Gejolak Masa Muda 2

Gejolak Masa Muda 2
Calon Adik Ipar


__ADS_3

Mobil Ghevin tidak ada ketika Rani sampai di depan rumah Melly. Melly membukakan Rani pintu dan bisa membaca kekecewaan di wajah Rani. Tapi Melly bersikap cuek karena terbiasa melihat wajah Rani seperti itu setiap kali Ghevin tidak ada di rumah.


Melly malah langsung meminta kertas folio yang kemarin Rani bawa pulang begitu mereka duduk di ruang tamu. Sementara Melly mengerjakan tugas, Rani justru sibuk menceritakan padanya mengenai kejadian yang di alaminya di SMA Garuda.


"Gue tadi ketemu Amanda pas lagi nganter Billy ke SMA Garuda," cerita Rani. "Emang dia sekolah di sana, ya?"


Melly mengangguk sembari terus menulis. "Iya," jawabnya. "Amanda pernah bilang ke gue waktu lagi ngobrol-ngobrol dulu."


"Kok lo nggak bilang ke gue sih?" protes Rani. "Tahu begitu kan gue nggak ngizinin Billy sekolah di situ."


"Gimana gue mau bilang ke lo?" sergah Melly. "Lo kan nggak pernah mau denger cerita tentang Amanda. Setiap kali gue ngomongin dia, lo selalu motong dan ujung-ujungnya pasti ngejelek-jelekin dia."


"Oh, jadi lo marah kalo gue ngejelek-jelekin dia?"


"Yah marah lah," balas Melly. "Dia kan calon adik ipar gue."


Rani berdecak. "Omong-omong soal calon adik ipar," katanya, "si Billy ternyata naksir sama Amanda. Kepingin pingsan rasanya gue pas denger."

__ADS_1


Melly sempat kaget sejenak, kemudian tertawa. "Wah, ternyata si Billy pinter milih cewek," komentarnya.


"Ih, justru dia begoo," umpat Rani. "Kayak nggak ada cewek lain aja, pakai acara naksir Amanda segala."


"Tapi Amanda kan cantik," kata Melly.


"Sebodo amat dia cantik," kata Rani tidak peduli. "Cewek cantik kan banyak, si Billy aja yang kuper."


Sepertinya Rani tidak sedang menjelek-jelekkan Amanda, tapi malah menjelek-jelekkan Billy. Untung saja kemudian perhatiannya teralih pada suara mesin mobil yang dimatikan di luar. Semburan semangat langsung mengalir di sekujur tubuhnya.


"Ghevin pulang!" seru Rani.


"Rajin amat," komentar Ghevin pada Rani.


Rani tersenyum. "Habis tugasnya banyak," katanya. "Ini dari tadi gue nulis terus nggak selesai-selesai."


Padahal sehuruf pun Rani tidak menulis apa-apa. Rani bisa mendengar dengusan Melly di sebelahnya, Melly benar-benar gemas dengan kebohongan dirinya.

__ADS_1


"Mendingan makan dulu," kata Ghevin. Dia mengangkat kantong plastik yang dipegangnya dan menggoyangkannya ke arah Melly seraya berkata, "Nih, makanan yang lo titip, Mell."


Melly langsung berdiri dan mengambil kantong plastik itu dari tangan Ghevin, sementara Ghevin berlalu ke kamarnya. Melly memberi Rani tanda agar mengikutinya ke ruang makan. Dengan senang hati Rani pun langsung meninggalkan tugas mereka.


"Emang nyokap lo nggak masak, Mell?" tanya Rani sembari memperhatikan Melly meletakkan kantong plastik itu di meja makan.


"Nggak sempat," jawab Melly. "Nyokap gue buru-buru pergi dari pagi."


"Oh," kata Rani. "Terus gue boleh ikut makan nih?"


"Gue emang nitip makanan buat lo juga," kata Melly.


Karena Ghevin sudah membelikan Rani makanan. Jadi sebagai rasa terima kasihnya pada Ghevin, Rani bersumpah akan menghabiskannya, kalau perlu sama kantong plastiknya sekalian. Rani sempat teringat pada Billy yang menitip makanan, tapi dia tidak peduli. Siapa suruh tadi Billy membuatnya kesal?


Kasihan deh lo, Billy. Emang enak!


(BERSAMBUNG)

__ADS_1


Jangan lupa BAHAGIA. Jangan lupa BAHAGIA sama aku. Biar Aku makin SEMANGAT 💖💕 Matur suwun-Terima kasih.


__ADS_2