
Rani masuk ke bangunan sekolah, dan kebetulan melihat Martin berjalan di koridor. Martin baru akan menaiki tangga menuju lantai dua ketika Rani memanggilnya.
”Gue masih ada urusan di atas,” kata Martin begitu Rani tiba di dekatnya.
”Nggak apa-apa. Lo urus aja urusan lo itu,” kata Rani. ”Tapi habis itu apa lo mau ngantar gue pulang?”
Wajah Martin seolah Rani baru bertanya padanya apakah Martin mau jika rambutnya dicukur hingga botak. ”Emangnya tadi lo naik apa ke sini?”
”Naik ojek, soalnya motor gue lagi di bengkel,” dusta Rani.
”Lo tetap bela-belain ke sini meskipun harus naik ojek?” tanya Martin tidak percaya.
”Soalnya gue mau ketemu lo,” sahut Rani, berusaha merebut hati Martin.
”Terus kenapa lo nggak pulang naik ojek juga?” kejar Martin.
”Gue kan berharap lo mau ngantar gue pulang,” kata Rani. ”Lo mau, kan? Sekali ini aja.”
Martin menimbang-nimbang sejenak, kemudian berkata, ”Oke.”
Meskipun itu memang harapan Rani, tetap saja dia terkejut karena Martin benar-benar mau mengantarnya pulang. Dan ketika Martin sudah menaiki beberapa anak tangga, mendadak Rani memiliki rencana lain.
__ADS_1
”Tunggu!” seru Rani, membuat Martin berhenti di tengah-tengah tangga dan menoleh ke bawah. ”Apa gue boleh nunggu di mobil lo? Habis cuacanya lagi panas banget.” Rani berpura-pura mengipas-ngipas dengan tangannya.
”Biasanya kan lo nggak pernah masalah meskipun cuacanya panas.”
”Tapi nggak pernah sepanas ini.”
Martin menyipitkan matanya dengan curiga. ”Jangan-jangan lo mau bawa kabur mobil gue,” tuduhnya.
Rani mendengus. ”Gue bahkan nggak bisa nyetir mobil,” tukasnya. ”Gue cuma bisa nyalain mesinnya.”
”Gue kan nggak tahu itu benar atau nggak,” kata Martin. ”Dan lagi pula, siapa tahu lo punya komplotan.”
"Komplotan apa pula?"
Akhirnya Martin mau juga memberikan kunci mobilnya, meskipun dengan cara melemparnya pada Rani, membuat Rani nyaris nyungsep saat berusaha menangkapnya.
”Satpam di tempat parkir nggak akan ngizinin mobil gue ke luar dari tempat parkir kalo bukan gue yang bawa,” kata Martin, masih saja mencurigai Rani. ”Jadi lo ingat-ingat aja hal itu kalo tetap mau nyoba bawa kabur mobil gue.” Setelah itu dia kembali melanjutkan langkahnya menaiki tangga.
Rani menjulurkan lidah pada punggung Martin. Dia kesal sekali karena Martin mencurigainya. Tapi di luar kecurigaannya itu, sepertinya Martin sudah mulai sedikit memercayai Rani. Kunci mobil itu buktinya.
Rani setengah berlari ke pelataran parkir sekolah. Dia menuju mobil Martin, dan membuka pintu penumpang belakangnya. Betapa senangnya Rani melihat laptop Martin, mungkin sama senangnya seperti melihat tumpukan uang. Rani kemudian mengangkat laptop itu, mendudukkan dirinya di jok, lalu meletakkan laptop itu di pangkuannya.
__ADS_1
Rani segera menyalakan laptop, dan ketika tiba saatnya untuk memasukkan password, dia sampai berdoa supaya berhasil.
"Oke, gue akan mengetikkan nama kakak Martin. Eh, siapa ya nama kakaknya?"
Tidak lucu kalau Rani sampai lupa. Dia terus memutar otaknya, sampai nama David terlintas dengan sendirinya.
"Ah iya, nama kakak Martin adalah David."
Jadi Rani pun memasukkan nama itu. DAVID.
Gagal.
Rani sampai terbelalak. "Nggak mungkin! Nggak mungkin nama kakak Martin gagal!"
Rani sampai mencobanya sekali lagi, menyangka mungkin tadi dia salah ketik huruf, tapi tetap saja gagal. Padahal dia sudah begitu yakin...
Rani langsung menyandar ke jok, dia benar-benar lemas. Menurutnya, seharusnya Martin menggunakan nama kakaknya. Habis kalau bukan itu, apa lagi password-nya?
Selama beberapa saat, Rani hanya memandangi layar laptop. Seandainya dia tahu lebih banyak tentang Martin, pasti ada alternatif password yang bisa dimasukkan. Apakah Rani memang tidak akan pernah bisa membuka laptop itu?
.
__ADS_1
.
(Bsb)