Gejolak Masa Muda 2

Gejolak Masa Muda 2
Geram


__ADS_3

Ghevin tampak terkejut ketika melihat Rani. Dia segera berdiri untuk menyambutnya. Heran karena Ghevin tiba-tiba berdiri, Amanda menoleh, dan tatapannya yang tidak kalah terkejut dari Ghevin pun ikut jatuh pada Rani.


"Hai, Ran," sapa Ghevin. "Kejutan banget."


Demi Ghevin, meski mood-nya sudah hancur berantakan karena kehadiran Amanda, Rani memaksakan senyum di wajahnya.


"Nggak nyangka kan gue bakal nongol di sini?" cetus Rani.


"Nggak nyangka banget," tanggap Ghevin. "Kok lo bisa ke sini? Bareng Miko, lagi."


Dan Rani pun memberikan alasan yang sudah dirancang Miko saat di motor tadi. Ghevin percaya-percaya saja, mungkin karena tahu Rani memang sering tidak ada kerjaan. Rani melihat Amanda tersenyum sambil melambai padanya, tapi dengan sengaja Rani melengos. Rani begitu biar Amanda tahu kalau dirinya tidak senang Amanda ada di tempat itu juga.


Ghevin meninggalkan Rani sejenak, lalu kembali sambil membawa Coca-Cola. Diberikannya Coca-Cola itu pada Rani. Rani pun berterima kasih padanya, dan berharap Ghevin mau menemaninya, tapi dia malah kembali pada Amanda.


Miko lalu mengajak Rani duduk di bangku yang berseberangan dengan bangku yang diduduki Ghevin—di antara mereka dipisahkan meja biliar. Rani hampir lupa dengan tujuan utamanya datang ke situ, dan baru diingatkan dengan pertanyaan Miko.


"Jadi, apa cowok itu ada di sini?"

__ADS_1


Rani lantas mengedarkan pandangan ke sekeliling ruang main biliar. Sebagian besar anggota geng Ghevin masih mengenakan seragam sekolah, jadi dia bisa mengenali mereka.


"Mmm... nggak ada," gumam Rani, sambil terus mengedarkan pandangan. "Eh, tunggu!"


Di pojok ruangan, agak tersembunyi di balik tubuh anggota geng lain, Rani melihat cowok itu. Dia juga melihat Rani, dan dilihat dari matanya yang mendadak membesar penuh rasa takut, Rani tahu cowok itu mengenali dirinya sebagai cewek yang kemarin sore. Mungkin disangkanya Rani menyaksikan saat ia berbicara dengan Martin kemarin. Rani memang melihatnya, tapi dia tidak tahu.


Cowok itu berdiri dan berjalan cepat-cepat menuju pintu keluar. Tapi, sebelum dia keluar, Rani sempat memberitahu Miko bahwa dialah cowok yang dimaksud.


"Namanya Shandy," kata Miko. "Dia emang rada-rada pengecut sih. Jadi nggak heran kalo dia mudah dimanfaatkan Martin."


"Nggak perlu. Toh dia juga nggak bisa ke mana-mana."


"Seenggaknya kasih tahu Ghevin dong."


"Nanti. Ghevin-nya juga lagi sibuk." Ghevin memang sedang sibuk dengan Amanda.


Sekarang, setelah tujuan utamanya datang ke situ tercapai, Rani jadi bisa mengamati interaksi Ghevin dan Amanda dengan lebih saksama. Dan bisa dibilang, Rani sama sekali tidak menyukainya.

__ADS_1


Rani tidak suka cara Ghevin memandangi Amanda. Rani tidak suka cara Ghevin berbicara pada Amanda. Rani tidak suka cara Ghevin dan Amanda duduk berdempetan. Rani tidak suka cara tangan Ghevin, entah disengaja atau tidak, menyentuh tangan Amanda. Dan Rani paling tidak suka cara Ghevin berbisik di telinga Amanda, dan Amanda balas berbisik di telinganya, lalu mereka tertawa bersama-sama.


Rani kemudian mencengkeram kaleng Coca-Cola di tangannya dengan geram. "Sialan, kenapa mereka malah mesra-mesraan di depan gue seperti itu?"


"Ran, mau dibukain Coca-Cola-nya?" tanya Miko berbaik hati.


Rani melirik Miko, yang tampaknya tidak tahu kalau dirinya sedang geram. Tapi Rani tetap memberikan Coca-Cola itu untuk dibukakan olehnya. Ketika Miko memberikannya balik pada Rani, Rani langsung minum dengan ganas, dan sodanya seakan menyetrika kerongkongannya.


"Pelan-pelan, Ran, minumnya," saran Miko.


Setelah Coca-Cola-nya tandas, dengan asal-asalan Rani melempar kaleng kosongnya ke tong sampah terdekat. Dan ternyata lemparannya masuk. Andai Rani juga bisa melempar Amanda ke tong sampah... pasti keren.


.


.


(Bersambung)

__ADS_1


__ADS_2