
Miko sudah duduk di salah satu meja yang terletak di sebelah kaca ketika Rani tiba di Kafe Bob Rock. Miko tampak sedang sibuk memainkan ponselnya sehingga tidak melihat Rani. Sembari berjalan ke arah Miko, Rani mengamatinya. Miko berwajah cute dan—menurut Melly—memiliki senyum sangat menawan.
Rani setuju dengan Melly. Rani memang jarang bertemu Miko, tapi pada sedikit kesempatan itu, beberapa kali Rani melihat senyumnya. Miko menyukai Melly, tapi Melly tidak bisa menyukainya lebih dari sekadar teman. Kini mereka tetap berteman, meski Rani tidak tahu apakah Miko masih menyukai Melly. Sepertinya sih masih.
Menurut Rani, Miko tidak cocok menjadi anggota geng. Alasannya tentu tidak ada hubungannya dengan fisiknya—kalau itu sih masalah Billy—tapi karena Miko sangat baik. Tapi bukan berarti Rani menganggap semua anggota geng pasti jahat. Rani tidak akan menjelek-jelekkan anggota geng sebab Ghevin sendiri ketua geng. Hanya saja, kebaikan Miko berbanding terbalik dengan kekerasan yang biasanya dilakukan anggota geng.
"Miko," panggil Rani begitu tiba di dekat meja Miko.
Miko mendongak dari ponselnya dan memperlihatkan senyum menawannya. "Rani," balasnya.
Rani duduk di hadapan Miko. "Udah lama nunggunya?" tanya Rani.
Miko menggeleng. "Baru sebentar kok," katanya. "Gue baru aja pesan minuman. Lo mau pesan apa?"
"Gue jus jeruk aja," kata Rani.
Miko lantas memanggil pramusaji dan memesankan Rani jus jeruk. Setelah pramusaji itu berlalu, tanpa berbasa-basi lagi Miko bertanya, "Jadi, apa hal penting yang mau lo omongin sama gue?"
Rani pun mulai menceritakan pada Miko tentang niat Martin dan pertemuannya dengan Ghevin kemarin. Miko mendengarkan cerita Rani dengan tekun. Cerita Rani hanya disela sekali saat pramusaji mengantarkan pesanan mereka.
"Ghevin bilang emang ada masalah antar geng," kata Rani di akhir ceritanya. "Tapi masalah antar geng kayak gimana sih maksudnya?"
Kini giliran Miko yang bercerita. "Sekitar dua minggu lalu, ada anggota geng kami dan anggota geng Martin yang berantem," mulainya. "Gue nggak tahu siapa yang lebih dulu memulainya, tapi yang jelas, anggota geng kami babak belur dan ngadu ke Ghevin. Ghevin pun membalas anggota geng Martin itu. Lalu, seminggu setelahnya, Martin sendiri yang mendatangi Ghevin."
"Buat apa dia mendatangi Ghevin?" tanya Rani.
Miko mengangkat bahu. "Entahlah," sahutnya. "Gue juga heran kenapa Martin senekat itu. Gue sih udah nanya sama Ghevin, tapi dia nggak mau jawab."
__ADS_1
"Terus apa yang terjadi?" tanya Rani lagi.
"Mereka berantem," sahut Miko. "Tapi Martin jelas bukan tandingan Ghevin, dan keadaannya semakin parah setelah Ghevin dibantu dua anggota geng kami. Kalo satu lawan satu aja Martin masih belum tentu menang, apalagi ditambah dua orang lagi."
Jadi itu pemicunya. Tapi Rani tetap tidak bisa membenarkan niat Martin. Kalau dia tidak bisa melawan Ghevin, ya sudahlah, tidak perlu sampai berniat menghancurkan geng Ghevin segala.
"Gue nggak nyangka Martin sampai sedendam itu sama Ghevin," kata Miko. "Lo nggak tau apa rencananya, ya?"
"Nggak," kata Rani. "Tapi gue punya cara untuk mengetahuinya."
Miko tampak tertarik. "Oh, ya?" cetusnya. "Gimana caranya?"
Inilah saatnya Rani untuk menyampaikan ide geniusnya. Miko pasti akan bertepuk tangan setelah mendengarnya. "Gue akan menjadi mata-mata Ghevin."
Bukannya bertepuk tangan, Miko malah bengong. "Mata-mata? Serius lo?" ulangnya tidak yakin.
"Terus apa kata Ghevin tentang itu?" tanya Miko.
"Mmm... Ghevin nggak tahu tentang itu," aku Rani. "Dan sebenarnya gue nggak mau dia tahu. Dia pasti nggak akan setuju."
"Tapi lo kan belum nyoba ngomong sama dia," kata Miko.
"Percuma," sergah Rani. "Yang ada ide genius gue bakalan sia-sia. Lebih baik gue melakukannya secara diam-diam. Untuk itu gue butuh bantuan lo. Kalo gue udah berhasil mendapatkan informasi dari Martin, gue mau lo yang menyampaikannya ke Ghevin. Lo bisa bilang lo mendapatkan informasi itu sendiri, atau dari orang lain yang bukan gue. Gimana? Lo mau jadi rekan gue?"
"Gue nggak bisa, Ran," tolak Miko tanpa berpikir lama-lama.
"Kenapa nggak bisa?" tuntut Rani.
__ADS_1
"Karena itu sangat berbahaya," kata Miko.
"Nggak seberbahaya yang lo pikir kok," kata Rani. "Martin nggak akan tahu gue mata-mata Ghevin. Gue akan melakukannya dengan sangat berhati-hati."
"Tapi nggak seharusnya lo melibatkan diri dalam masalah geng kami," kata Miko. "Kalo ntar ada apa-apa, lo akan kebawa-bawa."
"Gue udah siap kok dengan segala konsekuensinya," kata Rani, meski sebenarnya sama sekali tidak pernah terlintas di pikirannya soal konsekuensi yang harus dia hadapi. "Jadi bantuin gue ya, Mik? Please?"
Sepertinya Miko menghadapi dilema. Di satu sisi, dia ingin Rani membantu gengnya. Tapi di sisi lain, dia tidak ingin membahayakan Rani.
"Kalo lo nggak mau, gue akan minta tolong sama yang lain," ancam Rani, sembari berdiri.
Sebenarnya Rani hanya menggertak, karena dia tidak serius ingin minta tolong pada yang lain. Hanya Miko satu-satunya orang yang Rani inginkan menjadi rekannya. Karena menurutnya, Miko orang yang tepat untuk membantu misinya.
"Tunggu!" kata Miko akhirnya.
Termakan juga si Miko. Sambil tertawa dalam hati, Rani pun duduk kembali dan menunggu Miko melanjutkan ucapannya.
Miko mendesah berkali-kali seolah sulit baginya untuk mengambil keputusan. "Oke," katanya. "Gue setuju menjadi rekan lo, dengan satu syarat."
Apa pun syarat dari Miko, selama masih masuk akal, Rani akan menyetujuinya. Itu masih lebih baik daripada Miko menolak mentah-mentah.
"Kalo nyampe ada masalah, sekecil apa pun, lo langsung hubungin gue," lanjut Miko. "Oke?"
"Oke, soal gampang itu," sahut Rani mantap.
Setelah membuat kesepakatan bersama, mereka pun menikmati minuman mereka masing-masing.
__ADS_1
(BERSAMBUNG)