
Mulanya Rani pikir begitu, dia akan jatuh dan terkapar di lapangan. Dia bahkan sudah memejamkan mata dan menanti rasa sakit itu tiba, sambil dalam hati merutuk Amanda.
"Sialan dia, bikin gue jadi jatuh kayak gini."
Tapi ternyata ada yang menahan tubuhnya. Rani bisa merasakan tangan yang melingkar di punggungnya. Rani pun membuka mata, dan melihat wajah cowok paling jutek yang pernah dia lihat seumur hidupnya, dibingkai rambut ikal berantakan. Seandainya saja cowok yang berada dalam posisi seperti ini Ghevin, pasti dia sudah dikecup Rani dari tadi.
Cowok itu membantu hingga Rani bisa berdiri tegak kembali. Rani baru akan mengucapkan terima kasih padanya, tapi urung melakukannya begitu melihat wajah juteknya berkerut tidak senang.
"Lain kali hati-hati dong," omel cowok itu.
Rani hanya bisa bengong sementara cowok itu berlalu pergi. "Cih, sombong banget. Gue kan juga bukannya sengaja jatuh."
Rani kemudian berpaling ke tempat terakhirnya melihat Amanda dan ternyata cewek itu sudah tidak ada. Yah sudahlah. Lagi pula, Rani juga tidak berniat menghampiri dan mengajaknya mengobrol. Bisa-bisa Rani malah menggaruk wajah Amanda dengan garpu.
Tiba-tiba seseorang menepuk pundak Rani, dan ketika dia menoleh, dia melihat Billy berdiri sambil membawa map merah.
Billy menatap Rani ternganga. "Ran, kenapa lo peluk-pelukan begitu sama cowok?"
Rani menepuk keningnya. Astaga, kenapa Billy mengira Rani habis berpelukan dengan sembarang cowok? Apalagi Rani tidak mengenal cowok itu.
"Gue nggak peluk-pelukan kok," tukas Rani. "Tadi gue mau jatuh, terus tuh cowok nolongin."
"Beneran?" selidik Billy.
"Ya beneran lah. Ngapain gue bohong?" sungut Rani. "Lagian gue nggak akan selingkuh dari Ghevin."
Padahal Rani bukan pacar Ghevin, jadi tidak tepat kalau dibilang selingkuh. Tapi tetap saja dia merasa bersalah pada Ghevin kalau ada main dengan cowok lain.
"Justru itu," tandas Billy. "Gue pikir lo sengaja meluk tuh cowok karena tau dia ketua geng di sini, sama kayak Ghevin ketua geng di Ganesha."
Rani tercengang. "Serius lo? Tuh cowok ketua geng di sini?" ulang Rani memastikan.
Billy mengangguk. "Namanya Martin Julian," katanya. "Dia emang nggak seterkenal Ghevin atau Tristan. Gue juga baru tahu tentang dia gara-gara mau sekolah di sini."
__ADS_1
"Pantesan lagaknya sok begitu. Ternyata dia emang punya posisi penting di sini."
Tapi Billy salah kalau dia mengira Rani akan tertarik pada cowok bernama Martin hanya karena dia ketua geng. Dibanding Ghevin, dia jelas kalah keren.
"Tapi, Ran," kata Billy. "Tadi lo bersikap hormat kan sama dia? Maksud gue, lo nggak ngomong yang macem-macem, kan? Mulut lo kan suka cablak."
"Sembarangan aja Billy ngatain mulut gue!"
"Nggak, gue nggak ngomong macem-macem," kata Rani. "Malah gue nggak sempet ngomong apa-apa sama dia." Lalu Rani menatap Billy, penasaran. "Emangnya kenapa lo tanya begitu?"
Billy menggaruk-garuk kepalanya dengan salah tingkah. "Yah... gue kan berniat jadi anggota geng di sini."
Nyaris saja tawa Rani menyembur. "Lo? Jadi anggota geng?" serunya tidak percaya. "Jiaahhh... lo mah ditowel dikit juga mental."
Billy tampak keki dibilang begitu. Habis, mau bagaimana lagi? Badan Billy yang agak pendek dan kurus membuatnya tidak cocok menjadi anggota geng. Belum lagi wajahnya seperti bayi. Menurut Rani, dia lebih cocok bermain kelereng bersama anak tetangga mereka. Bukannya selama ini Billy tidak pernah melakukan itu sih.
