
Ambulans berlalu dengan cepat, sirenenya meraung-raung di tengah kegelapan malam, dan yang Rani inginkan hanyalah mengejarnya. Tapi dia kesulitan untuk melepaskan diri dari Miko dan Amanda, yang dengan tekun memeganginya.
”Gue mau bersama Ghevin,” isak Rani. ”Tolong bawa gue ke dia.”
”Iya,” kata Miko mengerti. ”Kita juga akan ke rumah sakit sekarang.”
”Naik mobil gue aja,” tawar Amanda. Dia menyerahkan kunci mobilnya pada Miko, membiarkan Miko yang menyetir, sementara dia sendiri menemani Rani di jok belakang.
Lucu juga sebenarnya. Padahal Rani begitu membenci Amanda, dan bahkan menganggapnya sebagai musuh, tapi lihat apa yang terjadi sekarang? Rani menangis di pelukan Amanda sementara Amanda berusaha menghiburnya.
”G-gimana kalo Ghevin b-benar-benar mati?” isak Rani. ”Gimana kalo g-gue nggak bisa ngelihat dia lagi?”
”Ghevin nggak akan mati,” kata Amanda, lembut. ”Kita kan sama-sama tahu betapa kuatnya dia. Jadi dia nggak akan mati. Lo harus meyakini itu, Ran.”
Ya, Amanda benar. Ghevin memang sangat kuat. Tapi akan cukup kuatkah dia untuk mempertahankan hidupnya?
"Tuhan, tolong selamatkan Ghevin," doa Rani dalam hati. "Tolong biarkan dia tetap hidup."
__ADS_1
Setelah berdoa panjang, Rani menjadi sedikit tenang. Dia bahkan sempat berhenti menangis. Tapi tangisnya kembali pecah ketika bertemu Melly di rumah sakit. Ghevin sedang diperiksa di Instalasi Gawat Darurat sementara Tristan, Melly, dan beberapa anggota geng Ghevin yang sudah sampai lebih dulu menunggu di depannya.
Rani memeluk Melly, dan menangis bersama-sama. Tadi di pabrik mereka sama-sama histeris sehingga baru sekarang sempat berbicara.
”Maaf, Mell,” isak Rani. ”M-maafin gue. Gue udah bikin Ghevin celaka. Kalo bukan karena gue, Ghevin nggak akan ada di sini saat ini. Dia pasti masih baik-baik aja.”
”Bukan salah lo kok,” balas Melly. ”Lagi pula, Ghevin pasti senang karena berhasil nyelametin lo.”
”Gue nggak mau diselametin,” sergah Rani. ”Buat apa gue diselametin kalo akhirnya malah Ghevin harus masuk rumah sakit?”
”Lo seharusnya bersyukur karena lo nggak apa-apa, Ran, dan bukannya malah ngomong sembarangan begitu,” tegur Melly. ”Kalo Ghevin sampai dengar, dia pasti bakal marah sama lo.”
Tak lama kemudian Tante Widia—ibunda Ghevin—datang. Wajah beliau dipenuhi air mata, sementara beliau berjalan dengan langkah-langkah cepat, didampingi oleh Om Williams—ayah Ghevin. Begitu melihat orangtuanya, Melly langsung berlari menghampiri dan memeluk erat mereka.
Melly kemudian menceritakan secara singkat kronologi kejadian yang menimpa Ghevin kepada papa-mamanya. Lalu bersama-sama mereka masuk ke Instalasi Gawat Darurat. Mungkin Ghevin sudah selesai diperiksa.
Rani duduk di antara Miko dan Amanda, menunggu kabar tentang Ghevin. Tristan duduk di seberang Amanda, beberapa kali dia bertukar pandang cemas dengan Amanda. Rani tahu yang dicemaskan Tristan bukanlah Ghevin, melainkan Melly. Melihat Melly histeris seperti tadi pasti membuat Tristan syok.
__ADS_1
Mungkin yang benar-benar mencemaskan Ghevin adalah anggota gengnya yang lain. Sebagian dari mereka duduk di deretan kursi yang sama dengan Rani, di sebelah Miko,
sedangkan sebagian lagi tetap berdiri. Ghevin memang bukan hanya ketua yang mereka hormati, tapi juga teman mereka, meski dia sering bersikap galak pada mereka.
Semua yang duduk langsung melompat berdiri begitu Melly keluar dari Instalasi Gawat Darurat. Mereka merubungi Melly seperti semut merubungi gula.
”Ghevin udah sadar,” kata Melly.
Seketika desahan lega terdengar dari mana-mana. Bahkan, saking leganya Rani, tubuhnya sampai limbung. Mungkin Rani akan jatuh kalau Amanda tidak buru-buru memeganginya.
"Terus, apa kata Dokter?" tanya Rani, ingin tahu.
”Dia pingsan karena tertimpa potongan kayu." jelas Melly. "Selain itu tubuhnya juga penuh dengan luka. Tapi lukanya udah diobati, dan sekarang dia sedang dipindahin ke ruang rawat inap. Kata dokter, dengan beristirahat beberapa hari, Ghevin akan kembali pulih.”
"Terima kasih, Tuhan," ucap Rani dalam hati. "Terima kasih sudah menyelamatkan Ghevin."
.
__ADS_1
Bersambung...