Gejolak Masa Muda 2

Gejolak Masa Muda 2
Makalah Kodok


__ADS_3

Bolpoin, lagi-lagi, mendarat di kepala Rani. Pelakunya juga masih orang yang sama. Melly.


"Jangan ngelamun terus dong," omel Melly lagi. "Bisa-bisa tugas kita nggak selesai-selesai nih."


"Gue males bikin makalah tentang kodok," keluh Rani. "Mendingan juga gue bikin makalah tentang Ghevin."


"Kita kan nggak lagi bikin makalah kodok," protes Melly.


"Tetep aja," tandas Rani. "Buat gue, nggak tau kenapa biologi itu identik sama kodok."


Perdebatan tentang kodok mungkin akan terus berlanjut kalau Ghevin tidak melangkah ke luar dari kamarnya. Rani langsung memberikan senyum penuh cintanya pada Ghevin.


"Lo mau pergi, Ghev?" tanya Rani ketika melihat Ghevin memegang kunci mobil.


Ghevin mengangguk. "Mau nge-gym."


'Ikut dong,' kata Rani dalam hati. 'Terus lo jadi personal trainer gue. Dijamin gue pasti bakal rajin nge**-gym.'


"Mell," kata Ghevin pada Melly. "Camilan lo jangan diumpetin dong. Bagi si Rani, jangan lo makan sendiri aja."

__ADS_1


Melly langsung memasang tampang bete. "Siapa juga yang ngumpetin?" sungutnya. "Camilan gue udah habis. Kan lo yang makanin terus."


Ghevin berpura-pura tidak pernah melihat camilan Melly sebelumnya dan ngeloyor pergi. Rani jadi berbunga-bunga karena Ghevin tidak mau dirinya kelaparan.


Begitu mendengar mobil Ghevin menderu pergi, Rani langsung merebut bolpoin yang dipegang Melly.


"Oke, selesai," cetus Rani.


"Apanya yang selesai?" protes Melly. Dia berusaha merebut kembali bolpoinnya. "Masih kurang tiga halaman lagi."


Rani menjauhkan bolpoin Melly dari jangkauannya. "Tapi kan lusa baru dikumpulin," katanya. "Jadi kita masih bisa ngerjain besok. Jangan terlalu dipaksain harus selesai hari ini juga, Mell. Ntar hasilnya malah nggak bagus."


Bingo! Meskipun Melly sudah bisa menebaknya, tapi untuk lebih amannya, Rani memilih untuk tidak mengaku.


"Tugas lebih penting kok," kilah Rani.


"Kalo gitu biar gue selesaiin hari ini," kata Melly. Dia tidak lagi berusaha mengambil bolpoinnya, tapi justru mengincar bolpoin Rani yang sedari tadi menganggur di meja.


Dengan cepat Rani mengambil kertas folio yang setengah halamannya sudah penuh dengan tulisan Melly. Meskipun Melly sudah memegang bolpoin, tapi dia memerlukan kertas folio itu untuk melanjutkan tugas mereka.

__ADS_1


"Ran, siniin nggak kertasnya?" Melly memerintah sambil mengulurkan tangan.


Tapi Rani buru-buru memasukkan kertas itu ke dalam tas. "Biar gue bawa pulang aja," katanya. "Besok gue balikin lagi ke sini."


Lalu, setelah membereskan semua barang-barangnya yang masih berserakan di meja, Rani berdiri. Melly pun mengikutinya. Dia masih cemberut karena ulah Rani menunda menyelesaikan tugas mereka.


"Awas kalo besok kertasnya nyampe ketinggalan!" ancam Melly.


"Tenang aja, nggak bakal gue keluarin dari tas kok," kata Rani.


Melly mengantar Rani sampai ke pintu pagar. Rani melambai padanya sebelum memacu Yamaha Mio pink kesayangannya pergi. Dalam waktu singkat, Rani sudah tiba di rumah. Lalu dia memasukkan motornya ke garasi dan melangkah melewati pintu depan.


"Billy." Rani memanggil adiknya sambil melempar tasnya ke sofa di ruang tamu.


"Ya?" Terdengar sahutan dari dapur.


Rani segera menuju dapur dan mendapati Billy sedang mengais-ngais isi kulkas. Sepertinya Billy lapar dan berharap bisa menemukan makanan di kulkas. Orangtua mereka bekerja dari pagi sampai malam sehingga di rumah sering tidak ada makanan. Setiap kali Rani memprotes ke orangtuanya soal itu, orangtuanya selalu bilang bahwa dia dan Billy harus belajar mandiri.


(Bersambung)

__ADS_1


__ADS_2