
Topik tentang sekolah langsung terlupakan saat Amanda bertanya, "Tadi malam lo nge-date ya sama Ghevin?"
"Iya," jawab Rani cepat dan tanpa ragu. Dan merasa Amanda tidak akan tahu dia berbohong, dia juga menambahkan, "Gue emang lagi dekat sama Ghevin."
Dengan puas Rani menyaksikan wajah Amanda berubah sayu. Tapi Amanda berusaha menutupinya dengan tersenyum.
"Sejak kapan?" tanya Amanda, seakan menyelidiki apakah benar Rani sedang dekat dengan Ghevin.
"Udah lama," jawab Rani. Lalu untuk menghindari Amanda bertanya kenapa dia dan Ghevin tidak juga berpacaran padahal mereka sudah lama dekat, Rani pun berkata, "Karena itu, boleh dong gue tanya sama lo apa yang kalian bicarakan tadi malam?"
Menurutnya, tidak hanya dari Ghevin dan Melly saja, dia juga bisa mendapatkan jawabannya dari Amanda.
"Dalam waktu singkat begitu, kami cuma bertukar kabar," kata Amanda, membenarkan tebakan Melly. "Kami juga janjian untuk ketemu lagi di sana malam ini."
"Apa?" ceplos Rani kaget. "Buat apa? Nggak ada lagi yang perlu kalian bicarakan. Hubungan kalian kan udah berakhir."
Amanda sempat kaget dengan kata-kata Rani yang blak-blakan, tapi karena setahunya Rani sedang dekat dengan Ghevin, tatapannya pun berubah mengerti.
__ADS_1
"Rani," kata Amanda. "Lo suka ya sama Ghevin?"
Rani tertawa sinis. "Suka?" ulangnya. Dia paling benci kalau ada yang meremehkan perasaan yang dimilikinya pada Ghevin selama tiga setengah tahun ini dan menganggapnya sebagai perasaan suka belaka. "Lebih dari sekadar suka, gue cinta mati sama dia."
"Bukan cuma lo aja yang cinta mati sama dia," kata Amanda.
"Keterlaluan. Nih cewek udah menabuh genderang perang sama gue. Oke kalo begitu, siapa takut!"
"Lo nggak tahu gimana sakitnya saat lo mencintai seseorang dan orang itu malah mencampakkan lo begitu aja," lanjut Amanda. Matanya mulai berkaca-kaca.
"Cih, apa dipikirnya kalo dia nangis terus gue akan kasihan sama dia?"
"Ghevin kan sekarang udah tahu kalo gue adik Tristan," kata Amanda. "Jadi dia nggak akan mencampakkan gue lagi."
"Nggak!" geleng Rani kuat-kuat. "Pokoknya nggak boleh! Lo harus ngebatalin pertemuan kalian malam ini. Batalin!"
Amanda tersenyum sedih. "Maaf, Ran," katanya. "Untuk hal lain, mungkin gue mau mengalah, tapi nggak untuk Ghevin." Setelah itu dia langsung berbalik menuju mobilnya.
__ADS_1
"Lo egois, tahu nggak?" teriak Rani marah pada punggung Amanda. "Egois!"
Rani tidak peduli pada tatapan bingung yang diarahkan beberapa orang yang ada di pelataran parkir—termasuk pria berkumis lebat itu yang seperti biasa muncul lagi—karena Rani sudah berteriak-teriak seperti itu. Malah ingin rasanya Rani mengejar Amanda dan menjambaknya. Tapi Rani tidak ingin Ghevin tahu kalau dia bertindak sekasar itu pada mantan pacarnya, karena siapa tahu saja Amanda akan mengadu pada Ghevin untuk menjelek-jelekkan namanya.
Rani menatap mobil Martin tanpa minat. Dia tidak bisa menemuinya dengan suasana hati seperti itu. Bisa-bisa kemarahannya pada Amanda malah dia lampiaskan pada Martin. Jadi dia memutuskan untuk kembali ke motornya dan bergegas pulang.
***
Amanda salah kalau menyangka Rani akan berpangku tangan saja. Meskipun dirinya tidak bisa membuat Amanda membatalkan pertemuannya dengan Ghevin, sebagai gantinya, Rani memilih untuk mengawasi pertemuan mereka.
Masalahnya, Rani tidak tahu waktu pertemuan mereka. Tebakannya pukul tujuh malam, sama dengan waktu pertemuan mereka dengan Tristan tadi malam.
Sebagai persiapan, Rani memakai serba hitam—mulai dari sepatu, celana jins, kaus, jaket, sampai dengan topi, semuanya hitam. Tadinya dia ingin melengkapinya dengan kaca mata hitam, tapi aksesoris itu urung dikenakannya.
"Masa gue harus pakai kaca mata hitam malam-malam? Ntar gue dikira orang aneh lagi."
.
__ADS_1
(Bersambung)