
Alex hanya bisa mondar mandir di depan ruang persalinan Sansa. Ia begitu gugup, takut, dan cemas. Kedua tangannya basah karena keringat, kakinya tak bisa diam dan dadanya berdebar kencang.
Dorian pun dalam keadaan yang sama, namun ia berusaha terlihat tenang dan ia memarahi Alex yang sejak tadi mondar mandir seperti setrikaan.
"Apa kau tidak bisa tenang sedikit saja?" Seru Dorian kesal.
"Tenang? Kamu menyuruhku tenang? Istriku punya jantung yang lemah, dia sedang melahirkan anak pertama kami. Kau masih menyuruhku tenang? Kamu tidak tahu apa yang aku rasakan sekarang, aku benar-benar takut, aku cemas, aku gugup." Alex berkata dengan dada yang bergemuruh dan wajah yang terlihat tegang. Namun, alih-alih menenangkan Alex, Dorian justru terkekeh, menertawakan Alex yang baru tahu rasanya menjadi ayah.
"Aku tahu apa yang kamu rasakan, apa kamu lupa bagaimana Malvina dulu melahirkan Sansa? Aku juga sangat takut," ucap Dorian yang membuat Alex langsung menatapnya dengan kening berkerut. Ia teringat kembali pada kejadian 21 tahun yang lalu, dimana Dorian seperti orang gila karena sangat mencemaskan Malvina yang akan melahirkan Sansa. Alex ada disana, menemani Dorian dan menenangkannya.
"Aku sudah pernah ada di posisimu, jadi sekarang tenang dan berdo'a lah!" Alex menjatuhkan bokongnya di kursi, ia menarik napas dalam dan meghembuskannya secara perlahan.
Sansa melahirkan secara cecar, karena keadaan jantungnya yang lemah tak memungkinkan ia melahirkan secara normal karena resikonya sangat besar.
"Aku takut, Dorian. Aku benar-benar takut," lirih Alex kemudian. Dorian merangkul pundak menantunya itu.
"Sansa dan bayinya pasti akan baik-baik saja, aku yakin itu."
"Itu benar," sambung Kate sambil tersenyum. "Kalian ini para pria, seharusnya lebih kuat dan tidak cengeng." Alex dan Dorian hanya terkekeh mendengar apa yang di katakan Kate karena memang benar, mereka selalu cengeng jika itu tentang Sansa.
Tak berselang lama Emily dan Samuel datang, mereka langsung menanyakan kondisi Sansa. "Masih di ruang operasi," lirih Alex dan bersamaan dengan itu, seorang Dokter datang dan memberi tahu bahwa Sansa dan bayinya baik-baik saja.
"Selamat ya, Pak. Putra anda lahir dengan selamat dan sehat," ucap sang Dokter yang tanpa terasa membuat Alex menitikan air matanya.
"Seorang putra?" Gumam Dorian yang juga tampak terharu.
"Iya, kalian boleh menjenguk nya setelah suster membersihkannya."
"Lalu bagaimana dengan istriku, Dok?" Tanya Alex.
__ADS_1
"Nyonya Sansa akan segera kami pindahkan ke ruang rawat, Tuan. Kau bisa menemuinya disana."
"Apa boleh aku melihat bayiku sekarang saja?" Desak Alex kemudian.
"Tapi..."
"Saya mohon, saya benar-benar ingin melihatnya." Alex begitu memelas yang membuat sang Dokter merasa tak tega.
Ia pun mengantarkan Alex ke ruangan dimana suster sedang membersihkan bayinya. Air mata Alex kembali menetes begitu saja saat melihat bayi yang masih merah itu kini sedang di mandikan. Matanya terpejam, seolah ia sedang tidur.
Alex memegang dadanya, dimana jantungnya berdetak lebih cepat, seolah ia sedang jatuh cinta.
Alex memperhatikan Suster yang kini membungkus tubuh putranya itu dengan sebuah kain.
"Apa boleh aku menggendong nya?" Tanya Alex sembari menyeka air matanya.
"Oh Tuhan! Perasaanku aneh, aku seperti... Berdebar, aku terharu," racau Alex yang tak bisa mengungkapkan kebahagiaannya dengan kata-kata.
***
Kini Sansa sudah sadar dari pingsannya, saat membuka mata, yang pertama ia lihat adalah sang suami yang tersenyum padanya sembari mengecup punggung tangannya penuh cinta.
" Kau melahirkan seorang malaikat, Sweetheart. Aku jatuh cinta padanya," ucap Alex kemudian ia mengecup kening Sansa.
"Dimana dia?" Tanya Sansa lemah.
"Di gendong sama Grandmanya," jawab Alex, perlahan Sansa menoleh dan ia melihat Kate yang sedang menggendong bayinya itu. Ayahnya, Samuel dan Emily juga sedang bersama mereka, mengerumini bayi yang baru lahir itu.
"Sayang, dia sangat tampan, mirip kakeknya," ujar Kate, ia memperlihatkan putra Sansa pada Sansa dan Sansa pun tak bisa membendung air mata penuh harunya.
__ADS_1
"Oh Tuhan! Tampan sekali," puji Sansa, ia mengecup kening putranya yang sedang tertidur itu.
"Ah, aku jadi tidak sabar ingin melahirkan juga," celetuk Emily sambil mengusap perutnya yang sudah besar itu.
"Kau ini... Yang satu menikah, yang lain ingin menikah juga. Yang satu hamil, yang lain ingin hamil juga, dan sekarang yang satu melahirkan, yang lain ingin melahirkan juga," sindir Samuel karena memang Sansa dan Emily selalu menginginkan apa yang salah satu dari mereka milik.
"Benar juga, untuk kalian tidak menyukai pria yang sama," sambung Dorian.
"Oh, tidak mungkin aku menyukai pria tua, Uncle. Soal pria, selera kami berbeda," ucap Emily.
"Aku juga tak menyukai bocah seperti Samuel, aku suka yang matang seperti Alex, rasanya benar-benar grrrr...."
Alex hanya terkekeh mendengar celetohan istri kecilnya itu, ia menarik wajah Sansa dan mengecup bibirnya.
"Grrrrrr, eh?" Tanya Alex tepat di depan bibir Sansa.
"Astaga! jangan mulai lagi!" seru Dorian kesal yang membuat semua orang terkekeh.
"Biarkan saja, Uncle. Kalau uncle juga mau, kan ada Kate." wajah Kate merona dan ia tertunduk malu mendengar celotehan Emily."Kapan bayi kalian ada? Aku harap kalian masih memproduksinya dengan rutin."
"Kami menunggu...." ucap Sansa sambil tersenyum penuh makna pada Kate. "Berikan aku adik bayi, Mom. Aku akan menyayangimu dua kali lipat!"
"Baiklah, Sayang," ucap Kate malu-malu.
"Aku ingin menggendongnya...." Sansa mengulurkan tangannya dan Kate pun meletakkan bayi Sansa di pangkuannya.
"Kita akan beri nama siapa, Sayang?" Tanya Alex sembari merangkul Sansa.
"Prince Galaxy Ghan!"
__ADS_1