
"Aku harap kamu memperhatikan kesehatan Sansa, karena apa yang sudah kamu lakukan bisa saja membuat dia drop lagi."
Aku melongo mendengar ucapan Dorian, apa dia tahu semalam kami....
Tidak... Tidak! Seharusnya Dorian tidak tahu, aku sengaja mengirimnya ke hotel dan menemui seorang wanita disana agar dia tidak menggangguku.
"Kamu fikir aku tidak tahu?" Tanya Dorian. "Tadi malam aku pulang jam 10, bodoh! Aku tidak sedang ingin bercinta dengan siapapun apalagi wanita sialan itu! Kamu sengaja menyuruhku ke hotel supaya aku terjebak disana dengan wanita itu, kan?"Desisnya dan seketika aku hanya cengengesan kemudian aku segera bergegas ke dapur namun Dorian menarik bajuku hingga aku hampir terjungkal ke belakang.
"Aku rasa ini wajar, Dorian. Aku dan Sansa masih terbilang pengantin baru, kami hanya ingin menikmati masa-masa indah ini," tukasku penuh penekanan.
"Aku tahu, tapi jeritan kalian itu... Oh Tuhan!" Dorian tampak frustasi yang membuatku sedikit merasa bersalah namun aku juga ingin tertawa melihat raut wajah tegangnya itu. "Aku hanya mengkhawatirkan kondisi dia, kalau kamu terus menggempurnya seperti tadi malam, anakku bisa pingsan, sialan!" gerammya lagi yang membuatku terkekeh.
"Tidak akan, Dorian. Kamu fikir aku seliar itu di saat aku tahu Sansa sakit? Tentu saja tidak, aku berusaha menjaganya, aku selalu mengambil jeda waktu istirahat," jawabku sambari melangkah menuju dapur. Hari semakin siang, aku ingin sarapan Sansa sudah siap saat dia bangun nanti.
"Dasar duda tua!" Seru Dorian yang membuatku melongo. "Putriku itu masih kecil, seharusnya kamu mengerti sedikit." lanjutnya yang membuatku menganga lebih lebar.
__ADS_1
"Oh my gosh!" Geramku. "Dengar..." Aku menunjuk wajahnya dengan sebilah pisah yang membuat Dorian langsung melangkah mundur. "Sansa itu sangat bisa mengimbangiku, dan asal kamu tahu saja, selama ini Sansa yang menggoda imanku, Sansa yang begitu liar dan aku suka itu," ucapku sambil tersenyum lebar di akhir kalimat.
"Alexander...." geram Dorian kesal.
"Oh, jangan-jangan sebenarnya kamu hanya iri?" selaku sambil tertawa mengejek. "Makanya, jangan terus menolak Kate, dia wanita yang cantik, baik, dewasa, dia pasti bisa menjadi ibu yang baik untuk Sansa, dan tentu juga menjadi ibu mertua yang baik untukku." Dorian langsung tampak marah mendengar ucapanku itu, dia bahkan mengambil rolling pin dan hendak memukulku namun aksinya terhenti saat mendengar suara serak Sansa.
"Daddy...."
Kami berdua langsung menoleh dan Sansa melongo melihat kami, aku memegang pisau sementara Dorian memegang rolling pin.
Apa dia ingin kami berperang?
"Sudah siap?" Tanya Sansa sambil berkacak pinggang, aku langsung meletakkan pisauku begitu juga dengan Dorian, Sansa hanya terkekeh kemudian membuka kulkas dan mengambil susu kotak disana.
"Tadi malam Daddy kemana?" Tanya Sambari menghangatkan susunya di microwave.
__ADS_1
"Tadi malam...."
"Dorian menemui Kate...." sela-ku dengan cepat memotong ucapan Dorian.
Sansa langsung memicingkan matanya pada Dorian. "Kate? Kate Bill itu?" Tanyanya.
"Iya, Sweetheart...." Aku menjawab dengan cepat.
"Tidak, Sansa. Daddy hanya ada sedikit pekerjaan," ujar Dorian sambil melirikku dengan tajam.
"Daddy ada hubungan apa dengan wanita itu?" Tanya Sansa dengan tajam.
"Tidak ada apa-apa, Sayang," elak Dorian.
"Apa kamu keberatan punya ibu tiri, Sansa?" Tanyaku yang membuat Dorian langsung melotot sempurna.
__ADS_1
"Apa?" Pekik Sansa dengan kening berkerut.