Gejolak Masa Muda 2

Gejolak Masa Muda 2
Rencana Martin


__ADS_3

Billy kembali meminta Rani mengantarnya ke SMA Garuda, untuk mengembalikan formulir pendaftaran. Rani jadi sedikit menyesali keputusannya karena tidak memperbolehkan Billy meminjam motornya, sehingga dia jadi direpotkan begini. Mana tempat tujuan mereka juga yang menurut Rani sama sekali tidak asyik, apalagi setelah Rani tahu itu juga sekolah Amanda.


Di sinilah Rani sekarang, menurunkan Billy di depan pintu gerbang SMA Garuda. Tapi kali ini Rani tidak ikut masuk bersama Billy, melainkan memutuskan untuk menunggunya di Kafe 69, yang terletak persis di sebelah SMA Garuda.


Karena sudah jam pulang sekolah, kafe itu dipenuhi murid-murid SMA Garuda. Untungnya Amanda tidak terlihat. Kalau sampai ada dia, Rani lebih memilih untuk menyusul Billy masuk ke dalam, karena malas melihat tampang Amanda.


Ketika menemukan meja kosong, Rani langsung menempatinya. Kemudian dia memesan iced cappuccino dari pramusaji, dan setelah pesanannya datang, Rani langsung menyesapnya sambil memainkan ponselnya.


Di tengah hiruk-pikuk kafe, Rani bisa mendengar dengan jelas pembicaraan dua cowok di meja belakangnya. Rani tidak bermaksud menguping, tapi suara mereka masuk begitu saja ke telinganya. Begitu mendengar salah satu dari mereka menyebut nama Ghevin, Rani langsung menajamkan pendengarannya.


"Jadi, apa yang harus kita lakukan pada si Ghevin?" tanya cowok pertama.


"Membalasnya, tentu aja," sahut cowok kedua. "Tadinya gue berniat menyelesaikan masalah gue dengannya baik-baik. Tapi mengingat apa yang dilakukannya minggu lalu, gue pun bersumpah akan memberinya pelajaran."


Rani terkesiap. "Memberi Ghevin pelajaran?"

__ADS_1


"Lo yakin bisa melakukannya?" tanya cowok pertama, skeptis. "Anggota geng dia kan lebih banyak dibanding anggota geng kita."


"Tenang aja," kata cowok kedua. "Gue punya rencana, dan kalo rencana itu sukses, Ghevin akan hancur. Bukan cuma dia, tapi seluruh anggota gengnya. Mereka akan tinggal sejarah."


Tubuh Rani gemetaran, karena takut bercampur marah. Dua cowok itu berniat menghancurkan geng Ghevin. Rani tidak bisa membiarkan mereka melakukan itu. Tapi apa yang bisa dia lakukan?


Mereka masih bercakap-cakap selama beberapa saat, lalu Rani mendengar mereka berdiri dan meninggalkan meja. Ketika mereka berjalan melewati mejanya, sekilas Rani melirik ke arah mereka. Rani tidak mengenal cowok yang pertama, tapi sepertinya Rani pernah melihat cowok yang kedua. Otaknya sibuk berpikir. Lalu, tiba-tiba dia teringat siapa cowok itu. Martin. Ya, Martin Julian-ketua geng SMA Garuda.


Setelah pulih dari rasa syok karena mengetahui Martin membicarakan Ghevin, Rani langsung membayar iced cappuccino dan berlari keluar kafe. Rani ingin segera memberitahukan Ghevin informasi yang dia dengar itu. Sebenarnya Rani bisa memberitahukannya lewat telepon, tapi menurutnya lebih baik secara langsung, face to face.


"Woy, Ran. Tungguin gue!" teriak Billy keras-keras sambil berlari ke arah Rani.


Rani mengerem motornya dan menoleh ke belakang. "Astaga, si Billy."


Hampir saja Rani meninggalkan Billy sebab lupa harus menunggunya.

__ADS_1


"Enak aja lo mau ninggalin gue," omel Billy.


"Sori, gue lupa," kata Rani. Dengan tidak sabar Rani menyuruh Billy buru-buru naik ke motor.


Billy menurutinya. "Kenapa sih?" tanyanya heran ketika melihat Rani seperti cacing kepanasan.


"Gue ngedenger pembicaraan Martin dengan salah satu anggota gengnya di kafe." Rani menjelaskan seraya mengemudikan motor ke luar pelataran parkir kafe. "Mereka berniat menghancurkan geng Ghevin."


Terdengar seruan kaget Billy di belakang Rani. "Masa?" cetusnya tidak percaya. "Gue pikir mereka nggak ada masalah."


"Kalo mereka nggak ada masalah, nggak mungkin Martin segitu bencinya sama Ghevin," tukas Rani.


Rani penasaran, apa kiranya yang dilakukan Ghevin pada Martin. Tentu tidak ada hubungannya dengan cewek, bukan?


Rani mengantar Billy pulang terlebih dahulu sebelum ke rumah Ghevin. Sebenarnya Billy ingin ikut, tapi Rani tidak mengizinkannya. Akhirnya, Billy meminta Rani berjanji untuk memberitahukannya bagaimana tanggapan Ghevin atas masalah itu.

__ADS_1


(BERSAMBUNG)


__ADS_2