samuel.
Sementara Sansa hanya berdiri di samping Emily, keduanya saling berpegangan tangan.
"Aku rasa dia hamil," ujar sang Dokter yang membuat kedua bola mata Samuel langsung melotot terkejut. Sementara Emily dan Sansa hanya diam saja dengan raut wajah yang datar.
"Jadi itu benar?" Samuel menggumam lirih.
"Iya, kenapa?" ketus Sansa. "Tidak mau tanggung jawab, eh? Tidak perlu khawatir, Emi tidak akan memaksa, iya kan, Emi?" Tanya Sansa namun Emily tak menjawab, hati kecilnya masih ingin Samuel bertanggung jawab.
"Kami akan membunuh mu setelah ini, kau lihat saja nanti!" racau Sansa kesal namun Samuel justru mendekati Emily, ia menggengam tangan Emily dan mengecup keningnya.
__ADS_1
"Kita menikah minggu depan."