
Seharusnya Rani tidak sesering itu muncul di sekitar Martin. Tapi kalau berlaku seperti itu, bagaimana dia bisa menjalankan tugasnya?
"Lo ada waktu gue lagi ngomongin Bastian sama anggota geng gue di telepon, dan lo juga ada di tempat gue ketemu anggota geng Ghevin," sebut Martin. "Meski begitu, gue masih nggak yakin lo mata-mata Ghevin. Sampai tadi malam, saat gue ngelihat sendiri lo bicara sama Ghevin di bioskop, barulah gue benar-benar yakin."
"Jadi Martin ngelihat gue bicara sama Ghevin? Tapi kenapa tadi malam dia nggak bilang apa-apa dan tetap bersikap normal seakan nggak ada yang terjadi? Normal di sini, maksud gue adalah tetap jutek seperti biasa."
"Padahal gue udah begitu berhati-hati," desah Martin. "Gue melakukannya selangkah demi selangkah, memastikan nggak ada yang terlewat. Meski bisa aja gue langsung membalas Ghevin, tanpa perlu menunggu dua bulan begini. Gue nggak mau terburu-buru dan akhirnya malah gagal. Bahkan, karena nggak ada geng sekolah lain yang bisa gue ajak kerja sama—" dia mulai mengecilkan suaranya "—gue terpaksa menetapkan geng Chebol sebagai pilihan ketiga gue. Gue harus mengeluarkan banyak uang untuk membayar mereka. Bukan cuma itu, gue harus susah payah meyakinkan mereka supaya diperbolehkan menggunakan markas mereka ini."
"Nah, benar kan! Pabrik ini emang markas geng Chebol."
"Tapi lo seenaknya aja merusak rencana gue," rutuk Martin. "Gue nggak nyangka Ghevin menyuruh cewek untuk menjadi mata-matanya. Licik sekali dia, tahu gue akan lengah."
"Dia nggak menyuruh gue." Akhirnya Rani membuka suara setelah sedari tadi hanya diam. "Gue sendiri yang mau menjadi mata-matanya."
__ADS_1
"Kenapa?" tuntut Martin. "Kenapa lo mau menjadi mata-matanya?"
"Apa gue harus jujur? Ah, udah telanjur. Untuk apa gue tutup-tutupi lagi?"
"Gebetan gue yang udah bikin gue patah hati adalah Ghevin," aku Rani. "Jadi sekarang lo tahu kan kenapa gue mau menjadi mata-matanya? Karena gue suka sama dia. Nggak peduli meskipun dia udah nolak gue, gue tetap nggak bisa ngelupain perasaan gue sama dia. Gue udah mencobanya, bahkan sampai sekarang pun gue masih mencobanya, tapi rasanya sulit sekali."
Martin sempat terdiam sejenak mendengar alasan Rani, sebelum akhirnya berkata, "Menyedihkan sekali."
"Memang menyedihkan, gue nggak akan membantahnya, tapi masa dia nggak bersimpati sama gue barang sedikit pun?"
Hampir bersamaan dengan itu, terdengar bunyi ponsel Rani, sedikit teredam karena berada di dalam tasnya. Rani dan Martin sama-sama melirik ke arah tas yang tergeletak di lantai.
"Mungkin itu Ghevin," tebak Martin. "Tadi anggota geng gue—" dia mengedikkan kepalanya ke arah anggota gengnya
__ADS_1
yang tadi membisikinya "—menelepon Ghevin, dan memberitahu bahwa kami menyandera lo di sini."
Ternyata Martin bukan hanya ingin membalas Rani, melainkan juga memanfaatkannya untuk memancing Ghevin datang. Seharusnya Rani sudah menyadarinya sejak dirinya diikat tadi.
Tapi memang apa bedanya? Toh dia tetap tidak bisa melepaskan diri.
"Apa yang akan lo lakukan pada Ghevin kalo dia ke sini?" tuntut Rani.
"Sebelum menjawab pertanyaan lo, gue harus memastikan dulu siapa yang menelepon lo," kata Martin. Dia berjongkok dan membuka tas, mencari-cari ponsel Rani. "Kalo benar Ghevin, maka gue harus menjawabnya."
"Semoga bukan Ghevin," harap Rani dalam hati. "Semoga, walaupun dia tahu gue di sini, dia nggak datang. Dia nggak boleh datang dan masuk jebakan Martin."
.
__ADS_1
Bersambung...