Gejolak Masa Muda 2

Gejolak Masa Muda 2
Ungkapan Perasaan Rani


__ADS_3

Andai saja Miko mau jujur pada Rani, masalahnya tidak akan serumit ini. Meski merasa teramat lega karena ternyata hanya kesalahpahaman belaka, tapi Rani tetap tidak enak pada Ghevin. Baru saja Rani akan membuka mulut untuk meminta maaf sekali lagi pada Ghevin, Ghevin sudah keburu berbicara lagi.


”Gue nggak nyangka masalah Amanda akan begitu memengaruhi lo,” komentar Ghevin. Bukan hanya memengaruhi, sebenarnya, juga membuat Rani nyaris gila—sampai-sampai dia memutuskan untuk blakblakan saja. ”Padahal, seandainya pun gue benar-benar balikan sama Amanda, nggak ada hubungannya dengan lo, kan?”


”Emang nggak ada hubungannya sama gue, karena gue bukan siapa-siapa lo,” kata Rani setuju. Lalu, entah mendapat keberanian dari mana, dia melanjutkan, ”Tapi apa gue salah, kalo gue ingin menjadi seseorang yang spesial buat lo?”


Selama tiga setengah tahun ini, Rani berdiri di atas danau membeku yang lapisan esnya begitu tipis—mencerminkan hubungan pertemanannya dengan Ghevin. Dan dengan kata-katanya barusan, dia telah maju selangkah, membuat lapisan es di bawahnya mulai retak. Kalau dia tidak ingin jatuh ke dalam air yang dingin, dia harus berhenti melangkah. Itu artinya dia tidak boleh mengatakan hal-hal yang berbahaya lagi.


Masalahnya, Rani sudah terlalu lama berdiri di atas danau yang membeku itu. Kalau berhenti melangkah, dia tidak akan pernah ke mana-mana. Padahal ada Ghevin di seberangnya, di pinggir danau, dan butuh beberapa langkah lagi untuk mencapainya.


Lagi pula, sepertinya Ghevin sudah tahu perasaan Rani padanya—entah sejak dulu, atau baru hari ini. Kecemburuan Rani pada Amanda, yang terang-terangan diperlihatkan, tentu semakin meyakinkan Ghevin. Karena Ghevin telanjur tahu, ditambah dengan suasana yang mendukung, Rani jadi semakin


yakin untuk mengungkapkan perasaannya pada Ghevin.


Sebelum melanjutkan langkah, Rani menatap Ghevin. Tapi niatnya terbaca oleh Ghevin, dan dengan tegas Ghevin menggeleng.


”Berhenti, Rani,” perintah Ghevin. ”Jangan diteruskan.”


Hanya saja, Rani tetap keras kepala.


”Gue nggak ingin berhenti,” kata Rani. ”Kalo gue berhenti, bagaimana hubungan kita bisa berkembang?”

__ADS_1


”Rani, gue bilang ber—”


”Gue suka sama lo, Ghev,” kata Rani setengah berseru, memotong kata-kata Ghevin. ”Gue sangat suka lo.”


Akhirnya Rani ungkapkan sudah. Rasanya beban yang mengimpit dadanya selama tiga setengah tahun ini—karena terpaksa memendam perasaannya pada Ghevin—terangkat, dan membuatnya bisa bernapas lega. Dia tahu kelegaan itu tidak akan berlangsung lama. Langkah-langkahnya membawanya mendekati Ghevin, sekaligus semakin memperlebar retakan di lapisan es. Dia akan segera jatuh, dan kini keputusan ada di tangan Ghevin—apa dia akan membiarkan Rani jatuh, atau menyelamatkan Rani?


Rani menunggu, dan terus menunggu. Tapi sampai bermenit-menit setelahnya, yang bagi Rani terasa bagai berabad-abad, Ghevin belum juga mengambil keputusan. Sampai kemudian Ghevin mendesah berat.


