
Lega rasanya ketika melihat Daihatsu Ayla kuning Ghevin teparkir di depan rumahnya. Tadinya Rani sudah takut Ghevin tidak ada di rumah. Rani kemudian turun dari motor dan memencet bel. Yang membukakan Rani pintu Tante Widia—ibunda Ghevin, sekaligus calon ibu mertuanya saat dia sedang bermimpi.
"Tante," sapa Rani dengan suara sesopan mungkin. Sebenarnya Rani lebih ingin memanggilnya 'Mama' daripada 'Tante', tapi ya sudahlah. Nanti juga akan ada saatnya. Do'a-kan saja.
"Eh, Rani," balas Tante Widia. "Melly-nya lagi nggak ada di rumah."
Melly pasti sedang berkencan dengan Tristan, untuk menggantikan kencan mereka yang batal kemarin karena Rani dan Melly harus mengerjakan tugas.
"Dasar nggak mau rugi lo, Mell."
"Saya bukan mau ketemu Melly, Tante," ralat Rani. "Saya mau ketemu Ghevin."
Tante Widia sedikit kaget, mungkin karena baru kali ini yang ingin Rani temui adalah Ghevin. Sepertinya beliau harus mulai membiasakan diri, karena nanti Rani pasti akan lebih sering menemui Ghevin.
"Sebentar ya, biar Tante panggilin dulu," kata Tante Widia. Beliau mempersilakan Rani duduk di beranda sementara beliau masuk ke rumah untuk memanggil Ghevin.
Rani memeriksa bayangan dirinya di jendela. Tadi dia tidak sempat berdandan, sehingga pasti terlihat kucel. Rani berusaha merapikan diri sebisanya, terutama rambutnya yang acak-acakan.
Tak lama Ghevin keluar, dia terlihat luar biasa seksi dengan kaus tanpa lengan yang memperlihatkan otot biceps-nya.
"Oh, tidak. Ghevin seksi banget, bisa-bisa gue ngiler nih."
"Hai, Rani," sapa Ghevin seraya duduk. "Ada apa?"
Rani tidak bisa langsung menjawab sebab tatapannya masih terpaku pada otot biceps Ghevin. Rani sampai harus menggeleng untuk menjernihkan pikirannya.
"Oke, gue harus fokus. Lupain dulu otot biceps Ghevin yang berpendar-pendar laksana kunang-kunang itu."
"Mmm... Billy mau masuk SMA Garuda," mulai Rani.
Rani kira Ghevin akan bereaksi heboh karena itu juga sekolah Amanda, tapi ternyata tidak. Dia malah mengerutkan keningnya.
"Siapa Billy?" tanyanya bingung. Ternyata Billy tidak diingat Ghevin. Kasihan deh Billy.
"Adik gue," sahut Rani.
"Ah," kata Ghevin sambil mengangguk-angguk. Sepertinya dia sudah ingat. "Terus?"
"Kemarin gue nganterin Billy ke SMA Garuda," kata Rani. "Di sana gue hampir jatuh, dan ada cowok yang nolongin gue."
Rani diam sejenak, untuk melihat apakah ada tanda-tanda cemburu dari Ghevin, tapi sepertinya tidak. Mungkin kalau Rani bilang ada cowok yang menciumnya pun, Ghevin tidak akan peduli. Nasib… Nasib!
__ADS_1
"Billy bilang cowok itu Martin Julian, ketua geng SMA Garuda," lanjut Rani.
Seketika Ghevin tersentak. "Martin Julian?"
"Ya," angguk Rani. "Tadi gue ketemu sama dia lagi, dan tanpa sengaja gue ngedenger pembicaraannya dengan salah satu anggota gengnya. Mereka berniat menghancurkan geng lo."
Ghevin tidak langsung menanggapi. Dia sibuk berpikir sambil mengetuk-ketukkan jari-jarinya ke lengan kursi.
"Terus apa lagi yang lo dengar?" tanya Ghevin kemudian.
"Martin bilang dia punya rencana," sahut Rani. "Tapi dia nggak membeberkan lebih lanjut rencananya itu."
