
Setibanya di rumah, Rani mendapati Billy sedang menonton film di ruang keluarga dalam keadaan gelap. Rani pun menyalakan lampu, namun Billy segera memprotes. Tanpa memedulikan protesnya, Rani mendudukkan dirinya di sebelah Billy. Kemudian dia meraup popcorn dari mangkuk di pangkuan Billy.
Meskipun sudah kenyang, Rani berharap dengan makan popcorn setidaknya dia bisa meredakan kegelisahannya yang diakibatkan pertemuan dengan Amanda tadi. Tapi itu sebuah harapan yang sia-sia, karena dirinya masih tetap gelisah.
"Tadi gue dan Ghevin ketemu sama Amanda." Rani memutuskan untuk berbagi kegelisahannya dengan Billy, biar Billy gelisah juga. Setidaknya dia tidak gelisah sendirian.
Billy tampak terkejut. Untuk sementara film yang sedang ditonton terlupakan olehnya. Dia malah lebih tertarik mendengarkan cerita Rani. Itu pasti efek karena Rani menyebut nama Amanda.
"Kok bisa?" selidik Billy. "Terus apa yang terjadi?"
"Mereka bicara berdua," kata Rani. "Tapi gue nggak tahu apa yang mereka bicarakan, dan gue juga takut untuk menanyakannya sama Ghevin."
"Harusnya ditanya aja, lagi," kata Billy.
"Ogah!" tukas Rani. "Gimana kalo ntar jawabannya ternyata malah bikin gue patah hati? Kalo gue patah hati, berarti lo juga akan patah hati."
"Tapi sekarang lo malah jadi penasaran, kan?" tanya Billy
"Mendingan penasaran daripada patah hati," jawab Rani.
"Kalo udah penasaran terus ujung-ujungnya patah hati juga, gimana?"
Rani pun melempar popcorn yang masih tersisa di tangannya ke muka Billy. "Kok lo malah nyumpahin gue patah hati sih?" sungut Rani.
"Rani ah! Berantakan nih," omel Billy. Dia memunguti popcorn yang jatuh ke lantai dan meletakkannya di meja kopi, untuk dibuang ke belakangan. "Gue nggak nyumpahin lo patah hati. Tapi kan lebih enak kalo lo tahu apa yang mereka bicarakan daripada penasaran begini."
Rani tidak mau mengakuinya pada Billy, tapi sejujurnya dia agak menyesal juga karena tidak menanyakannya pada Ghevin. Padahal pembicaraan Ghevin dengan Amanda cuma berlangsung kurang dari lima menit, jadi seharusnya tidak ada hal yang bisa membuatnya patah hati.
Rani mengira Ghevin mungkin akan menceritakannya pada Melly. Jadi dia memutuskan untuk mencoba menanyakannya pada Melly di sekolah keesokan harinya.
***
Dengan langkah tersaruk-saruk Rani berjalan menuju kelas X-5—kelasnya. Matanya terasa berat sekali. Tadi malam dia nyaris tidak tidur, dia berterima kasih pada Amanda karena sudah mengganggu waktu tidurnya.
__ADS_1
Melly sudah duduk di bangkunya, ketika Rani sampai di kelas. Wajah Melly terlihat bete.
"Kenapa lo?" tanya Rani sembari melemparkan tas ke meja dan duduk di bangkunya.
"Gue bertengkar sama Tristan," sahut Melly.
"Gara-gara tadi malam?" tebak Rani.
Melly mengangguk. "Gue marah sama dia karena bawa-bawa Amanda," katanya. "Bukannya sadar, Tristan justru balik marah sama gue. Dia merasa nggak adil karena Ghevin boleh mengonfrontasinya soal gue, sedangkan dia nggak boleh mengonfrontasi Ghevin soal Amanda. Padahal kan seharusnya gue sama Tristan harus fokus untuk membuat Ghevin bisa sepenuhnya merestui hubungan kami. Tapi lihat, apa yang dilakukannya? Dia ngerusak makan malam itu dan pergi begitu aja. Benar-benar bikin gue kesal. Jadi tadi malam pas pulang gue sengaja diemin dia sepanjang jalan. Gue juga sengaja nggak ngangkat teleponnya, meski dia nelepon gue berkali-kali."
