Gejolak Masa Muda 2

Gejolak Masa Muda 2
Miko Marah


__ADS_3

Setelah menikmati kencan pertamanya bersama Ghevin, Rani memutuskan untuk kembali melanjutkan tugasnya sebagai mata-mata Ghevin.


Tapi sekembalinya Rani pada tugasnya sebagai mata-mata Ghevin, bukannya menemui Martin, dia justru menguntitnya. Ketika melakukannya pertama kali dulu, Rani berhasil membongkar keterlibatan Shandy. Kini dia berharap hal berguna lainnya bisa dibongkar juga. Namun sayangnya dua kali Rani menguntitnya, dan dua kali juga Martin hanya pulang ke rumahnya. Akhirnya Rani hanya tahu rumahnya. Rumah Martin cukup besar, meski tidak sebesar rumah Tristan.


Disebabkan dua kali penguntitannya berakhir di rumah Martin, Rani pun memilih untuk menemui Martin saja. Tapi sebelum melakukan itu, dia bertekad menguntit Martin untuk yang terakhir kalinya. Dan ternyata kali ini dia beruntung. Rani melihat Martin masuk ke mobilnya bersama empat anggota gengnya. Itu berarti Martin tidak mungkin pulang ke rumahnya, kan?


Memang benar, ternyata Martin menuju ke tempat lain, karena arah yang diambilnya berbeda. Cukup lama Rani menguntitnya, sampai ke daerah yang cukup sepi. Tiba-tiba mobil Martin memasuki pelataran parkir pabrik yang terbengkalai, dan parkir di sana. Kemudian Martin dan empat anggota gengnya turun dari mobil. Mereka disambut dan dipersilakan masuk ke pabrik oleh pria gemuk yang—kalau dilihat dari penampilannya yang sangar—sepertinya preman.


"Sedang apa ya mereka di sini? Bersama dengan preman, lagi. Tapi dalam insiden foto-foto Ghevin, Martin kan memang berurusan dengan geng preman yang bernama geng Chebol. Apa preman itu anggota geng Chebol? Dan apa pabrik ini markas geng Chebol?"

__ADS_1


Bermacam pertanyaan singgah di benak Rani. Tak mau pusing memikiran itu, Rani pun berniat menelepon Miko untuk menanyakan lebih lanjut mengenai geng Chebol, dan berharap mendapatkan jawaban atas bermacam pertanyaannya itu.


Tapi sebelum Rani sempat mengeluarkan ponsel, dia melihat preman lain, yang berkepala botak keluar dari pintu gerbang pabrik. Rani pun langsung kelabakan mencari tempat bersembunyi, sebab posisinya saat ini—nangkring di atas motor yang berada di depan pabrik, tidak jauh dari pintu gerbangnya—begitu rentan.


Sayangnya, tidak ada tempat bersembunyi, yang bisa sekalian menyembunyikan motornya. Rani jelas tidak mungkin meninggalkan motornya. Bisa-bisa motornya malah hilang dicuri preman itu. Karena tidak dapat menemukan tempat bersembunyi. Akibatnya, dia pun ketahuan.


”Eh, ada Neng Cantik,” sapa preman itu sambil menyeringai mengerikan. Mungkin hanya Rani satu-satunya cewek yang pernah dilihatnya di sekitar pabrik itu. ”Ngapain Neng di sini? Mau nemenin Abang?”


”Lo kok nekat banget sih nguntit Martin sampai ke tempat berbahaya kayak gitu?” tuntut Miko marah.

__ADS_1


”Tapi gue nggak apa-apa kok.” Rani berusaha menenangkan Miko.


”Untungnya lo nggak apa-apa,” tandas Miko, menekankan pada kata ”untungnya”. ”Serius nih, Ran. Sekali lagi lo membahayakan diri lo kayak gitu, akan gue pastikan Ghevin sendiri yang akan menghentikan lo.”


”Iya, iya, nggak lagi-lagi deh,” kata Rani mengalah.


Ancaman dari Miko jelas bukan ancaman kosong. Dan untuk mencegah Miko membuka mulut pada Ghevin, sepertinya Rani memang tidak boleh lagi membahayakan dirinya seperti tadi. Atau setidaknya, jangan sampai Miko mengetahuinya.


.

__ADS_1


(Bersambung)


__ADS_2