
Sesuai janjiku pada Sansa, malam ini aku datang ke rumahnya untuk memberi tahu hubungan kami pada Dorian. Dan jujur saja, aku sangat gugup, telapak tanganku terasa dingin dan berkeringat, lututku gemetar, dan aku salah tingkah saat Dorian menemui ku.
Demi Tuhan! Aku dan Dorian sudah berteman sejak lama, puluhan tahun yang lalu, kami sudah seperti saudara dan kami tidak pernah canggung dalam masalah apapun, tapi sekarang? Aku seperti anak remaja yang akan mengajak anak gadis orang pergi ke prom night.
Sansa datang dan menyajikan minuman untuk kami. "Tumben kamu sopan dan bersikap baik, Sayang," ucap Dorian karena malam ini Sansa bersikap seperti orang dewasa, tadi ia menyambutku dengan sopan, mempersilahkanku duduk dan ia juga memakai pakaian dengan rapi. Ia sudah memberi tahuku soal ini, bahwa malam ini ia akan bersikap layaknya wanita dewasa.
"Hehe," kekasihku itu cengengesan yang membuat rasa gugupku sedikit berkurang.
Biasanya, Sansa duduk di sampingku jika aku bertamu ke rumahnya namun kali ini berbeda, ia duduk di samping ayahnya.
"Bagaiamana pekerjaanmu di New York, Alex?" Tanya Dorian.
"Lancar," jawabku sembari melirik Sansa. "Emm, sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan denganmu, Dorian," tukasku kemudian
"Tentang apa?" Tanyanya yang masih bersikap tenang dan biasa saja, aku kembali merasa gugup, aku menakutkan jari jemari ku dan kembali aku melirik Sansa yang saat ini tersenyum padaku. "Alex, kau mau bicara apa?" Tanya Dorian lagi.
"Aku...."Sansa menatapku sambil tersenyum manis, ia memberi isyarat agar aku berbicara apa adanya." Aku. .. Sebenarnya aku.... "
"Ada apa denganmu Alex? Kau seperti bujangan yang ingin melamar seseorang," tukas Dorian sambil terekekeh geli. Astaga! Beraninya dia menertawakanku, apakah dia lupa bahwa dulu dia juga bertindak bodoh dan menggelikan saat akan melamar Malvina, ibunya Sansa.
__ADS_1
" Dia memang ingin melamar, Dad, "sambung Sansa yang membuatku terkejut begitu juga dengan Dorian, aku bisa melihat kebingungan di mata Dorian namun setelah itu ia justru tertawa geli.
"Benarkah? Siapa yang ingin kau lamar? Apa kau butuh bantuanku?" Tanya Dorian yang masih tertawa geli, ia bahkan seolah mengejekku. Aku sudah membuka mulut untuk menjawab namun Sansa mendahului.
"Aku, Dad," Serunya yang tentu saja membuat tawa Dorian langsung terhenti seketika. Ia menatap Sansa kemudian menatapku, kembali ia menatap Sansa dan setelah itu menatapku sebelum akhirnya ia kembali tertawa geli.
"Astaga, Sayang. Jangan seperti itu pada Uncle Alex, kau tidak sopan," tukasnya, ku lihat Sansa yang tampaknya mulai kesal karena sejak tadi Dorian menganggapnya hanya bercanda.
"Itu benar, Dorian," ucapku tegas yang seketika membuat tawa Dorian kembali terhenti. "Sebenarnya aku dan Sansa telah menjalin hubungan sejak dua tahun yang lalu, dan sekarang aku datang padamu untuk meminta restumu atas cinta kami." Aku mengucapkan hal itu dalam satu tarikan napas dan jujur saja, sekarang aku merasa sedikit lega setelah berhasil mengungkapkan kebenaran ini.
Ku tatap Sansa dengan senyum dan ia pun membalasnya dengan senyum manis.
"Tunggu...." Dorian mengangkat tangannya, ia menatap kami penuh intimidasi. "Kalian menjalin hubungan?" Tanyanya.
"Iya," jawabku dengan cepat.
"Kami saling mencintai, Dad," sambung Sansa.
"Dan kami ingin menikah," tukasku, ku lihat Dorian yang sedikit kebingungan.
__ADS_1
"Kalaian pasti bercanda," tukas Dorian. "Apa kalian tahu berapa perbedaan usia kalian? 25 tahun!" Tegasnya.
"Kami tahu itu, Dad. Tapi bukankah cinta tidak memandang usia?" Tanya Sansa dan ia menatap Dorian dengan sayu.
"Sansa, kau masih kecil. Kau tidak mengerti apa itu cinta, apa itu pernikahan, Sayang," ucap Dorian lembut.
"Aku mengerti, Dad," jawab Sansa, ia menatapku dan sambil tersenyum ia berkata. "Cinta itu adalah Alexander, rasa bahagia yang aku rasakan saat bersama Alexander, itu adalah cinta. Rasa rindu yang aku rasakan saat jauh dari Alexander, itu adalah cinta." Aku tertegun mendengar jawaban Sansa yang begitu menyentuh hati, aku menatapnya penuh cinta dan haru.
Sementara Dorian justru tampak marah, ia menatapku dengan tajam."Kau mempengaruhinya?" Desisnya yang membuatku langsung menggeleng.
"Kami saling mencintai, Dorian. Aku tidak mempengaruhinya sedikitpun," sanggahku dengan cepat.
"Cinta macam apa yang kau miliki untuk gadis berusia 20 itu, Alex?" Teriak Dorian sambil menunjuk Sansa bahkan ia langsung berdiri. "Dia lebih pantas menjadi putrimu, dan dia putri sahabatmu, apa kau sehat?" Teriak nya marah.
Ku lihat Sansa yang mulai panik namun aku berusaha bersikap tenang. "Aku tahu itu, aku tahu siapa Sansa, aku tahu berapa usianya, tapi cinta tidak mengenal status dan usia, Dorian. Kami ingin menikah dan itu impian kami," tukasku namun Dorian justru menarik leher bajuku dan hendak memukulku namun Sansa segera menghentikannya.
"Daddy! Hentikan!"
......Tbc.... ......
__ADS_1