Gairah Cinta Putri Sahabatku

Gairah Cinta Putri Sahabatku
MTDF #9 - Her Jealousy


__ADS_3

Aku tahu, kekasih kecilku marah besar karena aku tidak menjawab telfonnya juga tidak membalas pesannya saat ulang tahun Elaine. Ia tak lagi meneroroku dengan pesan manisnya, tak lagi mengangguku dengan panggilannya dan itu membuatku merasa ada yang kurang.


Ia juga tak lagi menggodaku, bahkan terkesan mengabaikanku.


Akhirnya dua minggu yang berat telah berakhir dan kini aku sudah berada di bandara internasional London. Namun tak ada yang menjemputku karena Dorian sedang sibuk, dan ia juga mengatakan bahwa Sansa ada di rumahku untuk membersihkan rumah.


Aku naik taksi menuju rumah, dan sesampainya disana. Aku melihat pintu rumah yang sedikit terbuka dan aku mendengar suara keributan di dalam, dengan penuh antisipasi, aku melangkah masuk namun aku tak melihat Sansa.


Dan apa kata Dorian? Sansa ke rumah untuk membersihkan rumah? Tapi lihatlah rumahku yang sekarang sangat berantakan, seperti sengaja di acak-acak.


"Sansa...."


"Sayang....." panggilku sembari mendekati kamarku karena dari sana aku mendengar suara gaduh, namun yang ku dapatkan sebagai jawaban justru sebuah vas bunga karet yang terlempar ke arahku dan syukurlah aku berhasil menghindar tepat waktu.


"Kenapa kau pulang, huh?" Sansa keluar dari kamarku dan ia berteriak ke arahku dan ia kembali melempariku dengan beberapa perabotan rumah, aku menghindar sebisaku.


"Kau ingat jalan pulang, eh? Aku fikir kau nyaman tinggal bersama wanita tua itu!" Hardik Sansa dengan kesal.


"Baby girl...." aku mencoba menenangkannya namun ia justru semakin menjadi.

__ADS_1


"Baby girl katamu?" Teriak nya. "Apa karena aku baby girl jadi kau lebih memilih wanita tua itu? Memberinya hadiah parfum yang akan mengingatkannya padamu? Huh? Romantis sekali, kalian juga berdansa?" Ia berkacak pinggang, hidungnya sudah kembang kempis dan ku lihat dadanya naik turun pertanda emosinya benar-benar memuncak.


Aku tercengang mendengar luapan amarahnya itu, bagaimana dia tahu aku memberi ... oh, Tuhan! Pasti dia tahu dari media sosial Elaine karena Elaine sangat aktif di media sosialnya.


"Sweetheart, dengarkan dulu penjelasanku, hem" aku kembali mencoba menenangkannya. "Dia ulang tahun, Baby girl. Hadiah itu hanya formalitas semata, tidak ada yang spesial," tukas mencoba meyakinkan namun ia masih terlihat marah.


"Kau menyebalkan sekali, dasar pria tua!" geram nya yang seketika membuatku terkekeh.


"Tapi kau tak bisa kehilangan pria tua ini, 'kan? Kau takut ada yang mengambil pria tua ini, hm?" Godaku dan dengan polosnya ia menganggukan kepala.


"Baiklah, Sayang. Jangan marah...." Aku berjalan perlahan mendekatinya." Tidak akan ada yang mengambilku darimu, aku milikmu," ucapku.


Saat aku berada di dekatnya, aku langsung menarik pinggangnya hingga ia jatuh di pelukanku. "Jiwaku, ragaku, hatiku, bahkan nyawaku, semuanya milikmu, Sayang," tukasku sembari membelai pipinya dengan lembut yang seketika membuat Sansa merona.


Astaga! Ada apa dengan para wanita? Semudah itu mereka marah dan menggila, dan semudah itu juga mereka jinak dan luluh.


"Apa kau tidak merindukankku, hm?" Tanyaku kemudian mengecup pelipisnya, keningnya, ujung hidungnya dan berakhir di bibirnya.


Oh God! Aku sangat merindukan rasa bibir Sansa-ku ini, yang begitu manis, membuatku candu seperti morfin.

__ADS_1


Aku mellumat bibir ranum Sansa dan ia menerimanya dengan senang hati, bahkan ia semakin mendesakan tubuhnya ke tubuhku, seolah ingin menyatuhkan tubuh kami.


"Aku merindukanmu," rengeknya di sela ciuman panas kami.


"Aku juga, Baby girl," balasku dan ku masukan lidahku ke mulutnya, ia mengerang saat merasakan panasnya lidahnya dan itu membuatku senang.


Aku membelit lidahnya dan ku rasakan tubuhnya yang menegang, Sansa melingkarkan lengannya di leherku, sementara tanganku memeluk punggungnya.


Oh God, aku tak sabar untuk memasukinya dari bawah sana. Dan yeah, sepertinya aku juga menginginkan seorang bayi.


Setelah beberapa menit kami melepas rindu dalam ciuman yang menggairahkan ini dan memabukan ini, kami pun sama-sama menarik diri saat merasa kehabisan napas.


Napas kami memburu, pandangan kami menggelap karena gairah yang tertahan.


"Kapan kita akan bicara dengan Daddy?" Tanyanya dengan napas yang terengah.


"Secepatnya, Baby girl," jawabku yakin dan seperti magnet, bibir kami kembali menyatu.


......Tbc.... ......

__ADS_1


__ADS_2