Gejolak Masa Muda 2

Gejolak Masa Muda 2
Penjelasan Ghevin


__ADS_3

Rani dan Ghevin sama-sama diam hingga tiba di mobil. Ghevin yang terlebih dulu membuka suara, beberapa saat setelah mobil meninggalkan hotel.


”Ran, sebenarnya ada apa antara lo dan Amanda?” tanya Ghevin. ”Kenapa lo ngebentak-bentak dia begitu?”


Rani mendengus. ”Oh, jadi lo marah gue ngebentak-bentak dia?”


”Bukan marah,” kilah Ghevin. ”Gue cuma ingin tahu.”


"Oke, kalo Ghevin emang ingin tahu, maka bersiaplah untuk mendengar kejujuran gue."


”Dari awal gue tahu tentang Amanda, bahkan sebelum gue ketemu dia, gue emang udah nggak suka sama dia,” aku Rani. ”Dia orang yang paling nggak mungkin gue terima jadi teman. Apalagi sekarang, setelah gue tahu lo balikan sama dia.”


”Gue kan udah pernah bilang, gue nggak balikan sama dia,” Ghevin mengingatkan.


”Jangan bohong!” tukas Rani. ”Mungkin lo balikan sama Amanda di restoran Sirosoppo, karena gue pernah ngelihat lo meluk dia di tempat parkirnya.”


Ghevin tampak terkejut. ”Lo juga ada di restoran Sirosoppo saat itu?”

__ADS_1


”Gue bahkan sampai lebih dulu dari lo,” kata Rani. ”Sore sebelum pertemuan kalian, gue ketemu Amanda, dan dari dialah gue tahu kalian janjian untuk ketemu malam itu. Karena penasaran, gue memutuskan untuk mengawasi pertemuan kalian.”


Meski tampak sedikit terganggu dengan kenyataan Rani mengawasi pertemuannya dengan Amanda, untungnya Ghevin tidak mempermasalahkannya. Dia malah lebih memilih untuk menjelaskan kenapa dia sampai memeluk Amanda.


”Malam itu Amanda emang minta balikan sama gue,” beber Ghevin, yang tentu saja tidak mengejutkan Rani lagi. ”Tapi gue menolaknya, karena gue udah nggak punya perasaan apa pun sama dia. Gue tahu dia sedih, juga kecewa—nggak peduli meski dia bilang dia bisa mengerti. Sebelum pulang, di tempat parkir dia menangis. Dia meminta gue memeluknya untuk terakhir kalinya, dan karena gue merasa mungkin itu bisa sedikit menghiburnya, gue pun melakukannya.”


Sungguhkah Ghevin menolak Amanda? Rani mungkin akan langsung percaya kalau tidak ada kejadian tadi—kejadian yang membuatnya ingin cepat-cepat pulang.


”Anggap aja lo memang menolak Amanda, lantas kenapa tadi lo menciumnya?” tuntut Rani. Lalu, dengan sinis dia menambahkan, ”Atau berciuman memang sesuatu yang wajar dalam pertemanan kalian?”


”Omongan lo benar-benar ngaco,” tanggap Ghevin. ”Terakhir kali gue mencium Amanda adalah sehari sebelum kami putus.”


”Sebenarnya ngapain lo dan Amanda berduaan di ruangan tempat kalian baru keluar tadi?” tanya Rani akhirnya. ”Miko kan masuk belakangan.”


”Gue lagi ngasih kalung buat kado ultah Amanda,” jelas Ghevin.


"Oh, kalung emas putih dengan liontin berbentuk mahkota yang tadi gue lihat dipakai Amanda! Berarti emang benar tebakan gue, kalung itu kado ulang tahun dari Ghevin."

__ADS_1


”Sejak kami masih pacaran,” lanjut Ghevin, "Amanda udah suka banget sama kalung itu. Gue pernah janji akan ngebeliin dia kalung itu, tapi sebelum kesampaian, kami udah keburu putus. Ketika tadi gue memakaikan kalung itu ke leher Amanda, rasanya lega banget karena gue bisa menepati janji gue.”


Kalimat terakhir Ghevin membuat Rani jadi memikirkan kembali kejadian tadi. Posisi Ghevin, mungkinkah bukan untuk mencium Amanda, melainkan untuk memakaikan kalung ke lehernya?


Ya, pasti begitu. Tapi Rani malah menuduh Ghevin yang bukan-bukan, padahal dia tidak tahu kebenarannya.


”Sori,” gumam Rani. ”Habis karena lo cukup sering ketemuan sama Amanda, gue jadi curiga ada sesuatu antara kalian.”


”Nggak apa-apa,” tanggap Ghevin. ”Wajar kalo lo curiga. Tapi perlu lo tahu, setiap kali gue ketemuan sama Amanda, pasti selalu ada Miko.”


”Apa lo perlu Miko supaya dia bisa mengingatkan lo untuk nggak tergoda lagi sama Amanda?” Belum apa-apa,


kecurigaan Rani sudah muncul lagi.


Ghevin mengabaikan Rani. ”Miko patah hati karena Melly, dan Amanda patah hati karena gue,” kata Ghevin, seolah Rani belum tahu. ”Hal itu membuat gue merasa bertanggung jawab, dan ingin melakukan sesuatu untuk mereka, supaya mereka bisa menemukan seseorang yang baru. Lalu gue pikir, karena mereka sama-sama patah hati, mungkin mereka jadi merasa senasib. Siapa tahu mereka bisa saling tertarik. Gue pun mulai ngajakin mereka ketemuan, yang lama-kelamaan intensitasnya jadi semakin sering, untuk mendekatkan mereka. Tapi karena gue nggak ahli dalam hal-hal begituan—buktinya dulu hubungan Miko dan Melly aja nggak berkembang meski gue nyuruh mereka pura-pura pacaran— gue nggak bisa memastikan hasilnya. Gue mengusahakannya dengan membuka jalan untuk mereka, tapi untuk seterusnya... yah terserah mereka. Sampai saat ini sih mereka masih asyik-asyik aja temenan.”


Rani jadi ingat, waktu dulu dirinya menanyakan pada Miko tentang Ghevin dan Amanda, Miko terlihat salah tingkah. Dulu dia menyangka itu karena Miko tahu ada sesuatu antara Ghevin dan Amanda, tapi rupanya Miko hanya malu untuk memberitahu tentang kedekatannya dengan Amanda.

__ADS_1


.


(bersambung)


__ADS_2