
Pagi-pagi, ketika Rani baru mendudukkan bokongnya di bangku di kelasnya, dia menelepon Miko. Rani ingin mengetahui hasil pertemuan Miko dan Ghevin dengan Bastian tadi malam.
"Sukses, Ran," kata Miko, membuat Rani langsung girang bukan main. "Di depan kami, Bastian nelepon Martin buat ngasih tau kalo dia nggak mau kerja sama dengannya, meski nggak bilang bahwa alasannya adalah karena dia diancam Ghevin. Tapi sayangnya, Bastian juga belum sempat dikasih tahu Martin mengenai rencananya."
"Mungkin Martin nunggu Bastian mau kerja sama dengannya dulu, baru ngasih tahu rencananya," tebak Rani. "Terus, Bastian kaget dong waktu kalian nemuin dia tadi malam?"
"Bukan kaget lagi," kata Miko. "Dia bahkan hampir mati jongkok, soalnya pas kami nemuin dia, dia emang lagi jongkok buat ngikat tali sepatunya. Kalo tadi malam lo lihat tampang Ghevin yang garang banget, mungkin lo juga akan mikir-mikir lagi buat pertahanin cinta lo sama dia."
"Justru semakin garang, Ghevin semakin cool ," puji Rani. "Tapi kasihan banget ya si Martin. Setelah gagal sama Tristan, sekarang gagal lagi sama Bastian."
"Meski begitu, kita tetap nggak boleh lengah," kata Miko. "Martin pasti berusaha supaya ada geng lain yang mau kerja sama dengannya. Dia nggak akan bisa melawan geng kami hanya dengan gengnya sendiri."
"Tenang aja," kata Rani. "Gue akan terus mengorek informasi darinya."
Tepat pada saat itu, Rani mendengar suara-suara dari luar kelasnya, dan melihat Tristan dan Melly. Sementara Rani mendengarkan kata-kata Miko yang seperti biasa menyuruhnya berhati-hati, dia memperhatikan interaksi antara Tristan dan Melly. Melly menyerahkan kotak makan pada Tristan, yang balasannya Tristan mengecup kening Melly. Tristan pun menunggu sampai Melly masuk ke kelas, barulah dia berjalan pergi.
Rani menyudahi pembicaraannya dengan Miko berbarengan dengan duduknya Melly di bangkunya.
"Siapa yang ngasih izin tuh, kecup-kecupan kening di luar kelas?" tuntut Rani, berpura-pura mengomel. "Sekolah tuh gunanya buat belajar, bukan buat kecup-kecupan kening. Lo lupa ya, gue mata-mata Ghevin? Gue laporin ke Ghevin, baru tahu rasa lo."
__ADS_1
"Sirik aja lo," tanggap Melly.
"Jelas gue sirik. Gue juga mau kecup-kecupan kening sama Ghevin," kata Rani tidak tahu malu. "Jangan-jangan tanpa sepenglihatan gue, setiap hari sebelum pisah di luar kelas lo dan Tristan kecup-kecupan kening dulu, ya?"
"Yah, nggak setiap hari lah," tukas Melly. "Tadi kebetulan gue bikinin dia sarapan, jadi sebagai ucapan terima kasih, dia ngecup kening gue."
"Ide bagus tuh, bikinin sarapan," komentar Rani. "Gue juga jadi pengin bikinin Ghevin sarapan."
"Siapa tahu, kalo gue bikinin Ghevin sarapan, dia juga bakal ngecup kening gue."
"Nyokap gue setiap hari rajin bikinin Ghevin sarapan kok," kata Melly, serta-merta langsung memusnahkan keinginan Rani.
"Lo nggak kenal, pokoknya," dusta Rani.
"Jangan-jangan cowok nyebelin yang waktu itu lo bilang ke gue, ya?" tebak Melly.
"Bukan kok." Kali ini Rani jujur, meski yang sedang dibicarakan di telepon tadi memang Martin.
Melly pun menatap Rani, curiga. "Entah kenapa, akhir-akhir ini gue ngerasa ada sesuatu yang lo rahasiakan dari gue," katanya.
__ADS_1
Melly memang terlalu mengenal Rani. Biasanya mereka tidak pernah merahasiakan apa pun satu sama lain. Rani tahu hampir segala hal tentang Melly, dan Melly pun demikian. Tapi soal Rani menjadi mata-mata Ghevin untuk mencari informasi dari Martin, Rani terpaksa merahasiakannya dari Melly. Habis mau bagaimana lagi? Kalau Melly sampai tahu, dia pasti akan membocorkannya pada Ghevin. Melly memang menginginkan keselamatan Ghevin, tapi tentunya tidak dengan membahayakan diri Rani.
Rani tidak membantah kecurigaan Melly, tapi juga tidak membenarkannya. Dia hanya balik menatapnya dan berharap lewat matanya, Melly bisa menyimpulkannya sendiri. Dan nyatanya Melly memang bisa.
"Gue yakin pasti ada alasan lo harus merahasiakannya dari gue," kata Melly. "Dan gue juga yakin kalo waktunya tepat nanti, lo akan menceritakannya sama gue."
Betapa menyenangkannya memiliki sahabat pengertian seperti Melly. Bukannya memaksa Rani menceritakannya, dia justru menunggu hingga Rani siap lebih dulu.
"Sini, Mell," kata Rani, sambil menarik sebelah lengan Melly. "Biar gue kecup kening lo juga."
Melly langsung memberontak, berusaha menjauhkan dirinya dari Rani. "Nggak mau!" pekiknya ngeri.
"Ih, kok lo gitu sih?" protes Rani, tanpa melepaskan tangannya dari lengan sahabatnya itu. "Sama Tristan aja lo mau dikecup. Masa sama gue nggak?"
Semakin Rani berusaha menarik Melly, Melly juga semakin menjauhkan dirinya dari Rani. Akibatnya, Melly nyaris terjungkal dari bangkunya. Mungkin Melly akan benar-benar terjungkal kalau saja bel tanda masuk tidak berbunyi, yang membuat Rani menghentikan usahanya untuk mengecup kening Melly.
.
.
__ADS_1
(Bersambung)