
"Lo ikut ya, Ran?" pinta Melly. "Kalo ada lo, mungkin Ghevin akan lebih menjaga sikap."
Rani tertarik. "Maksud lo, kita double date?"
"Terserah kalo lo nyebutnya double date," kata Melly.
"Gue mau!" seru Rani bersemangat. "Emang kapan sih makan malamnya? Di mana?"
"Jam tujuh di Restoran Sirosoppo," sahut Melly.
"Malam ini?"
"Iya, malam ini."
Rani melihat jam tangannya. "Ya ampun, tinggal dua jam lagi!" serunya panik. "Waktunya mepet banget. Gue kan harus dandan dulu."
"Ntar lo ke rumah gue aja," kata Melly. "Rencananya gue sama Ghevin berangkat dari rumah jam setengah tujuh. Lo bareng aja sama kami."
"Oke. Lima belas menit sebelumnya gue akan ke rumah lo," kata Rani. Lalu, tanpa mengatakan apa-apa lagi, Rani pun segera mematikan telepon.
__ADS_1
Dengan terburu-buru Rani menuju motornya. Dan seakan tidak ingin membuang waktu, setelah naik ke atas motor dia langsung memacunya pulang ke rumah.
Tanpa memedulikan rasa letihnya. Begitu sampai di rumah, Rani langsung menuju kamar mandi. Rani pun mandi secepat kilat—bersih atau tidak bersih yang penting mandi, dan kemudian selesai mandi, dia memilih pakaian yang akan dikenakan malam ini. Akhirnya dia menjatuhkan pilihannya pada blus putih dan rok lipit cokelat muda. Untuk mencocokkan dengan pakaiannya, Rani memilih sepatu putih dan tas cokelat tua milik Mamanya.
Tak lupa Rani merias wajah. Maskaranya sampai berlepotan karena dia begitu terburu-buru. Setelah selesai, dia memanggil Billy yang sepertinya sedang mendengarkan musik di kamarnya. Billy keluar dengan raut wajah terganggu.
"Apaan sih?" tanya Billy.
"Untuk malam ini, gue kasih lo izin buat bawa motor gue," kata Rani. Billy sudah girang saja, tapi kembali manyun saat Rani menambahkan, "Soalnya lo kudu nganterin gue ke rumah Melly."
Meski terpaksa, Billy tetap mengantarkan Rani ke rumah Melly. Dan sesuai janjinya pada Melly, Rani tiba di rumah Melly lima belas menit sebelum pukul setengah tujuh malam.
Di mobil, Rani duduk di jok belakang—di belakang Melly. Tampaknya kini bujuk rayu Melly sedang dilancarkannya pada Ghevin.
"Ghev, kita batalin aja ya makan malamnya," bujuk Melly.
"Kita kan udah telanjur berangkat, masa mau dibatalin?" tanggap Ghevin. "Tenang ajalah, Mell. Apa sih yang lo takutin?"
"Gue takut lo berantem sama Tristan," kata Melly.
__ADS_1
"Kalo gue mau berantem sama dia, gue nggak bakal ngajakin makan malam," jelas Ghevin.
"Berarti lo janji ya lo nggak bakal berantem sama Tristan?"
"Itu sih tergantung Tristan-nya."
"Tuh, kan!" sungut Melly. "Jangan begitu dong, Ghev! Lo mah bikin gue jadi takut. Lagian lo mau nanya-nanya apaan sih ke Tristan? Lo kan bisa tanya ke gue aja."
"Gue nggak mau dengar jawabannya dari mulut lo, tapi langsung dari mulut Tristan," kata Ghevin.
"Apa bedanya?" tuntut Melly.
Ghevin tampak mulai gerah dengan perlawanan Melly. "Udah deh, lo jangan bawel," omelnya. "Pokoknya acara makan malam ini demi kelangsungan hubungan kalian ke depannya juga."
Kata-kata Ghevin sama sekali tidak bisa menenangkan Melly, sebab kesannya seolah-olah kalau sampai ada yang salah sedikit saja dengan makan malam ini, maka Ghevin akan menyuruh Melly mengakhiri hubungannya dengan Tristan.
Ketika mereka sampai di restoran Sirosoppo, Ghevin menyuruh Rani dan Melly untuk turun terlebih dulu sementara dia mencari parkir. Rani sampai harus menarik Melly mendekati pintu masuk restoran sebab dia berjalan ogah-ogahan.
Bersambung
__ADS_1