Gejolak Masa Muda 2

Gejolak Masa Muda 2
Selamat Tinggal Ghevin


__ADS_3

Rani teringat fotonya dengan Ghevin di Dunia Fantasi yang dijadikan wallpaper ponselnya. Dia tidak akan menghapusnya, tapi akan mengganti wallpaper ponselnya dengan foto lainnya.


"Rani," panggil Ghevin tiba-tiba. "Tentang tugas lo sebagai mata-mata gue, apa lo masih menjalankannya?"


Mata Rani membesar. "Lo tahu tentang itu?"


"Sebenarnya gue udah tahu sejak hari lo meminta Miko jadi rekan lo," aku Ghevin. "Miko sendiri yang menceritakannya sama gue."


Satu pelajaran penting untuk Rani: jangan pernah memercayakan rahasia pada Miko Raffael. Rani pun jadi merasa seperti orang bodoh saja, selama ini dia mengira Ghevin tidak tahu.


"Benar-benar nggak bisa dipercaya si Miko."


"Awalnya gue nggak setuju," kata Ghevin. "Tapi Miko ngeyakinin gue supaya memberi lo kesempatan. Takut lo kenapa-kenapa, gue nugasin preman kenalan gue untuk bantu ngejagain lo."


Preman kenalan Ghevin? Rani jadi teringat pada pria berkumis lebat itu. Apa dia yang dimaksud Ghevin sebagai preman kenalannya?


"Maksud lo, bapak-bapak kumisan yang sering berkeliaran di sekitar SMA Garuda itu?" tebak Rani.


Ghevin mengangguk. "Tapi dia jadi nggak bisa datang ke SMA Garuda lagi sejak terpaksa ngegebukin anggota geng Martin untuk memancing Martin menjauh dari lo, supaya lo bisa memeriksa laptopnya," katanya.


Ternyata itu sama sekali bukan kebetulan. Pria berkumis lebat itu memang sudah merencanakannya. Entah dari mana dia tahu Rani ingin memeriksa laptop Martin, tapi mungkin dia bisa melihat rasa penasaran Rani akan isi laptop Martin dari pancaran wajah Rani. Martin jelas tidak mungkin datang membantu anggota gengnya yang sedang digebuki dengan membawa-bawa laptopnya, jadi pasti akan meninggalkan laptop itu bersama Rani.


"Gue nggak tahu apa lo masih berniat menjalankan tugas lo sebagai mata-mata gue, tapi kalo memang ya, lo hentikan aja," kata Ghevin. "Gue sangat berterima kasih karena lo mau membantu geng gue, tapi itu udah cukup."


Apa tugas Rani sebagai mata-mata Ghevin juga akan berakhir? Sebenarnya Rani tidak keberatan menjalankan tugasnya itu. Karena dia tidak perlu bertemu Ghevin, dan seperti biasa cukup menyampaikan informasi melalui Miko. Tapi karena Ghevin menyuruhnya berhenti, mau tak mau dia pun menurutinya.

__ADS_1


"Gue akan berhenti," janji Rani.


Setelah itu hening, masing-masing dari mereka tidak tahu apa yang ingin dibicarakan lagi. Atau dalam kasus Rani, sebenarnya dia tahu, tapi terlalu banyak yang ingin dibicarakan sampai-sampai dia tidak bisa memilahnya.


Karena takut Ghevin masih banyak urusan, dan tidak ingin menghambatnya, Rani pun memutuskan untuk pulang.


"Gue pulang sekarang deh, Ghev," pamit Rani, seraya berdiri.


Ghevin mengikuti Rani. Mereka sama-sama berjalan ke arah pintu pagar. Ini detik-detik menuju perpisahan yang sesungguhnya dengan Ghevin. Betapa Rani berharap saat ini dia bisa menghentikan waktu, sehingga momen menyedihkan itu tidak perlu terjadi.


Sebelum naik ke motor, Rani berbalik, berhadapan dengan Ghevin. Dia menatap Ghevin selama mungkin, berusaha mematri wajah Ghevin ke dalam ingatannya—wajah yang selama ini selalu mengisi hari-harinya, bahkan sampai ke mimpi-mimpinya.


"Ya Tuhan, betapa hamba-Mu ini sangat menyukai makhluk ciptaan-Mu itu."


Pernahkah Rani ada di hati Ghevin? Siapkah Rani mendengar jawabannya, kalau dia menanyakannya sekarang? Apa pun jawabannya, Rani pikir dia akan siap.


"Ghev, meski cuma satu persen, apa lo pernah suka sama gue?"


Ghevin mendesah. "Lebih dari satu persen, Ran," sahutnya, melebihi harapan Rani. "Tapi meski begitu, sejak awal gue berusaha untuk menghilangkannya."


"Itu juga udah cukup," gumam Rani. "Makasih ya, Ghev. Bukan cuma karena lo udah mau jujur sama gue, tapi juga karena udah membuat gue sangat bahagia selama tiga setengah tahun ini."


Ghevin tidak tahu cara menanggapi ucapan terima kasih Rani, yang mungkin dirasanya tidak pantas untuk diterimanya. Padahal Rani benar-benar bersyukur, karena sejak Ghevin hadir dalam hidupnya, dia serasa mendapat suntikan semangat untuk apa pun yang dilakukan.


Rani kembali berbalik, naik ke motor. Ketika dia akan menyalakan mesinnya, dia baru menyadari tangannya gemetaran.

__ADS_1


"Saatnya perpisahan."


Rani menggigit bibir bawahnya, mati-matian menahan tangis. Dia tidak ingin terakhir kali Ghevin melihatnya, wajahnya penuh air mata. Jadi dia menoleh pada Ghevin, dan memaksakan senyum. Kata-kata selanjutnya yang keluar dari mulutnya, diucapkan dengan hati luluh lantak.


"Selamat tinggal, Ghev."


Ghevin terperangah, seakan baru nyata baginya bahwa mereka akan berpisah. Ghevin seperti akan mengucapkan sesuatu, tapi Rani keburu memacu motornya pergi. Dari kaca spion, Rani melihat Ghevin masih berdiri di tempatnya, sembari menatap kearahnya.


Di tikungan, Rani berbelok, lalu berhenti di pinggir jalan. Karena tidak sanggup lagi menahan air mata, dia pun langsung menangis sejadi-jadinya.


🎶


Asmara ini telah menyakitkanku


Cinta menusuk jantungku


Dan merusak hidupku, oh


Asmara, kurang apa 'ku padamu?


Sampai kau tak kenal aku


Hingga 'ku terluka


🎶

__ADS_1


__ADS_2