
...POV Sansa Turner...
"Temanmu itu benar-benar seperti setan, dia mengancam akan memotong burungku jika aku mengkhianatimu," keluh Alex sembari mengeringkan rambutku dan seketika aku tertawa geli mendengar keluhannya itu.
"Oh, Baby. Percayalah! Ancaman Emi itu pasti, dan aku akan mendukungnya," jawabku sambil terkekeh.
"Aku tidak mungkin mengkhianatimu, aku sangat mencintaimu, lebih dari apapun," ucap Alex penuh keyakinan yang membuatku terharu.
"Aku tahu, Sayang. Aku pun sangat mencintaimu, maaf telah meragukan cintamu," ucapku lirih.
"Tidak apa-apa." Alex menjawab sembari mengecup pucuk kepalaku.
Setelah ia mengeringkan rambutku dengan handuk, kini Alex mengajakku keluar dari kamar karena sudah waktunya makan malam.
Malam ini kami tidak memasak, Daddy memesan makanan dari luar namun tentu ia memastikan bahwa makanan itu sangat sehat untukku.
"Aku sudah berbicara dengan Dokter Chloe mengenai operasi Sansa," ucap Daddy tiba-tiba yang membuatku langsung menatapnya dengan cemas. "Jangan khawatir, Sayang. Operasimu akan di lakukan dua atau tiga minggu lagi."
"Itu lama sekali," sambung Alex tak sabar.
__ADS_1
"Tidak, Alex. Aku yakin semuanya akan baik-baik saja, kita mengetahui penyakit Sansa lebih cepat dari pada Malvina dulu dan Sansa menjaga kesehatannya dengan sangat baik."
"Selama satu tahun kamu tahu Sansa sakit, seharusnya kamu melakukan operasi secepatnya, apa yang kamu tunggu?" Geram Alex pada Daddy.
"Dokter Chloe bilang aku tidak membutuhkan operasi, Alex. Aku selalu check up dengan rutin, menjaga kesehatan, pola makan, jadi sejauh ini, jantungku tidak terlalu mengkhawatirkan," sambungku.
"Lalu kenapa sekarang Dokter Chloe mengatakan harus segera mengatur jadwal operasimu secepatnya?" Tanya Alex lagi.
"Supaya tidak sampai parah seperti Malvina," sambung Daddy. "Sudah lama Sansa tidak pingsan, penyakitnya tidak kambuh, dia baik-baik saja selama ini. Tapi Setelah bertemu dengan Elaine, itu memicu tekanan yang berlebih sampai membuat dia pingsan hampir 12 jam."
"Ya Tuhan! Seharusnya aku tidak membiarkanmu bertemu dengannya," geram Alex, ia menggenggam garpu dengan erat dan tatapannya penuh emosi.
Alex mengecup pelipisku dengan lembut. "Operasimu pasti berhasil, ada banyak orang yang berhasil dalam operasi jantung," ucap Alex. "Aku masih sulit percaya, kamu masih sangat muda, kenapa semua ini harus terjadi padamu, Sweetheart."
"Mungkin karena Tuhan tahu, aku pasti sanggup menjalaninya meskipun sebenarnya sangat menakutkan."
"Kami di sini, kami akan selalu menemanimu."
...***...
__ADS_1
Keesokan harinya, aku tidak pergi ke kampus karena Alex memintaku istirahat di rumah saja.
Sementara Daddy sudah berangkat ke kantor sejak pagi tadi.
Saat ini kamu sedang menonton televisi, aku setengah berbaring di sofa dengan kepala yang aku letakkan di pangkuan Alex.
Tak berselang lama, terdengar suara ketukan pintu dari depan. "Biar aku yang buka," tukasku namun Alex melarangku.
"Jangan, biar aku saja. Kita tidak tahu siapa yang datang," ucap Alex kemudian ia segera membuka pintu.
Karena sudah beberapa saat Alex tak kembali, aku pun menyusul keluar dan ku lihat Elaine disana yang tampak marah-marah pada Alex.
"Kamu gila? Membatalkan semua kerja sama kita yang sudah terjalin sejak bertahun-tahun?" Teriak Elaine marah.
"Itu yang harus kamu bayar karena telah berusaha membuat pernikahanku hancur," desis Alex.
"Apa maksudmu? Aku tidak mengerti," ucap Elaine yang membuatku kesal.
"Sansa sudah bercerita padaku, kamu bilang kita menghabiskan malam bersama di pesta ulang tahunmu? Kau gila, eh? Aku hanya datang sebentar, dan itu pun hanya sebagai formalitas pada rekan kerjaku." Alex berkata penuh penekanan.
__ADS_1
Uff, aku puas sekali dengan jawaban suamiku.