
Samuel senang rencana Alex berhasil meskipun ia sedikit tidak setuju akan hal ini. Mungkin Alex benar, ia terlalu naif dan menjunjung kejujuran padahal terkadang sebuah kejujuran tidak di perlukan jika menghadapi orang-orang seperti orang tua Emily. Dan sekarang, ia harus takut bagaimana jika rencananya ketahuan sebelum ia dan Emily menikah?
"Karena itulah, kita menikah saja secepatnya, Honey. Apalagi sebentar lagi kau akan lulus, zkata Emily yang saat ini berada di apartement Samuel seperti biasa.
Emily tidur di pangkuan sang kekasih yang saat ini justru sibuk membaca buku.
"Tapi kamu lulus tahun depan, Emi," ujar Samuel.
"Tidak apa-apa, Sansa saja masih kuliah meskipun sudah menikah," Balas Emily.
"Baiklah, terserah kau saja, Baby. Asal kau bahagia," ucap Samuel kemudian ia memberikan kecupan hangat di kening Emily namun Emily justru menarik wajah Samuel dan memangut bibirnya.
Samuel pun membalas ciuman Emily dengan intens, namun tiba-tiba Emily mendorong Samuel saat ia merasakan perutnya bergejolak dan ingin muntah.
Emily berlari ke kamar mandi, ia memuntahkan cairan bening dari mulutnya sampai wajahnya memerah dan ia mengeluarkan air mata.
Samuel pun membantu memijat tengkuk Emily. "Ada apa, Honey? Kamu sakit?" Tanyanya dengan cemas.
Emily hanya menggeleng sembari membersihkan mulutnya. "Sepertinya aku sakit, akhir-akhir ini aku sering pusing dan mual." keluhnya.
__ADS_1
"Baiklah, nanti kita ke Dokter. Sekarang kau istirahat, hm." Samuel menggendong Emily dan membawanya kembali ke ranjang.
"Sam..." panggil Emily lirih saat Samuel menyelimutinya.
"Hmmm..." Samuel menganggapi sambil tersenyum.
"Bagaiamana kalau aku hamil?" Seketika Samuel terdiam, tatapannya tak bisa di artikan oleh Emily dan itu membuat jantung Emily berdebar kencang.
Akhir-akhir ini ia merasakan gejala seperti orang hamil, mual, pusing, dan bahkan ia mulai sensitif terhadap rasa dan aroma.
"Tidak akan, aku selalu memakai pengaman saat kita bercinta," ucap Samuel kemudian yang membuat hati Emily terkesiap, seolah Samuel tak menginginkan kehamilannya.
Sama seperti no system is save meskipun Sudah memakai berbagai macam metode keamanan, begitu juga dalam hal ini. Meskipun Samuel selalu memakai pengaman, namun itu tak berarti aman 100% apalagi keduanya melakukannya dengan sangat rutin.
***
Keesokan harinya...
Gorli datang menemui Elaine untuk meminta bantuan Elaine, karena rencana yang sudah ia susun rapi dan di eksekusi dengan baik nyatanya tak berhasil dengan baik. Apalagi ia mendengar kabar bahwa orang tua Kate sudah menerima Dorian dengan begitu mudahnya, Gorli merasa begitu tersinggung, luka egonya semakin dalam.
__ADS_1
Sementara Elaine, ia menolak membantu Gorli karena ia ingin mendekati Dorian untuk mendapatkan bantuan, rasanya itu lebih aman.
"Akan aku lunasi semua hutangmu, akan aku bebaskan kau dari semua semua masalah yang ada," ujar Gorli yang membuat kedua mata Elaine langsung berbinar lebar. "Aku tahu masalah yang sedang kau alami, Elaine. Aku bisa menyelesaikannya dengan mudah."
"Benarkah?" pekik Elaine girang.
"Tentu saja, kau juga tidak perlu melakukan apapun untukku. Cukup bantu aku membalaskan dendamku pada keluarga Turner!"
...
"Hem, masakan Kate enak, aku suka," ujar Sansa girang yang membuat Dorian dan Alex sedikit mengernyit bingung, kedua pria paruh baya itu saling melempar tatapan.
"Sejak kapan kau suka makan acar, Sweetheart?" Tanya Alex bingung. "Itu hanya acar, kau memakannya seperti memakan steak saja."
"Entahlah, rasanya segar. Aku suka..."
"Apa kau hamil, Sansa?"
"Huh?"
__ADS_1