Gejolak Masa Muda 2

Gejolak Masa Muda 2
Ghevin Dibawa Ke Rumah Sakit


__ADS_3

Pikiran pertama Rani adalah Ghevin mati. Tanpa tedeng aling-aling langsung menuju yang terburuk, membuatnya kontan jadi panik.


Air matanya terus mengalir sementara Rani menggulingkan tubuh Ghevin ke samping, dan berlutut untuk memeriksa keadaannya. Bukan untuk memeriksa keadaannya, sebenarnya. Lebih tepatnya, dia menggoncang-goncangkan tubuh Ghevin dengan panik.


”Ghev?” panggil Rani. ”Ghev, bangun. Ayo, bangun! Buka mata lo!”


Tak ada respons dari Ghevin. Matanya tetap terpejam, dia tetap diam tidak bergerak. Rani pun menggoncangkan tubuh Ghevin semakin keras.


”Ghev, jangan begini!” isak Rani. ”Jangan bikin gue takut! Gue mau lo bangun! Please, Ghev.”


Ketika tetap tak ada respons dari Ghevin, kepanikan Rani pun bertambah, dan dia mulai histeris. Kini Rani tak hanya sekadar menggoncang-goncangkan tubuh Ghevin, tapi juga menepuk-nepuk pelan pipinya.


”Ghev, jangan mati!” jerit Rani. ”Lo nggak boleh mati! Lo nggak boleh mati gara-gara gue! Bangun! Cepat bangun sekarang!”


Seandainya Rani bisa lebih tenang sedikit, mungkin dia akan menyadari Ghevin masih bernapas. Ghevin tentu saja tidak mati, melainkan hanya pingsan.


Seandainya Rani bisa lebih tenang sedikit, mungkin dia akan menyadari pertempuran sudah berhenti. Perhatian semua orang hanya tertuju pada Ghevin, sampai-sampai mereka melupakan lawan masing-masing.

__ADS_1


Seandainya Rani bisa lebih tenang sedikit, mungkin dia akan menyadari Martin berdiri dengan tampang syok. Pasti Martin teringat akan kematian kakaknya.


Seandainya Rani bisa lebih tenang sedikit, mungkin dia akan menyadari Melly berada di dekatnya dan Ghevin. Sama seperti Rani, Melly juga berlutut dan menjerit-jerit histeris. Jeritan Rani dan jeritan Melly silih berganti memenuhi pabrik. Tristan sampai setengah mati berusaha menenangkan Melly, mendekapnya dari belakang sambil berbisik-bisik di telinganya.


Seandainya Rani bisa lebih tenang sedikit, mungkin dia akan menyadari Amanda juga berusaha menenangkannya. Amanda menahan tangan Rani, supaya Rani tidak terus-menerus menggoncang-goncangkan tubuh Ghevin.


Tapi nyatanya Rani tidak bisa tenang. Sama sekali tidak tenang.


Rani bahkan mengamuk ketika Amanda menariknya mundur karena ingin memberi jalan pada Miko untuk memeriksa keadaan Ghevin. Butuh usaha ekstra bagi Amanda untuk memegangi Rani, sebab tenaga Rani lebih besar dari tenaganya.


”Telepon ambulans,” perintah Miko—entah kepada siapa.


”Kita nggak bisa sembarangan mindahin dia,” jelas Miko. ”Takutnya tulangnya ada yang patah, dan kita malah memperparah keadaannya.”


Shandy mengangguk-angguk mengerti, lalu bergegas bergeser untuk menelepon ambulans. Dia menelepon agak jauh dari mereka, mungkin merasa terganggu dengan jeritan Rani dan Melly.


Rani tidak tahu apa yang dilakukan geng Martin dan geng Chebol selama mereka menunggu kedatangan ambulans, sebab dia—sibuk—menangis sambil memanggil-manggil nama Ghevin. Betapa Rani sangat menyesal telah membuat Ghevin celaka. Rani merasa, lebih baik dia yang tadi tertimpa potongan-potongan kayu itu daripada Ghevin.

__ADS_1


Bagi Rani, ini jauh dari lebih parah daripada saat Ghevin menolaknya dulu. Kalau Ghevin sampai mati, mungkin Rani tidak akan bisa bertahan. Ghevin adalah cinta pertamanya. Tak terbayangkan bagaimana jadinya Rani andai kehilangan sosok pujaan hatinya itu.


"Kalo Ghevin sampai mati, mungkin gue juga akan ikut mati."


Ketika ambulans datang, dan beberapa paramedis turun sambil membawa brankar untuk memindahkan Ghevin, lagi-lagi Rani mengamuk. Amanda masih tetap memegangi Rani, jadi Rani hanya bisa mencakar-cakar udara, sambil meneriaki mereka.


”Jangan bawa Ghevin!” teriak Rani marah. ”Jangan bawa dia ke mana-mana! Dia harus tetap di sini!”


Amanda mulai kewalahan memegangi Rani. ”Mik,” panggilnya pada Miko. ”Mik, bantuin gue dong.”


Miko pun membantu Amanda memegangi Rani. Hampir saja wajah Miko terkena cakaran Rani, tapi dengan sigap dia menahan tangan Rani.


”Rani, lo harus tenang,” bujuk Miko. ”Mereka kan mau bawa Ghevin ke rumah sakit.”


Tentu saja Rani tahu mereka mau membawa Ghevin ke rumah sakit. Hanya saja dia tidak bisa berpikir dengan jernih, dan malah menyangka mereka mau memisahkannya dengan Ghevin.


Tristan dan Melly ikut mendampingi Ghevin di ambulans. Melly nyaris tidak bisa berjalan, sehingga Tristan harus memapahnya.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2