"Terus tadi lo berangkat sama siapa? Sama Ghevin?" tanya Rani, karena biasanya Melly diantar-jemput oleh Tristan ke sekolah.
"Gue naik ojek," kata Melly. "Gue nggak mungkin berangkat sama Ghevin, karena bisa-bisa ntar dia tahu kalo gue lagi bertengkar sama Tristan."
"Kenapa lo nggak minta jemput sama gue aja?"
Sok sekali Rani menawarkan diri untuk menjemput Melly, padahal dia sendiri bangun kesiangan. Untung saja dia tidak sampai telat.
"Gue kan udah nelepon lo tadi, tapi nggak lo angkat," kata Melly.
Rani baru ingat tadi Melly meneleponnya. Tapi dia tidak mengangkatnya karena masih sibuk mengumpulkan nyawa.
"Ghevin cerita sesuatu nggak ke lo?" tanya Rani tiba-tiba.
"Nggak," sahut Melly. "Tadi malam kan gue langsung mengurung diri di kamar. Terus tadi juga gue nggak sempat ngomong banyak sama Ghevin."
"Berarti dia nggak cerita ke lo soal tadi malam kami ketemu sama Amanda?" tanya Rani lagi.
Melly melongo. "Serius lo?" tuntutnya. "Amanda ada di restoran itu juga?"
"Kebetulan yang menyebalkan, kan?" dengus Rani. "Dia mengambil kesempatan itu untuk bicara berdua sama Ghevin. Tadinya gue pikir Ghevin bakal cerita ke lo apa yang dibicarakannya sama Amanda."
"Paling mereka cuma bertukar kabar aja," tebak Melly.
__ADS_1
"Model Amanda cuma bertukar kabar?" cemooh Rani. "Gue malah lebih percaya kalo dia dengan genitnya minta balikan sama Ghevin."
"Kayaknya nggak mungkin deh kalo Amanda minta balikan sama Ghevin," kata Melly ragu.
"Kenapa nggak mungkin?" tantang Rani. "Lo kan tahu Amanda masih ngarep banget sama Ghevin."
"Emang sih." Melly setuju. "Tapi kayaknya aneh aja kalo setelah apa yang dilakukan Ghevin padanya, Amanda masih mau balikan sama dia."
Memang aneh, tapi untuk Amanda, mungkin saja dilakukan, kan? Sebenarnya Rani ingin memuaskan diri dengan mengumpat Amanda, tapi sepertinya energi dia sudah terkuras habis. Mungkin karena dirinya kurang tidur. Sekali lagi, Rani mengucap terima kasih pada Amanda.
"Gue takut, Mell," gumam Rani. "Gue takut Ghevin akan balikan sama Amanda. Bisa hancur hati gue."
"Nggaklah, Ran," kata Melly menenangkan Rani. "Lagian kenapa sih lo bisa berpikir Ghevin akan balikan sama Amanda?"
"Habisnya setelah lo dan Tristan pulang tadi malam, gue sempat ngomongin soal Amanda sama Ghevin," kata Rani. "Dari kata-kata Ghevin, gue nangkap kesan seolah-olah dia masih suka sama Amanda."
"Ghevin aja nggak pernah berusaha menghubungi Amanda lagi," kata Melly. "Jadi mana mungkin dia masih mencintainya?"
"Mungkin dia mengira dirinya udah melupakan Amanda," duga Rani. "Tapi setelah ketemu lagi tadi malam, dia pun sadar dia masih menyukai Amanda."
"Itu kan dugaan lo aja," tukas Melly.
Bagaimana kalau dugaanku itu memang benar? Apalagi semua tanda mengarah ke situ.
"Kalo Ghevin ngomongin soal Amanda ke lo, lo langsung kasih tahu gue ya, Mell," pinta Rani.
"Pasti," janji Melly.
Lalu setelah mengatakan itu, tiba-tiba saja Melly membeku. Tatapannya terpaku ke belakang Rani. Rani jadi penasaran, dia pun menoleh ke belakang, dan melihat Tristan berjalan memasuki kelas.
.
.
__ADS_1
(Bersambung)