Gejolak Masa Muda 2

Gejolak Masa Muda 2
Tentang Amanda


__ADS_3

Suasana di ruangan itu mendadak hening setelah kepergian pasangan Tristan-Melly. Ghevin sendiri terlihat masih tetap diam mematung. Melihat keadaan Ghevin seperti itu akhirnya Rani berinisiatif melakukan sesuatu untuk mencairkan suasana.


"Wah, tinggal kita berdua deh yang harus menghabiskan semua makanan ini," kata Rani dengan nada yang dibuat seceria mungkin.


Ghevin tidak bereaksi. Dia masih tetap diam saja. Sepertinya Rani tidak bisa mengalihkan perhatian Ghevin ke makanan.


"Bukan salah lo kok, Ghev, kalo Amanda serapuh itu," hibur Rani.


Mendengar nama Amanda, barulah Ghevin bereaksi. "Lo kenal Amanda?" tanyanya.


"Gue pernah ketemu dia sekali," sahut Rani. "Dua kali sih, sebenarnya, kalo menghitung pertemuan nggak sengaja kami di SMA Garuda. Tapi saat itu Amanda nggak ngelihat gue."


Ghevin kembali diam sejenak, lalu tiba-tiba berkata, "Lo juga boleh menganggap gue nggak punya hati kalo lo mau, Ran."


Rani terperangah. "Gue nggak pernah menganggap lo begitu," kata Rani cepat-cepat. "Lo emang meninggalkan Amanda, tapi kalo aja dia lebih kuat, keadaannya nggak akan separah itu."


"Sebenarnya gue tahu gimana keadaannya setelah gue meninggalkannya," kata Ghevin. "Tapi meskipun tahu, gue memutuskan untuk nggak peduli. Sebab kalo sampai gue peduli, gue jadi semakin sulit untuk melupakannya."


Apa Ghevin benar-benar mencintai Amanda? Apa selama ini dia bergonta-ganti cewek untuk membantunya melupakan Amanda?


Kepala Rani mendadak pusing. Dia tidak suka dengan arah pembicaraan itu. Dia tidak ingin membicarakan Amanda. Tapi jarang-jarang Ghevin mau mengungkapkan isi hatinya seperti itu. Kalau tidak sekarang, mungkin tidak akan ada lagi kesempatan untuk mendengar tentang Amanda langsung dari Ghevin. Menurut Rani, Amanda adalah musuhnya. Untuk mengalahkan musuh, dia harus mengetahui kelemahannya terlebih dulu.

__ADS_1


"Emang gimana sih awalnya lo bisa kenal sama Amanda?" tanya Rani ingin tahu.


"Kami punya teman yang sama," jawab Ghevin. "Waktu teman kami itu ultah, dia ngundang kami, dan di sanalah kami ketemu. Kami kenalan dan tukeran nomor HP, dan sejak saat itu kami jadi sering kontak-kontakan. Nggak lama setelah itu gue nembak dia dan kami pun jadian."


"Siapa sih teman mereka itu?"


Rasanya Rani ingin menemuinya dan menggetok batang hidung orang itu dengan remote, sekadar supaya dia tahu betapa kesalnya Rani pada dia karena telah mempertemukan pujaan hatinya dengan cewek rapuh itu—Amanda.


"Terus gimana lo bisa tahu dia adik Tristan?" tanya Rani lagi.


"Pas gue lagi nganterin dia pulang," jawab Ghevin. "Udah sering gue nganterin dia pulang tanpa tahu itu rumah Tristan. Tapi suatu saat kami pulang berbarengan dengan Tristan, dan saat itulah gue tahu dia adik Tristan. Pulang dari sana, gue langsung kirim pesan WhatsApp ke dia. Mutusin dia."


Ghevin mengangguk. "Gue tahu itu emang agak kejam," katanya. "Gue cuma nggak ingin menemuinya lagi. Tapi dia nggak bisa mengerti, dan malah membombardir gue dengan pesan dan telepon WhatsApp, dan bahkan mendatangi gue. Gue memilih untuk nggak menanggapinya dan membiarkannya sampai dia capek sendiri."


Wajar kalau Amanda tidak bisa mengerti, sebab hubungan mereka pasti sedang bahagia-bahagianya ketika Ghevin meninggalkannya. Sebenarnya ada hal yang membuat Rani penasaran sehubungan dengan hal itu, dan Rani pun memutuskan untuk menanyakannya.


"Kalo Amanda bukan adik Tristan, apa kira-kira lo masih akan jadian sama dia sampai sekarang?"


Ghevin mendesah. "Mungkin," katanya.


"Oke cukup. Gue nyerah. Berhenti ngomongin soal Amanda. Nggak ada faedahnya selain nyakitin hati gue doang."

__ADS_1


Rani pun akhirnya berhenti bertanya, dan Ghevin pun tidak mengatakan apa-apa lagi. Mereka hanya diam dan tenggelam dalam pikiran masing-masing.


"Lebih baik kita makan sekarang," kata Ghevin akhirnya, memecah keheningan.


Mana bisa Rani makan sekarang, setelah mendengar tentang Amanda. Nafsu makannya serasa menghilang. Tapi untuk menghargai Ghevin, Rani pun memaksakan dirinya untuk makan sesuap demi sesuap.


"Ayam garamnya enak," kata Ghevin, sembari meletakkan sepotong ayam ke piring Rani. "Cobain deh."


Rani pun menggigit ayam itu, mengunyahnya, dan kemudian memekik. "Iya, lo benar!" serunya. "Ini enak banget!"


Ghevin tertawa melihat reaksi Rani. Rani pun jadi malu sendiri. Oke, ayam garamnya memang enak, tapi tampaknya Rani berlebihan dalam mengekspresikannya.


Tawa Ghevin menular pada Rani. Kalau sedang malu begitu, lebih baik ikut menertawakan diri sendiri. Perasaan Rani pun perlahan mulai membaik, dan dia jadi bisa menikmati makanan yang ada di meja.


.


.


.


(Bersambung)

__ADS_1


__ADS_2