Gejolak Masa Muda 2

Gejolak Masa Muda 2
Kado Dari Ghevin


__ADS_3

Jejak-jejak langkah kaki Rani dan Ghevin di pasir sudah sangat panjang ketika mereka memutuskan pulang. Kalau mengikuti kata hati, sebenarnya Rani masih ingin bersama Ghevin. Tapi dia tahu hari yang indah ini memang harus segera berakhir.


Sungguh luar biasa bahwa seorang Ghevin Joachim Alexander mau menghabiskan satu harinya bersama Rani. Ghevin bahkan sama sekali tidak mengeluarkan ponselnya, padahal Rani yakin banyak cewek yang meneleponnya. Seluruh perhatian Ghevin hanya dicurahkan kepada Rani, dan Rani sangat menghargainya.


Rasanya cepat sekali mereka sampai di depan rumah Rani. Belum sempat Rani mengucapkan apa-apa pada Ghevin, tiba-tiba Ghevin mengulurkan tangan ke arah dasbor dan membukanya, lalu mengeluarkan kotak beledu hitam. Diberikannya kotak itu kepada Rani sementara Rani hanya memandangi kotak itu dengan wajah bingung.


”Itu kado ultah buat lo,” Ghevin menjelaskan kebingungan Rani.


Rani sampai tercengang. ”Lo nggak perlu ngasih gue kado apa-apa,” kata Rani tidak enak. ”Lo mau nemenin gue ke Dufan aja udah cukup kok.”


”Tetap aja, rasanya nggak afdal kalo gue nggak ngasih lo kado apa-apa,” kata Ghevin.


Rani mengelus permukaan kotak itu. ”Boleh gue buka sekarang?”


”Buka aja.” Ghevin mempersilakan.


Rani sampai menahan napas ketika membuka kotak itu. Dia memang penasaran akan isinya.


"Cincinkah? Kayaknya bukan, karena ukuran kotaknya sedikit lebih besar."


Astaga, bisa-bisanya Rani menebak isinya cincin! Padahal Ghevin hanya memberikan kado ulang tahun kepadanya, bukan melamarnya.

__ADS_1


Ternyata setelah dibuka, isi kotak itu gelang perak bermotif daun. Menurut Rani, itu gelang terindah yang pernah dilihat seumur hidupnya. Mungkin pendapatnya sedikit bias karena yang memberikan gelang itu Ghevin, tapi intinya, dia sangat menyukai gelang itu.


”Ghev, gelangnya bagus banget,” puji Rani.


”Gue yang milih gelang itu sendiri,” aku Ghevin. ”Tadinya gue takut nggak sesuai dengan selera lo, tapi untunglah lo suka.”


Kenyataan bahwa Ghevin sendiri yang memilih gelang itu, setelah sebelumnya Rani sempat berpikir kalau Ghevin meminta Melly untuk membantunya memilih kado, semakin menambah nilai gelang itu di mata Rani.


”Pasti akan gue pakai setiap hari,” janji Rani.


”Nggak setiap hari juga nggak apa-apa kok,” kata Ghevin.


”Makasih ya, Ghev,” ucap Rani. ”Makasih untuk gelang ini, dan makasih juga karena lo mau nemenin gue ke Dufan. Gue senang banget hari ini, jadi makasih ya.”


Ghevin tersenyum geli. ”Dalam waktu kurang dari semenit, lo udah empat kali ngucapin makasih sama gue,” katanya.


Wah, Rani sendiri bahkan tidak sadar. Tapi mungkin karena dirinya begitu berterima kasih pada Ghevin, sehingga sekali saja mengucapkannya rasanya belum cukup.


”Kalo begitu, untuk yang kelima kalinya, makasih ya, Ghev,” tambah Rani, sedikit menggoda Ghevin.


”Sama-sama, Rani,” balas Ghevin. ”Dan bukan cuma lo, gue juga senang banget hari ini.”

__ADS_1


Ucapan Ghevin sungguh melegakan perasaan Rani, karena bukan cuma dia saja yang menikmati kencan pertama mereka yang masih terbayang-bayang bahkan sampai dirinya sudah berbaring di ranjangnya malam itu. Secara bergantian, Rani memandangi fotonya dengan Ghevin di ponselnya dan gelang di pergelangan tangannya. Rasanya dia sudah tidak sabar ingin memamerkannya pada Billy dan Melly.


Billy sudah tidur tadi, dan sayangnya dia mengunci pintu kamarnya, sehingga Rani tidak bisa membangunkannya dengan paksa. Kalau hanya sekadar mengetuk pintu kamarnya, sampai dunia kiamat juga Billy tidak akan bangun. Billy memang lebih parah dari kerbau kalau sudah tidur.


Yang terjadi kemudian adalah entah sudah berapa juta kali Rani berhasil memamerkan fotonya dengan Ghevin dan gelang itu pada Billy dan Melly. Awalnya mereka memang tertarik, dan bahkan meminta Rani menceritakan kencan pertamanya dengan Ghevin. Tapi lama-kelamaan mereka mulai muak karena Rani tidak henti-hentinya bercerita, membuat mereka jadi hafal hingga ke detail terkecil sekalipun.


...*************...


Lux : Biarin ya, Ran, namanya juga lagi seneng. Bawaannya pingin cerita terus


Rani : Iya Kak, tahu aja ih..Hhee


Lux : Ydh, sekarang istirahat. Besok siap kan kalo disuruh ngelanjutin tugasnya sebagai mata-mata Ghevin?


Rani : Buat Ghevin, selalu siap Kak!


Lux : Good girl


Rani : Thanks


(Bersambung)

__ADS_1


__ADS_2