Namun dengan cepat wajah Billy berubah cerah kembali. "Eh, Ran, tadi sekilas gue ngelihat cewek yang gue taksir lho," ceritanya. "Dia baru keluar kelas bareng temen-temennya."
Mendadak firasat Rani menjadi tidak enak. Jangan-jangan...
Mata Billy membesar. "Kok lo tahu? Lo lihat dia juga, ya?"
"Aaaaahhh... ternyata bener! Cewek yang ditaksir adik gue Amanda. Dasar Billy begooo!"
"Gue kenal sama tuh cewek," cetus Rani. "Namanya Amanda, adik Tristan. Dan yang lebih penting..." Rani mendekatkan wajahnya ke wajah Billy hingga hanya berjarak beberapa senti, "dia mantan pacar Ghevin."
Billy begitu kaget sampai hampir menabrakkan keningnya ke kening Rani. Rani pun langsung melompat mundur untuk menghindar.
"Cowok-cowok di sekitarnya serem-serem amat," komentar Billy ngeri.
"Nah, itu lo tahu, kan," tanggap Rani. "Makanya, jangan sok-sokan mau PDKT ke dia segala."
Billy memang belum bilang mau pendekatan ke Amanda, tapi ujung-ujungnya pasti mengarah ke situ. Rani pun berpikir untuk mencegahnya. Dia kan tidak mau Amanda menjadi adik iparnya.
__ADS_1
"Tapi masalahnya, Ran, gue bener-bener naksir dia," kata Billy. "Gue nggak pernah ngerasain yang kayak gini sama cewek lain sebelumnya."
"Nggak," tolak Rani. "Pokoknya nggak boleh. Lo nggak boleh naksir Amanda, apalagi nyampe ngejadiin dia pacar lo segala."
"Lho, kenapa?" tanya Billy.
"Masih tanya kenapa, lagi. Gue ledakin juga nih si Billy lama-lama."
"Karena gue nggak suka sama dia," jelas Rani, berusaha sabar. "Dia kan mantan pacar Ghevin, yang berarti dia musuh gue."
"Kan udah mantan," kata Billy keras kepala.
"Tetep aja, dulunya kan dia pacar Ghevin," sergah Rani.
"Bukannya seharusnya lo seneng kalo gue macarin dia? Itu kan berarti dia nggak akan balikan sama Ghevin."
Wah, benar juga. Amanda tidak akan mengharapkan Ghevin lagi kalau dia punya pacar baru. Dengan begitu Rani tidak akan ketakutan kalau suatu saat mereka akan kembali bersama.
Tapi tidak. Kalau Amanda berpacaran dengan Billy, lalu Rani berpacaran dengan Ghevin, maka kesempatan mereka untuk bertemu akan semakin besar. Rani harus menjauhkan Amanda dari lingkungannya. Biar cowok lain saja yang nanti jadi pacar barunya.
"Kalo lo tetep ngotot mau macarin Amanda, lo nggak boleh minjem motor gue lagi," ancam Rani.
"Lha, kan emang udah nggak boleh dari kemarin-kemarin," kata Billy heran.
"Oh iya, gue lupa. Gue akan anggap lo nggak sayang sama gue lagi," ralat Rani.
"Emangnya siapa yang sayang sama lo?" Billy membalikkan.
Rani langsung mati kutu. Sambil mengentakkan kaki, dia langsung berbalik dan berjalan menuju pelataran parkir sekolah. Bisa Rani dengar Billy mengikutinya di belakang.
"Huh, suka-suka lo lah! Lagian, belum tentu Amanda mau sama lo. Kalo mantan pacarnya aja Ghevin, berarti selera Amanda bener-bener tinggi. Lo sih nggak ada apa-apanya dibanding Ghevin."
Sebagai aksi ngambeknya, Rani sengaja mendiamkan Billy sepanjang perjalanan pulang. Rani biarkan saja Billy berciap-ciap sendirian di belakangnya. Sepertinya Billy masih membicarakan Amanda.
__ADS_1
Karena setelah ini Rani masih harus mengerjakan tugas kelompok biologinya di rumah Melly, jadi begitu sampai di rumah, dia langsung mandi dan berdandan. Rani kan harus tampil cantik untuk bertemu Ghevin. Billy sempat berpesan agar Rani membeli makanan ketika pulang, tapi Rani hanya bergumam tak jelas sebagai jawabannya.
(BERSAMBUNG)