
"Kita harus segera mengatur jadwal operasi jantung Sansa, Dorian. Secepatnya!"
Aku langsung mematung dan seluruh tubuhku melemah saat mendengar ucapan Dokter Chloe, aku langsung mandorong pintu dan kedatanganku membuat Dorian tampak sangat terkejut.
"Apa yang terjadi?" Aku bertanya dengan suara yang bergetar, sementara Dorian hanya membuka mulut dan tampak kebingungan untuk menjawabku. "Dorian, jawab aku, sialan!" seruku sembari menarik kerah kemejanya.
"Operasi apa? Ada apa dengan Sansa? Jawab aku!" bentakku.
"Duduk dulu, Alex!" Dorian hendak membawaku duduk namun aku langsung menepis tangannya.
Aku sangat terkejut mendengar apa yang di ucapkan Dokter Chloe tadi, detak jantungku seperti berhenti dan hatiku seketika di terpa ketakutan yang sangat mendalam karena itu mengingatkanku pada Malvina. Aku tidak mau Sansa meninggalkanku seperti Malvina meninggalkan Dorian.
"Ayo lah, Alex. Biar aku jelaskan padamu," tukas Dorian yang berusaha menenangkanku.
Aku pun duduk dan mendengarkan Dorian dan Dokter Chloe yang menjelaskan keadaan Sansa secara bergantian padaku.
Aku menahan napas saat mendengar ucapan mereka, tangan dan lututku gemetar, dadaku sesak.
__ADS_1
Jadi benar, Sansa memiliki penyakit seperti Malvina?
"Sansa ingin memberi tahumu, Alex. Tapi dia bilang akan mencari waktu yang tepat, dia tidak ingin melihatmu sedih," tukas Dorian namun suaranya terdengar begitu jauh, pandangan ku kini kosong, aku hanya memikirkan keadaan Sansa-ku.
"Aku harap kamu kuat, Alex. Dan kamu bisa menguatkan Sansa, karena sebenarnya selama satu tahun ini, Sansa hidup dalam ketakutan. Dia takut pada kematian, dia takut berpisah dariku, dari kamu, dari Emily dan yang lainnya. Aku selalu menguatkannya dan penyakitnya ini bisa sembuh dengan operasi, namun dia tahu, kalau operasi Malvina dulu gagal dan dia takut operasinya juga gagal."
"Kita bawa dia ke Dokter dan rumah sakit terbaik, Dorian." Aku berkata dengan lirih, bahkan aku hampir tidak mendengar suaraku sendiri.
"Sedang aku usahakan, Alexander. Tapi masalahnya, Sansa masih ketakutan dengan yang namanya operasi."
Aku mendongak dan menatap Dorian dengan tajam. "I can't lose her, damn it!" geramku. "Bagaiamana pun caranya, Sansa harus sembuh!"
"Ini bukan akhirnya, Alex. Kita masih punya kesempatan untuk menyembuhkan Sansa!"
...***...
Aku kembali ke ruang rawat Sansa dan kini dia menatapku dengan begitu sendu, tatapan yang membuat hatiku luluh lantah. Aku tahu, dia pasti sudah tahu bahwa aku telah menemukan kebenaran tentang penyakitnya.
__ADS_1
"Apa kamu menemui Daddy dan Dokter Chloe?" Tanya Sansa dengan lirih. Aku hanya mengangguk kemudian duduk di sisinya. Sansa menitikan air matanya dan aku dengan cepat menghapusnya.
"Jangan terus menangis, nanti air matamu habis," candaku, untuk sedikit menghiburnya namun tangisnya justru pecah. Aku langsung mendekapnya dengan erat. "Tidak apa-apa, semuanya akan baik-baik saja, aku janji, Sweetheart." aku pun tak bisa membendung air mataku.
Kini aku menangis, setelah sekian lama, bahkan aku lupa kapan terkahir kali aku menangis, tapi sekarang aku kembali menangis karena Sansa-ku.
"Maaf, aku tidak memberi tahumu," lirih Sansa di sela isak tangisnya.
"Kau pasti sembuh, aku tidak akan membiarkanmu pergi, Sweetheart. Tidak akan!"
"Tapi bagaimana kalau aku seperti Mommy? Dia gagal saat melakukan operasi, bagaimana kalau aku juga gagal? Aku tidak mau berpisah dari Daddy, dari kamu, aku takut."
"Tidak akan aku biarkan kita berpisah, aku janji."
Janji? Aku tahu janjiku itu semu, tidak pasti, tapi aku harus apa? Aku bukan hanya membohongi Sansa dengan janji ini, tapi aku juga membohongi diriku sendiri
Siapa yang bisa menghentikan kematian? Tidak ada!
__ADS_1
Tapi aku pasti akan berusaha sebaik mungkin, tak perduli apapun caranya, bahkan jika harus di tukas dengan nyawaku. Aku akan berusaha menepati janji itu.
Tbc....