
Aku berjalan mendekati Alex, aku bergelanyut manja di lengannya sementara tatapanku menatap sinis pada Elaine.
"Baby, aku pusing," rengekku pada Alex.
"Kamu pusing? Ya sudah, ayo kita ke kamar," ujar Alex cemas sementara Elaine tampak sangat kesal.
"Alex, aku belum selesai bicara!" Seru Elaine dengan nada tinggi.
"Aku rasa tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi, Elaine. Aku benar-benar kecewa padamu," ucap Alex penuh penekanan.
"Astaga, Alex. Aku tidak mungkin melakukan itu, kamu mengenalku dengan sangat baik, 'kan? Aku sudah menganggapmu sahabatku," tukas Elaine yang membuatku muak.
Dia benar-benar penyihir bermuka dua, ingin rasanya aku mencakar wajahnya itu.
"Jadi menurut kamu, Sansa yang berbohong, begitu?" Alex bertanya dengan tajam. "Kamu tahu, aku akan lebih percaya pada Sansa, aku tidak perduli apakah dia berkata jujur atau bohong, apapun yang dia katakan, itulah kebenarannya bagiku."
Aku terenyuh mendengar ucapan Alex, aku menatap wajahnya yang tampak tegang dan marah, rahangnya mengetat, dan tatapannya berapi-api menatap Elaine. Dan aku begitu terharu, rupanya cinta Alex padaku jauh lebih besar dari yang aku bayangkan.
__ADS_1
Sementara Elaine, wanita itu tampak sangat marah, ia menatapku dengan tajam yang aku balas dengan seringai sinis.
"Alex, setidaknya jangan campurkan urusan pekerjaan dan pribadi, kamu harus profesional, Alex!" geram Elaine lagi.
"Jangan berbicara tentang profesional padaku, Elaine. Aku tahu apa yang harus aku lakukan dalam hidupku, jadi sekarang silakan kamu pulang ke New York, cari investor lain dan aku harap kamu tidak menghubungiku lagu kecuali kalau kamu ingin meminta maaf pada Sansa."
Wow, aku terperangah mendengar ucapan Alex, begitu juga dengan Elaine.
Rasakan kau, witcher!
Alex menutup pintu dengan kasar kemudian ia membawaku ke kamar, sementara Elaine masih menggedor-gedor pintu sambil terus berteriak memanggil Alex.
"Terima kasih karena sudah sangat mencintaiku," ucapku kemudian mengecup bibirnya. "Sekarang, aku mau sembuh, Alex. Aku tidak mau meninggalkanmu dan Daddy." melihat cinta Alex yang begitu besar, tentu saja aku tak ingin berpisah darinya.
"Harus, Sweetheart. Kau harus sembuh, supaya kita bisa terus bersama sampai tua nanti, sampai kita memiliki seorang anak."
"Tentu saja, aku akan melahirkan anak yang cantik dan tampan untukmu."
__ADS_1
.........
Saat malam hari, Emily datang ke rumah untuk belajar bersama apalagi aku tidak kuliah tadi.
"Aku rasa dosen kita itu menyukaimu, dia terus menanyakanmu tadi di kampus." mendengar ucapan Emily aku langsung melongo, apalagi saat ini ada Alex di sampingku.
"Dosen yang mana?" Tanya Alex.
"Mr. Robert," jawab Emily dan seketika aku tertawa terbahak-bahak, sementara Alex justru menatapku dengan tajam.
"Kamu pindah kampus atau Dosen itu di pecat, mana yang lebih baik?" Tanya Alex dengan dingin yang membuatku melongo, begitu juga dengan Emily.
"Baby, Emi hanya bercanda," ujarku namun Alex tampaknya tak percaya. "Bang, Mr. Robert itu seorang ... gay," cicitku kemudian.
"Kamu ... serius?" Tanya Alex.
"Iya, tadi aku hanya bercanda," sambung Emily. "Justru aku curiga, sebenarnya Mr. Robert itu tidak mencari Sansa, tapi mencari orang yang sering mengantar jemput Sansa."
__ADS_1
"Maksudmu, Mr. Robert tertarik pada Alex?" Pekikku dan Emily mengangguk. "Dosen itu, awas saja nanti!"