
Rani bergegas mengikuti Martin. Di tengah jalan sebelum mencapai Kafe 69, mereka sempat berpapasan dengan pria berkumis lebat itu. Baru saja Rani berpikir tumben dia tidak muncul, tapi ternyata dia muncul juga. Tapi bukan berarti Rani mengharapkan kehadirannya. Hanya saja, dia sudah dianggap sebagai pelengkap SMA Garuda oleh Rani. Semacam maskot, begitu. Jadi kalau tidak ada dia, menurut Rani rasanya malah aneh.
Rani dan Martin sama-sama memesan iced cappuccino. Mereka menunggu pesanan mereka tiba dalam diam. Setelah tadi marah-marah pada Martin, kini Rani malah jadi merasa malu sendiri. Seharusnya tadi dia tidak perlu membawa-bawa soal perasaannya segala. Bisa-bisa Martin malah menganggapnya sebagai cewek labil.
Pesanan mereka tiba, dan Rani buru-buru menyesap iced cappuccino-nya. Bukan karena dia haus, tapi untuk mengalihkan rasa malunya. Sialnya, Martin tetap saja mengamati dirinya lekat-lekat. Jadi menyesap iced cappuccino juga tidak membawa pengaruh apa-apa. Rani malah nyaris tersedak karena minum dengan begitu buru-buru.
Masih sambil mengamati Rani, Martin berkata, "Lo pasti lagi ada masalah cinta."
"Kenapa lo bisa berpikir begitu?" tuntut Rani.
"Kalo buat cewek," kata Martin, menekankan pada kata "cewek" dengan nada yang jelas-jelas meremehkan kaum wanita, "apa lagi sih yang dipusingkan selain masalah cinta?"
"Nggak semua cewek begitu."
"Tapi lo begitu, kan?"
Martin memang benar. Tapi Rani tidak mau mengakuinya. Lagi pula, dia merasa aneh membicarakan masalah cinta dengan Martin. Tapi rupanya Martin belum mau menyudahi topik itu.
"Apa lo bertengkar sama cowok lo?" tebak Martin.
"Gue belum punya cowok," aku Rani.
"Kalo begitu, apa gebetan lo nggak suka sama lo?" tebak Martin lagi.
"Lebih tepatnya, mungkin dia mau balikan sama mantan ceweknya," gumam Rani tanpa sadar.
"Ah," cetus Martin. "Jadi lo patah hati?"
__ADS_1
"Gue nggak patah hati!" sentak Rani.
"Belum, mungkin. Tapi amit-amit deh. Jangan nyampe gue benar-benar patah hati."
"Gue jadi heran," kata Martin. "Kenapa sih cewek demen banget meribetkan masalah? Padahal kalo cowoknya emang nggak suka, ya udah, tinggalin aja. Cari yang lain. Kayak cowok cuma ada satu di dunia."
"Nggak semudah itu," sergah Rani. "Ini kan masalah hati. Mana bisa main pindah-pindah begitu aja?"
"Bisa aja," tegas Martin. "Biasanya, kalo gue suka sama cewek, gue akan kasih waktu seminggu untuk ngelihat apakah dia memiliki sedikit aja perasaan yang sama dengan gue. Kalo emang nggak ada, maka gue akan cari cewek lain."
"Seminggu?" ulang Rani kaget. "Apa itu nggak terlalu cepat? Perasaan suka kan bisa dipupuk waktu."
"Buang-buang waktu," dengus Martin.
Jelas, Martin bukan tipe cowok yang akan memperjuangkan cintanya. Tapi mungkin itu karena dia belum menemukan cewek yang benar-benar dicintainya, yang membuatnya rela jungkir balik meski hanya untuk disenyumi oleh pujaan hatinya.
"Jadi belum ada jawaban juga dari Bastian?" tanya Martin saat bersuara. "Kita kan udah kasih dia waktu selama beberapa hari ini. Bilang sama dia bahwa hal ini sangat penting, dan kita mau dia kerja sama dengan kita. Kemarin-kemarin kan dia selalu mau, jadi kenapa kali ini dia malah ragu?"
"Bastian? Siapa ya Bastian?"
"Pokoknya lo bujuk dia terus, dan usahakan besok udah ada jawaban," kata Martin. "Jangan lupa besok lo kabarin gue lagi." Setelah itu dia menutup telepon.
Rani langsung berpura-pura lebih tertarik pada iced cappuccino daripada pembicaraan yang baru saja didengar olehnya. Meski penasaran dengan identitas Bastian, Rani jelas tidak mungkin menanyakannya pada Martin. Dia harus mencegah timbulnya segala bentuk kecurigaan dari Martin.
"Soal gebetan lo itu," kata Martin tiba-tiba, "mendingan lo lupain aja. Jelas, dia cuma bikin lo jadi kacau. Lihat aja, lo sampai marah-marah sama orang yang belum lama lo kenal."
"Apa hak Martin nyuruh gue ngelupain Ghevin? Okelah gue emang marah-marah ke dia, tapi itu kan nggak akan terjadi kalo dia nggak memprovokasi gue."
__ADS_1
Martin menyesap iced cappuccino-nya sampai tandas, mengeluarkan dompet, lalu melemparkan selembar uang ke meja. Rani pun menatap uang itu dengan heran.
"Buat apa lo ngeluarin duit?" tanya Rani heran. "Kan gue yang mau traktir lo."
"Karena lo lagi patah hati—"
"Dibilangin gue nggak patah hati!"
"—jadi gue aja yang traktir lo," kata Martin, tanpa memedulikan bantahan Rani. "Anggap aja sebagai penghiburan."
"Berarti besok-besok gue akan datang lagi buat traktir lo," kata Rani, memanfaatkan hal itu untuk bisa menemui Martin lagi.
"Terserah."
Martin tidak keberatan? Padahal belum sampai satu jam lalu, dia masih tidak senang begitu Rani mengungkit soal traktir-mentraktir. Apa mungkin berbicara soal cinta membuatnya jadi lebih pengertian?
Tapi menurut Rani itu tidak mungkin. Yang lebih mungkin adalah karena Martin menganggap dirinya sedang patah hati, sehingga Martin menggunakan cara itu untuk mengasihaninya.
"Ah, sial. Gue kan nggak mau dikasihani sama dia."
Martin berdiri, dan tanpa berpamitan pada Rani, dia langsung berjalan keluar kafe. Rani tidak mengikutinya sebab masih ingin menghabiskan iced cappuccino yang baru dia minum setengahnya.
.
.
(Bersambung)
__ADS_1