Gairah Cinta Putri Sahabatku

Gairah Cinta Putri Sahabatku
MTDF #6 - Sansa's Dream


__ADS_3

"Aku curiga pada kekasih tua-mu itu, aku curiga, jangan-jangan dia tidak suka pintu depan."


BUGGHHH....


Aku langsung memukul Emily dengan bantal setelah mendengar ucapannya itu. "Jaga bicaramu tentang kekasihku!" Pekikku, Alex itu sangat macho dan sudah pasti dia suka wanita dan suka masuk dari depan, bukan belakang.


Saat ini, aku sedang bersama Emily di kamarku, menikmati akhir pekan kami dengan beberapa gosip juga film.


Sebenarnya, Emily dan Samuel sudah punya janji untuk berkencan, namun aku memaksa Emily untuk menemaniku saja.


"Kau tahu? Saat Sam melihat pusarku atau belahan dadaku, dia langsung bergairah kemudian akan menarikku ke suatu tempat dan kami akan bercinta dengan sangat panas. Tapi Alex-mu itu? Ah, ada apa dengannya?" Tanya Emily mengejekku.


"Dia menghormati Daddy," jawabku sambil tersenyum kemudian aku duduk di samping Emily dan berkata, "Kami akan segera menikah dan memiliki anak. Dan jika aku pergi nanti, apa kau mau merawat anakku, Emi?" Tanyaku dengan tatapan memohon namun Emily justru menggeleng.


"Aku masih muda, aku tidak mau di repotkan dengan bayi," jawabnya. "Dan lagi pula, bayi hanya akan menganggu waktuku dan Sam. Jadi, silakan kau jaga sendiri sampai bayimu besar." lanjutnya yang membuatku merasa sedih, bukan karena Emily mengatakan tak mau merawat anakku kelak, aku tahu dia hanya bercanda. Aku sedih karena aku takut tidak bisa hidup seperti yang aku harapkan.


"Kenapa kau murung, hm? Kau tidak sungguh-sungguh akan mati secepat itu, 'kan? Aku belum membeli baju putih untuk di pakai ke pemakamanmu." Aku kembali memukuli Emily dengan bantal. Dia sangat menyebalkan, tapi sahabatku.


Kami berdua berperang bantal sambil tertawa, hingga akhirnya kami kelelahan dan menjatuhkan diri di ranjang.

__ADS_1


Aku menatap langit-langit kamarku dan fikiranku melayang pada Alex dan Daddy. "Mom berusia 22 tahun saat melahirkanku, dan tiga tahun kemudian, saat usianya 25 tahun, dia meninggal," tukasku dengan suara yang bergetar dan mata berkaca-kaca.


"Aku takut...." suara ku tercekat dan air mata langsung mengalir dari sudut mataku, Emily menarikku ke dalam pelukannya.


"Kau takut juga mati secepat itu?" Tanyanya sambil terkekeh dan aku mengangguk.


"Aku sangat ingin memiliki bayi secepatnya karena aku tidak tahu kapan aku akan menyusul Mom. Aku hanya ingin memberikan penggantiku pada Daddy dan Alex, agar mereka tidak sedih saat aku pergi nanti. That's my dream. Hiks... Hikss...."


Bukannya mengelus kepala atau punggung ku untuk menenangkan aku yang menangis, Emily justru menjewer telingaku, menariknya membuat aku kesakitan.


"Ah, Emi! Sakit," rengekku sesegukan.


"Produksi? Apa itu semacam pabrik?" Tanyaku.


"Apapun itu," jawab Emily dan kami pun tertawa bersama hingga terdengar dering ponsel Emily yang ada dalam tasnya.


Emily mengambil ponselnya itu dan seketika senyum sumringah terbit di bibirnya, aku tahu pasti Samuel yang menghubunginya.


"Yes, Baby? Ada apa?" Tanya Emily dan ku lihat keningnya berkerut, aku tak tahu apa yang di katakan kekasihya itu.

__ADS_1


"Sekarang?" Tanya Emily lagi dan pandangannya tertuju padaku.


"Emh, harus?" Tanyanya lagi dengan nada manja dan ku lihat kini matanya berbinar dan pipinya merona. Ah, aku yakin, mereka pasti membicarakan hal tidak senonoh.


"Baiklah, Honey," ucapnya sembari menggigit bibir.


"Ada apa?" Tanyaku.


"Aku pinjam kamar mandi dan tolong jangan ganggu aku," tukas Emily kemudian ia berlari ke kamar mandi.


Aku melongo, sepertinya aku tahu apa yang akan mereka lakukan.


Aku mendekati pintu kamar mandi, aku menempelkan telingaku ke pintu dan samar-samar aku mendengar dessahhan Emily.


"Oh, God! Kalian mencemariku cicak di kamar mandiku!" Teriakku namun kemudian aku tertawa geli dengan kelakuan mereka.


...***Tbc......


...Emily Y Samuel***...

__ADS_1



__ADS_2