”Maaf, Rani.” Dua kata. Hanya dua kata itu, dan Rani tahu keputusan yang telah diambil Ghevin. Kali ini giliran Rani menyuruh Ghevin berhenti berbicara, sebab dia tidak ingin mendengar apa pun yang akan dikatakan Ghevin selanjutnya. Sayangnya, Ghevin tidak kalah keras kepalanya dari Rani. ”Tapi gue nggak bisa membalas perasaan lo.”


Hati Rani langsung terasa hampa. Kosong. Tak ada isinya. Tapi itu hanya berlangsung sedetik, sebab pada detik selanjutnya, lapisan es di bawahnya jebol. Dia pun jatuh ke dalam air dingin—begitu dinginnya hingga menusuk tulang. Setiap bagian tubuhnya terasa sangat sakit. Dia memberontak dengan sekuat tenaga, berusaha melarikan diri dari rasa sakit itu, tapi malah semakin tersiksa.


”Kenapa?” Suara Rani terdengar begitu jauh. ”Kenapa nggak bisa?”


Rani masih tidak mengerti. ”Apa hubungannya dengan hal itu?”


”Sebenarnya, Rani, udah dari dulu gue tahu perasaan lo ke gue,” aku Ghevin. Ternyata benar, dia memang sudah tahu. ”Gue bisa melihatnya dari gerak-gerik lo setiap kali kita lagi bersama-sama. Tapi meski begitu, gue memutuskan untuk pura-pura nggak tahu. Gue punya prinsip, gue nggak akan pernah memacari sahabat Melly. Karena kalo sampai kita pacaran, lalu kemudian putus, maka itu akan memengaruhi persahabatan lo dengan Melly. Gue nggak mau itu sampai terjadi. Melly kan sayang banget sama lo.”


”Kenapa lo begitu yakin kita akan putus?” tuntut Rani. ”Padahal kan mungkin aja hubungan kita bisa awet.”


”Ayolah, Rani,” desah Ghevin. ”Lo lihat aja hubungan-hubungan gue yang sebelumnya. Nggak ada satu pun yang awet.”

__ADS_1


”Jangan jadiin itu sebagai patokan,” protes Rani. ”Kalo lo bisa menyukai gue sebesar gue menyukai lo, maka nggak ada alasan bagi kita untuk putus, kan?”


”Akan ada alasan lainnya yang bisa merusak hubungan kita, nggak peduli meski kita saling menyukai sekalipun,” tukas Ghevin. ”Apa lo bisa menjamin alasan-alasan itu nggak akan muncul?”


Meski Rani ingin mengatakan bisa menjaminnya, pada kenyataannya Rani tahu dirinya tidak bisa. Di sisi lain, dia juga belum mau menyerah.


”Dengan lo menolak gue begini, toh gue juga akan patah hati,” kata Rani. ”Jadi apa bedanya dengan kalo kita putus nanti?”


”Tentu aja beda,” tandas Ghevin. ”Kalo gue tetap memacari lo padahal gue tahu gue hanya akan menyakiti lo, berarti gue mempermainkan lo. Apa kata Melly kalo dia tahu gue mempermainkan sahabatnya? Lagi pula, akan lebih mudah bagi lo untuk mengatasi patah hati lo kalo gue menolak lo sejak awal. Persahabatan lo dengan Melly juga akan baik-baik aja.”


”Dari tadi cuma Melly aja yang lo pikirin,” sentak Rani. ”Lantas bagaimana dengan gue?”


”Itu kan demi kebaikan lo juga,” kata Ghevin. ”Jadi, Rani, lebih baik lo lupain aja ya perasaan lo sama gue.”


Beginikah akhir yang harus Rani hadapi? Ghevin malah menyuruh Rani melupakan perasaan terhadapnya, seolah mudah bagi Rani untuk melakukannya.


Tanpa Rani sadari, air mata mulai jatuh ke pipinya. Dia pun berpaling, karena tidak ingin Ghevin melihatnya menangis. Tangannya sibuk menghapus air mata, tapi air matanya justru mengucur semakin deras.


.


.

__ADS_1


(Tbc)


__ADS_2