Gairah Cinta Putri Sahabatku

Gairah Cinta Putri Sahabatku
GCPS #81 - Pembalasan Seorang Wanita


__ADS_3

"Kalau dia tidak mau tanggung jawab, kita bunuh saja dia!" Sansa menggeram kesal karena memikirkan Samuel enggan bertanggung jawab atas kehamilan Emily.


"Tapi aku mencintainya," rengek Emily sembari membuang ingusnya dengan ujung kaosnya.


"Buat apa cinta kalau hanya menyiksa begitu?" geram Sansa. "Dia jahat, Emi! Da tidak mecintaimu, dia hanya menjadikanmu pelampiasan gairahnya!"


Tangis Emily semakin menjadi mendengar ucapan Sansa yang benar-benar memprovokasi dirinya itu.


Saat ini, kedua wanita itu masih ada di mobil yang menepis di tengah jalan. Fikiran keduanya sama-sama kacau sekarang karena masalah yang sama. Dan ini adalah situasi yang sulit di karenakan kedua wanita itu tak bisa saling menenangkan seperti biasanya.


"Tapi nanti kita di tangkap polisi, Sansa. Bagaimana? Sedangkan kita sedang hamil, apa kau mau kita menjalani masa kehamilan kita di penjara kemudian anak kita lahir di penjara? Aku tidak mau!"


"Benar juga," gumam Sansa kemudian, ia pun memikirkan cara agar bisa memberi pelajaran pada Samuel.


"Begini saja, kita tenggelamkan dia ke laut, bagaimana?"


"Memangnya kita bisa menggotong Samuel ke laut? Yang ada kita yang di gotong ke dasar laut!"


Sansa menghela napas panjang, bener juga, fikirnya. Ia dan Emily biasa menipu namun tak biasa merencakan tindakan kriminal seperti ini.


"Baiklah, kita bunuh saja dia di apartementnya saat dia tidur, kau punya kunci apartementnya, 'kan? Setelah itu, kita potong-potong tubuhnya dan kita buang di laut?"

__ADS_1


"Uuuwweekkkk...." Emily langsung melompat turun dari mobil dan ia muntah di pinggir jalan. Tak bisa ia bayangkan bagaimana Sansa bisa memiliki fikiran liar seperti itu, di saat dirinya hamil?


Sansa pun turun dari mobil dan ia menghampiri Emily yang masih muntah-muntah.


"Ada apa, Emi? Apa kita perlu ke rumah sakit?" Tanyanya yang membuat Emily langsung memelototinya.


"Apa kau gila, eh? Kau berencana memutilasi Samuel?" desis Emily tajam. "Astaga! Perutku langsung bergejolak saat membayangkan kau akan memotong-motong tubuh Samuel."


"Oh, mungkin bayimu tidak terima kalau ayahnya kita potong-potong."


"SANSA TURNER GHAN!!!!"


**


"Tentu saja, aku akan menjadi Grandpa, Alex," jawab Dorian senang. "Kau hebat sekali, Alex. Ah, aku bangga padamu. Kau memang menantu yang luar biasa," tukas Dorian dengan santainya sambil menepuk-nepuk pundak Alex dengan cukup keras.


"Tapi kita tahu Sansa masih dalam masa pemulihan, Dorian. Aku takut..."


"Tidak akan terjadi sesuatu," potong Dorian, ia menatap meyakinkan pada Alex. "Kau tahu? Seorang yang memiliki penyakit jantung itu harus selalu di jaga kebahagiaannya. Dan jika kehamilan Sansa membuatnya bahagia, kenapa tidak? Dia justru akan semakin semangat untuk sembuh total."


Alex merenungi ucapan Dorian dan hati kecilnya membenarkan itu. "Lagi pula, jika kau memang tidak ingin Sansa hamil. Kenapa kau bercinta dengannya? Atau kenapa kau mengeluarkannya di dalam?"

__ADS_1


"Apa rasanya enak jika kita harus menariknya sebelum keluar? Tentu tidak, 'kan? Lebih enak keluar di dalam."


"Kenapa tidak memakai pengaman?"


"Tidak enak, seperti ada yang menghalangi."


"Ya sudah, sekarang inilah hasilnya. Oh ya, dimana anak itu sekarang?"


"Bersama Emily."


***


Seperti maling, Sansa dan Emily berjalan mengendap-ngendap di apartement Samuel.


Rencana pembunuhan di batalkan karena resikonya terlalu besar, namun mereka harus tetap memberi Samuel pelajaran.


"Dia suka memasukimu, tapi tak suka kalau hasilnya jadi bayi, dasar!" Gerutu Sansa.


"Huusshhh!" Emily menyuruh Sansa diam saat terdengar suara apartement yang terbuka. Kedua wanita itu saling pandang, dan seperti agen yang sedang dalam misi rahasia, keduanya memberi isyarat untuk menyerang dalam hitungan ke tiga.


Emily siap dengan tongkat bisbolnya, sementara Sansa siap dengan sapu di tangannya.

__ADS_1


Dan....


BRUKKKKK


__ADS_2