
Baru kali ini Rani berada di SMA Garuda tanpa kehadiran Billy. Rani sengaja tidak mengajaknya karena menurutnya Billy hanya akan merepotkan. Bisa-bisa nanti Billy malah akan mengacaukan misinya.
Rani terbiasa menceritakan segala hal tentang Ghevin pada Billy, jadi dia pun tahu soal dirinya menjadi mata-mata Ghevin. Sebenarnya Billy agak keberatan karena SMA Garuda calon sekolahnya, jadi sebagai kakaknya, seharusnya Rani tidak mendukung SMA Ganesha.
"Enak aja Billy. Gue kan harus ngebantu Ghevin dan anggota gengnya."
Tanpa memedulikan pendapat Billy, Rani tetap mencari Martin. Ternyata tidak sulit mencarinya, karena baru beberapa langkah Rani memasuki pintu gerbang sekolah, dia melihat Martin sedang duduk di pinggir lapangan bersama dengan beberapa cowok, yang Rani duga merupakan anggota gengnya.
Merasa agak risih kalau harus menghampiri Martin saat dia sedang bersama anggota gengnya, Rani memutuskan untuk menunggu tidak jauh darinya. Untung tidak lama kemudian mereka bubar.
Rani berjalan mengikuti Martin. Sepertinya Martin menuju pelataran parkir sekolah. Tatapan Rani hanya terpaku pada Martin sehingga dia bahkan tidak menyadari ketika ada seorang pria berkumis lebat melintas di depannya. Rani pun menabraknya, dan setelah meminta maaf, dia kembali mengikuti Martin.
Rani harus belajar berhati-hati. Belum apa-apa, dia sudah main tabrak saja. Kalau begini terus, bisa-bisa Rani ketahuan Martin.
Sebenarnya bukan masalah sih. Toh Rani juga bukannya sedang mengikuti Martin secara diam-diam. Justru dia ingin Martin menyadari kehadirannya. Tapi kalau suatu saat Rani harus melakukan pengintaian tanpa sepengetahuan Martin, sedangkan dia masih tetap bersikap ceroboh, maka bisa gawat akibatnya.
Di pelataran parkir sekolah, Martin berjalan mendekati Suzuki Swift putih. Melihat Martin akan memasuki mobil itu, Rani pun langsung panik.
"Martin!" seru Rani. Lalu dia langsung menekap mulutnya sendiri.
"Aduh, bego banget sih gue! Seharusnya gue nggak nyebut nama dia. Kan pura-puranya gue nggak tahu siapa dia. Bodo ah, udah terlanjur."
__ADS_1
Martin membiarkan pintu mobil terbuka sementara dia membalikkan badannya dan melihat ke arah Rani. Wajah Martin yang senantiasa jutek sempat membuat Rani agak keder, tapi dia tetap berjalan menghampirinya.
"Hai," sapa Rani begitu tiba di dekat Martin. "Masih ingat gue?"
Hanya dari tatapan bingungnya saja Rani tahu Martin tidak mengingatnya. Tapi itu tidak masalah buat Rani, dan dia tidak merasa sakit hati.
"Beberapa hari lalu lo nolongin gue, pas gue mau jatuh," Rani mengingatkan Martin.
Tetap tatapan bingung yang sama. Rani agak heran, kenapa semudah itu Martin melupakan cewek secantik dirinya yang baru dia tolong beberapa hari lalu?
"Nggak apa-apa kalo lo nggak ingat," kata Rani, meski dalam hati Rani keki juga. "Gue cuma mau berterima kasih sama lo."
"Buat apa lo berterima kasih untuk hal yang sama sekali nggak gue ingat?" balas Martin ketus, sebelum akhirnya dia masuk ke mobil dan berlalu pergi, tanpa Rani sempat mengatakan apa-apa lagi.
Kalau bukan demi Ghevin, Rani tidak akan mau mendekati cowok jutek nan menyebalkan macam Martin. Menurutnya hanya buang-buang waktu saja. Lebih baik dia menggunakan waktunya untuk merayu Ghevin. Tapi meski setengah mati ingin mencekik Martin, Rani mencoba tetap bersabar.
Setelah misi pertamanya gagal. Rani memilih untuk ke rumah Melly, dan berniat berkeluh kesah padanya. Meskipun Ghevin sedang tidak ada di rumah, dan Melly sendiri satu jam lagi ada kencan dengan Tristan. Tapi Rani tidak peduli. Dia tetap memaksa masuk dan menumpahkan kekesalannya pada Melly. Tentu saja Rani tidak secara jelas menyebutkan Martin.
"Baru kali ini gue nemuin cowok nyebelin kayak dia itu," gerutu Rani begitu berada di kamar Melly. Dia berbaring di ranjang Melly sambil memeluk bantal guling.
Melly yang sedang merias wajahnya menatap Rani melalui cermin meja rias. "Siapa sih yang lo maksud?"
__ADS_1
"Ada satu cowok," kata Rani tidak jelas. "Dia bener-bener bikin gue kesal. Tapi masalahnya, gue harus bikin dia tertarik sama gue." Dan sebelum Melly lagi-lagi berpikir dirinya berniat berpaling dari Ghevin, dia buru-buru menambahkan, "Sebagai teman lho, bukan sebagai pacar."
"Gue nggak ngerti," kata Melly. "Tadi lo bilang dia cowok nyebelin, tapi kenapa lo justru mau bikin dia tertarik sama lo?"
Rani tidak bisa menjawab pertanyaan Melly tanpa membongkar semuanya, jadi untuk menghindarinya, Rani balas melontarkan pertanyaan padanya.
"Kalo lo sendiri, Mell, gimana cara lo membuat cowok tertarik sama lo?"
"Gue nggak pernah nyoba bikin cowok tertarik sama gue kok," kata Melly santai. "Biasanya mereka tertarik sama gue dengan sendirinya."
Memang benar, cowok-cowok selalu tertarik pada Melly tanpa dia perlu melakukan apa pun. Rani jadi semakin sebal mendengar Melly menyombongkan hal itu. Rani pun melemparkan bantal guling yang dipeluknya ke arah Melly. Tapi Melly berhasil menghindar, dan bantal itu nyaris menyapu bersih seluruh peralatan makeup di meja rias ke lantai.
Merasa tidak terima, Melly lantas memungut bantal itu dari lantai, dan balas melempar Rani. Lemparannya sukses mengenai Rani tepat di mukanya, membuat kepala Rani sampai tersentak ke belakang saking kerasnya lemparan Melly. Sementara Rani sibuk mengaduh, Melly pun kembali pada riasan wajahnya. Sepertinya Melly puas dengan hasil lemparannya.
Sepuluh menit menjelang kedatangan Tristan, dengan kejam Melly mengusir Rani pulang. Rani pun pulang sambil bersungut-sungut. Sepertinya kedatangannya ke rumah Melly tidak menghasilkan apa pun kecuali membuat lehernya nyaris patah. Yang lebih menyedihkan, Rani bahkan tidak bertemu Ghevin.
"Huh... menyebalkan!"
.
.
__ADS_1
(Tbc)