
Aku menatap wajah letih istriku yang terlelap dalam dekapanku, aku mengusap pipinya dengan lembut, kemudian mengecup keningnya penuh cinta.
Aku tak pernah menyangka, gadis kecil yang dulu sering aku gendong, bahkan beberapa kali mengompol dalam gendonganku, kini telah menjadi istriku. Menjadi calon ibu dari anak-anakku.
Sansa menggeliat dalam tidurnya, aku fikir dia akan terbangun karena ini sudah jam 10 pagi, namun Sansa justu semakin mendesakan tubuhnya ke tubuhku, mencari kenyamanan dari pelukanku.
Aku hanya tersenyum dan kembali menatap wajahnya seperti yang aku lakukan selama dua jam ini.
Aku sudah bangun sejak jam 8 tadi, namun karena aku masih ingin menikmati wajah cantiknya, aku pun berdiam diri dan memandangi wajahnya selama dua jam.
"Aku rasa aku harus mandi," gumamku kemudian saat merasakan kedutan di bawah sana, aku harus segera mandi air dingin atau aku akan dengan sangat terpaksa menerkam Sansa yang pasti masih lelah dan merasakan sakit di pusat tubuhnya.
Saat aku bangun dari ranjang, aku melihat bercak darah di seprei kami, dan itu membuatku tersenyum, ada kebanggaan tersendiri dalam diirku karena menjadi pria pertama Sansa.
"Love you," bisikku di telinganya, sesaat ia menggeliat namun kemudian kembali tertidur, aku mengecup sudut bibirnya kemudian segera bergegas ke kamar mandi.
__ADS_1
Aku berdiri di bawah guyuran air shower yang begitu dingin, aku menrintih saat merasakan pusat tubuhku yang masih saja berkedut.
"Memangnya kau masih belum puas, hm? Bukankah tadi malam Sansa sudah membiarkanmu menguasainya? Dia sampai menjerit berkali-kali," ucapku sembari menggengam benda yang kini semakin keras saat otak liarku kembali mengingat percintaan kami yang panas dan menggebu semalam.
Aku menaik-turunkan tanganku dan tak bisa ku tahan erangan dari bibirku saat aku membayangkan tangan Sansa-lah yang memanjakanku hingga tiba-tiba...
"Oh, my Alexander...." Aku terkejut bahkan hampir terjungkal saat mendengar suara Sansa, sementara Sansa tertawa melihat raut wajahku yang pasti sangat memalukan sekarang.
Oh God! Aku tertangkap basah sedang....
Aku menahan napas saat memperhatikan tubuhnya dari atas hingga bahwa, rambutnya yang berantakan, matanya yang sayu, dua benda mungil dan jangan lupakan leher dan dadanya yang di penuhi tanda merah.
" Kenapa kamu menahan napas? Aku tidak berlenggok seksi untuk menggodamu, aku bahkan hampir tidak bisa bangun dari ranjang," gerutu Sansa yang membuatku terkekeh.
Aku pun langsung mendekatinya, menggendongnya dan membawanya ke dalam bathtub.
__ADS_1
"Kau akan berendam di air hangat, agar ototmu lemas kembali, Baby girl," ucapku sembari menyalakan air hangat.
"Dari mana kau mendapatkan kekuatan itu? Kau bahkan tidak terlihat kelelahan, sementara aku? Aku merasa seluruh tubuhku remuk," keluhnya namun ia justru meletakkan kakinya di dadaku, membuat gerakan abstrak disana yang membuatku mengerang tertahan.
Aku meliriknya dengan tajam, namun ia justru mengedipkan matanya, menggigit bibirnya, menggodaku seperti biasa.
"Stop it...." lirihku namun ia justru menyusuri perutku dengan kakinya, turun, hingga menyentuh. "Ahhh..." Aku tidak bisa menahan erangan itu saat Sansa menyentuh milikku yang sudah membengkak, sementara Sansa justru terkekeh.
Dasar, gadis - ah bukan, wanita.... Wanita nakal, wanitaku.
"Jangan menggodaku atau ku buat kau tidak bisa jalan selama seminggu, Sweetheart," gertakku namun ia justru mengulurkan tangannya dan menyentuhku disana yang membuatku kembali menahan napas, aku tak bisa menyembunyikan gairah yang terlihat di mataku.
"Sansa...." erangku.
"Let's make a beautiful day after our beautiful night, by hand."
__ADS_1
Tbc....