
"Bagaiamana aku tidak khawatir? Aku takut kau down, seharusnya kau tidak boleh tertekan. Penyakit jantungmu bisa kambuh."
"Hah?"
Dorian hanya bisa melongo mendengar apa yang di katakan Kate, kedua matanya terbuka lebar menatap wanita yang kini menatapnya dengan cemas itu.
"Penyakit jantung apa, Sayang? Aku baik-baik saja," kata Dorian.
"Aku sudah tahu semuanya, Dorian. Aku mohon, kita pulang saja dan istirahat di rumah, ya? Kita bisa laporkan masalah ini ke polisi," ujar Kate masih penuh kecemasan yang membuat Dorian semakin bingung.
"Kate, aku....." ucapan Dorian harus terpotong saat ponselnya berdering. "Tunggu sebentar...." Dorian menjawab panggilan itu dan ia berbicara dengan sangat serius dengan orang di seberang telfon. Kate memperhatikan raut wajah Dorian yang tampak tegang, marah, kesal. Kadang keningnya berkerut dalam, kadang juga kedua pupil matanya.
Kate semakin cemas, ia segera menarik suaminya itu agar duduk di sofa dan Dorian menurut saja.
"Aku tidak mau tahu, pokoknya masalah ini harus segera selesai! Secepatnya! Apa kau tahu berapa kerugian yang bisa di alami perusahaanku karena masalah ini! Aku mau, tangkap Gorilla itu sekarang juga!"
"Kami tidak bisa menangkap seseorang begitu saja, Tuan Turner. Harus ada bukti kuat yang menyertai, atau nanti kau bisa di tuntut balik!"
"Agh! Sialan!" Geram Dorian.
"Huss, tenang, Sayang...." sela Kate. "Ini, minum dulu...." Kate membantu Dorian untuk minum dan sekali lagi Dorian menurut saja.
__ADS_1
Tak lama kemudian Alex dan Sansa datang dan itu membuat emosi Dorian sedikit mereda, ia pun segera memutuskan sambungan telfonnya dengan orang itu. "Ada apa? Kenapa kalian kesini? Katanya mau belanja," ujarnya.
"Ini...." Alex menyerahkan ponsel yang berisi rekaman bukti yang cukup kuat siapa pengkhianat di kantor Dorian.
"Astaga! Sialan! Jadi dia pengkhianatnya!" Dorian mendesis tajam.
"Yeah, aku rasa. Sebaiknya kau panggil polisi untuk menangkap pria itu, biarkan polisi yang mengintrogasinya!"
Sementara Dorian dan Alex sibuk membicarakan masalah bisnis, Kate justru mendekati Sansa dan meminta Sansa agar menenangkan ayahnya, di karenakan ia khawatir penyakit jantungnya akan kambuh.
Sansa yang mendengar pengaduan itu hanya bisa meringis sambil menggaruk tengkuk nya yang tak gatal.
"Aku sangat mengkhawatirkannya, Sansa. Mungkin kalau kamu yang bicara, dia akan mendengarkan," keluh Kate.
"Aku rasa, penderita penyakit jantung harus menghindari tekanan."
"Penyakit jantung apa?" Sambung Dorian bingung, ia menatap putri dan istrinya itu bergantian. "Sejak tadi kau berbiacara tentang penyakit jantung, Kate."
"Sebenarnya ... ehem ehem ... Kate mengira Daddy sakit jantung," cicit Sansa kemudian yang membuat Dorian melongo sementara Kate mengernyit bingung.
"Bukankah kau bilang Dorian memang sakit? Karena itulah kau ingin aku menerimanya?" Ucap Kate bingung.
__ADS_1
"Apa?" Desis Dorian, ia menatap anaknya itu penuh selidik. "Apa lagi-lagi kau berbohong demi sebuah tujuan, Sansa?" Desis Dorian tajam, ia tampak marah pada Sansa.
"Bukan begitu maksudku, Dad. Aku hanya ingin kau mendapatkan cinta yang kau inginkan, itu saja," kilah Sansa.
"Dengan terus berbohong?" lirih Dorian yang tampak sangat kecewa.
"Tunggu, sebenarnya ada apa ini? Apa Dorian tidak sakit?" tanya Kate bingung.
"Tidak, aku sehat!" Seru Dorian penuh emosi. "Apa kau menerimaku karena mengira aku sakit? Bukan karena mencintaiku?" Tanya Dorian kemudian.
"Aku...."
"Dad, Kate mencintaimu," sela Sansa.
"Tidak, Sansa!" geram Dorian kecewa. "Daddy kecewa sama kamu! Kenapa kamu selalu berbohong, huh?"
"Aku melakukan ini untukmu, Dad," cicit Sansa sambil tertunduk sedih karena ayahnya tampak marah.
Tentu Dorian marah, ia sedang tertekan karena masalah perusahaannya, dan sekarang ia harus mendapati fakta bahwa Kate menikahinya karena bersimpati, hanya karena bersimpati.
"Dorian, dengarkan dulu penjelasan Sansa," sambung Alex.
__ADS_1
"Anak ini memang sudah terbiasa berbohong, Daddy benar-benar kecewa sama kamu, Sansa!"