Gejolak Masa Muda 2

Gejolak Masa Muda 2
Penasaran


__ADS_3

Perlahan Rani berusaha melupakan kejadian tidak menyenangkan yang dialaminya di tempat bermain biliar kemarin. Dia pun memutuskan untuk melanjutkan tugasnya sebagai mata-mata Ghevin. Jadi saat ini dia kembali berada di SMA Garuda.


Sudah hampir satu jam Rani menunggu Martin di pelataran parkir SMA Garuda. Biasanya dia tidak pernah menunggunya selama ini.


"Ke mana sih Martin? Kenapa dia nggak muncul-muncul juga? Apa dia nggak mau pulang? Betah amat dia di sekolah."


Merasa capek menunggu, Rani memutuskan untuk mendatangi bangunan sekolah Martin. Ternyata selama Rani menunggunya, Martin justru sedang duduk di pinggir lapangan bersama salah satu anggota gengnya—yang pernah Rani lihat bersama Martin di Kafe 69 saat mereka membicarakan niatnya untuk menghancurkan geng Ghevin—sambil memainkan laptop.


Rani memutuskan untuk menunggu sampai Martin berniat pulang, atau sampai anggota gengnya itu pergi. Tentunya mereka tidak akan bersama-sama sampai malam, kan? Kalau sampai ya, berarti Rani tidak bisa menemui Martin.


Rani mengamati Martin dan anggota gengnya yang begitu serius memelototi laptop. Sesekali mereka berbicara sambil menunjuk-nunjuk layar laptop. Rani pun jadi penasaran, "Ada apa sih di laptop itu? Masa iya mereka lagi ngerjain tugas?"


Selain tentang laptop itu, Rani juga penasaran apa Martin sudah tahu dia tidak akan bisa memanfaatkan Shandy lagi. Sembari menunggu, Rani sempat menelepon Miko, dan Miko memberitahukan bahwa Martin memang memanfaatkan Shandy untuk memecah belah geng mereka.


"Adik cewek Shandy sekolah di SMA Garuda," kata Miko saat di telepon. "Martin ngancam Shandy, kalo dia sampai nggak mau ngebantu Martin, maka adiknya akan kena akibatnya. Jadi Shandy terpaksa nurutin kemauan Martin. Kebetulan Shandy emang dekat dengan hampir semua anggota geng kami sehingga tahu rahasia-rahasia mereka, yang bisa digunakannya untuk memecah belah geng kami."


"Ghevin pasti kecewa sama Shandy," gumam Rani.


"Jelas," Miko membenarkan. "Ghevin berharap dari awal Shandy bilang sama dia bahwa Martin ngancam dia, tapi dia malah udah ketakutan duluan. Untungnya pas dikonfrontasi Ghevin akhirnya dia mau ngaku, dan janji nggak akan ngebantu Martin lagi. Soal adiknya, Ghevin berhasil ngeyakinin dia bahwa Martin cuma asal ngancam. Nggak mungkin Martin benar-benar menyakiti adiknya. Tapi supaya Shandy lebih yakin, Ghevin akan nugasin preman kenalannya untuk bantu ngejagain adiknya. Meski cuma dari jauh, tapi lumayan, kan?"

__ADS_1


Kini, masih sambil terus mengamati Martin dan anggota gengnya, Rani jadi tidak habis pikir. Mengingat bagaimana Martin kehilangan kakaknya, rasanya agak keterlaluan kalau dia mengancam akan menyakiti adik orang lain—terlepas dari dia hanya asal mengancam.


Akhirnya, setelah lama menunggu, anggota geng Martin pergi juga. Rani pun segera menghampiri Martin.


"Ternyata lo di sini," cetus Rani, seolah dia baru saja menemukan Martin. "Gue udah nungguin lo di tempat parkir dari tadi."


Martin mendongak, dan cepat-cepat menutup laptop. "Siapa suruh lo nungguin gue di tempat parkir?" tanggapnya.


Rani lalu mendudukkan dirinya di sebelah Martin, tepat di tempat yang tadi diduduki anggota gengnya. "Lo ngapain aja sih di sini?"


"Mainin laptop," kata Martin sambil menunjuk laptopnya.


"Boleh gue pinjam laptop lo?" tanya Rani tanpa tedeng aling-aling.


Jelas, Rani tidak boleh meminjam laptop Martin, dan itu membuat Rani semakin penasaran akan isi laptopnya. Pasti ada sesuatu yang tidak boleh orang lain lihat di dalamnya.


"Daripada di sini, mending ke Kafe 69 aja yuk," ajak Rani. "Biar gue bisa sekalian traktir lo."


"Gue nggak bisa," tolak Martin. "Hari ini gue ada urusan, jadi harus buru-buru pulang."

__ADS_1


Rani mendesah kecewa. "Sia-sia aja dong gue nungguin lo," keluhnya. "Hampir satu jam lho gue nongkrong di tempat parkir."


"Makanya lain kali lo telepon gue dulu sebelum datang," saran Martin. "Lo kan ada nomor HP gue."


"Gue kira gue cuma boleh nelepon lo kalo ada urusan penting," kata Rani sok lugu.


"Anggap aja traktir gue juga termasuk urusan penting."


Memang penting sih, sebenarnya. Itu kan satu-satunya alasan yang bisa Rani berikan pada Martin untuk tetap menjalankan tugasnya sebagai mata-mata Ghevin.


"Martin!" Tiba-tiba anggota geng Martin yang tadi kembali lagi. "Cepat ke pintu gerbang. Zayn lagi digebukin."


Martin langsung berdiri. "Sama siapa?"


"Sama bapak-bapak kumisan yang pernah kita omongin itu lho," kata anggota geng Martin. "Belakangan ini kan dia sering berkeliaran di sekitar sini."


Apakah yang dimaksud anggota geng Martin adalah pria berkumis lebat itu?


.

__ADS_1


.


(Bersambung)


__ADS_2