Ghevin mendesah. "Oke," katanya singkat. Oke apa?
"Sebenernya lo ada masalah apa sih sama Martin?" tanya Rani, untuk mengobati rasa penasarannya.
"Cuma masalah antar geng," sahut Ghevin. "Tapi Martin menanggapinya terlalu serius. Gue sih nggak mau ambil pusing."
"Tapi lo pasti akan melakukan sesuatu kan setelah mendengar soal niatnya itu?" tuntut Rani.
"Entahlah," kata Ghevin ringan.
"Dia nggak akan melakukannya," bantah Ghevin.
"Tapi…"
"Kalopun dia melakukannya," potong Ghevin, "gue pasti bisa mengatasinya. Jadi lo jangan khawatir."
Tetap saja Rani khawatir. Bagaimana tidak, kalau tahu cowok yang dia suka setengah mati ini terancam bahaya?
"Makasih ya, Ran," kata Ghevin. "Lo mau repot-repot dateng ke sini buat ngasih tahu gue soal niat Martin itu."
Rani tersipu. "Sama-sama, Ghev," balasnya. "Gue cuma nggak mau lo kenapa-kenapa."
"Gue kan lebih kuat dari Martin," seloroh Ghevin.
"Percaya deh," cetus Rani sembari mengacungkan jempol.
Sepertinya pembicaraan mereka sudah berakhir? Tapi Rani belum mau pulang. Dia masih ingin terus bersama Ghevin. Akhirnya Rani berusaha mencari topik pembicaraan baru.
"Mmm... apa Melly lagi pergi?" tanya Rani berbasa-basi, seolah dia tidak tahu jawabannya.
__ADS_1
Wajah Ghevin langsung berubah masam. "Ya, sama Tristan," jawabnya tidak suka. "Tristan emang sering banget ngajak Melly pergi. Heran gue, kayak nggak cukup aja mereka ketemu di sekolah."
"Kapan sih lo berniat untuk sepenuhnya merestui hubungan mereka?" tanya Rani.
"Mungkin masih lama," jawab Ghevin. "Atau mungkin nggak sama sekali. Selama ini gue bertahan nggak mencincang Tristan karena gue ngelihat dia bikin Melly sangat bahagia."
Ghevin benar. Melly memang sangat bahagia sekarang. Wajahnya selalu terlihat berbinar-binar, apalagi setiap kali ada Tristan. Andai saja Rani dan Ghevin juga seperti mereka...
"Oh iya, Ran, lo mau pulang atau nunggu Melly?" tanya Ghevin tiba-tiba. "Soalnya habis ini gue mau pergi."
"Yah... gue diusir secara nggak langsung nih."
"Gue mau pulang aja," putus Rani. Percuma dia tetap di situ kalau tidak ada Ghevin. "Lo mau nge-date, ya?"
Ghevin mengangguk. Tadinya Rani berharap tebakannya salah, tapi ternyata justru benar.
"Sama Tania?"
"Bukan."
"Astaga, cewek lain lagi!"
"Sekali-kali gue dong yang lo ajak nge-date," kata Rani. Agak nekat, memang, tapi Rani hanya ingin mengecek reaksi Ghevin.
Ghevin tertawa. "Boleh," katanya. "Kapan-kapan, ya."
Rani jadi bersemangat. Semoga 'kapan-kapan' itu akan segera terjadi. Besok, misalnya.
Ghevin lantas mengantar Rani sampai ke pintu pagar. Dia terus mengamati Rani selama Rani naik ke motor dan menyalakan mesinnya, sehingga membuat Rani jadi grogi.
"Hati-hati, ya," pesan Ghevin.
Rani hanya mengangguk, dan memberikan senyum penuh cintanya pada Ghevin sebelum berlalu dari hadapannya. Rani benar-benar senang sekali, sampai-sampai ingin melampiaskannya dengan kebut-kebutan. Tapi, sesuai pesan Ghevin, dia harus berhati-hati.
.
.
.
(BERSAMBUNG)
__ADS_1