
Sebenarnya Tristan memiliki kartu ace yang bisa langsung membungkam Ghevin yaitu kenyataan bahwa Ghevin pernah berlutut di hadapannya dulu. Tapi mungkin Melly sudah memberinya peringatan agar tidak mengungkit-ungkit hal tersebut.
"Lo udah ngapain aja sama Melly?" tanya Ghevin tiba-tiba.
Wajah Melly langsung memerah mendengar pertanyaan Ghevin. Mungkin dia teringat ciumannya dengan Tristan di perpustakaan, atau ciuman-ciuman lainnya yang tidak
diberitahukannya pada Rani.
"Maksud lo, apa gue pernah memeluk atau mencium Melly, gitu?" Tristan balik bertanya.
Ghevin langsung melotot. "Mencium?"
Red alert. Seketika alarm di restoran Sirosoppo pun berbunyi karena Tristan baru saja mengatakan hal berbahaya. Dilihat dari cara Tristan mendadak mengaduh dan melirik Melly, sepertinya Melly diam-diam menendang kaki Tristan di bawah meja.
"Apa lo pernah mencium Melly?" kejar Ghevin.
Tristan dan Melly sama-sama langsung melengos, menolak untuk menjawab pertanyaan Ghevin. Ghevin pun berpaling pada satu-satunya manusia yang tersisa di ruangan itu—Rani.
__ADS_1
"Mati deh gue. Gue harus jawab apa, nih?"
Rani menyempatkan diri untuk melirik Melly dan sepertinya dia pasrah saja dengan apa yang akan Rani katakan. Rani pun mengatur kata-katanya dengan hati-hati untuk menjawab pertanyaan dadakan Ghevin.
"Mmm... mereka kan pacaran, jadi kayaknya nggak apa-apa kalo Tristan mencium Melly."
Rani tidak tahu kenapa dia menutup mata setelah mengatakan itu. Mungkin dia takut Ghevin akan tiba-tiba melompat ke meja dan menerjang Tristan. Tapi ketika Rani membuka mata, Ghevin masih tetap berada di bangkunya. Ghevin tampak sedang menatap Tristan dengan garang.
"Jadi itu yang lo maksud dengan memperlakukan Melly dengan sangat baik?"
"Tristan mah oneng. Kenapa dia harus bawa-bawa Amanda segala."
Ghevin sempat tersentak, tapi kemudian berkata, "Ini nggak ada hubungannya dengan Amanda."
"Tentu aja ada hubungannya," kata Tristan. "Karena kita lagi ngomongin adik lo, jadi bisa sekalian ngomongin adik gue juga."
Melly menyentuh lengan Tristan, mungkin memberinya tanda supaya berhenti membicarakan Amanda, tapi Tristan tidak memedulikannya.
__ADS_1
"Lo mau tahu dari mana gue bisa ngerti lo pernah mencium Amanda?" lanjut Tristan. "Gue nanya sendiri ke dia, karena gue mau tahu seberapa banyak dia dirugikan saat lo mencampakkannya begitu aja."
Bayangan Ghevin mencium Amanda begitu menyakitkan sampai-sampai Rani langsung mengusir jauh-jauh dari kepalanya. Ingin rasanya dia membantu Melly mendiamkan Tristan dengan mengambil ayam dari meja dan menyumpalkannya ke mulut Tristan.
"Amanda sangat rapuh," kata Tristan. "Dia nggak terbiasa disakiti. Jadi waktu lo meninggalkannya, patah hatinya benar-benar parah. Dia menangis berminggu-minggu, sempat nggak mau makan, dan sering mengurung diri di kamar. Nilai-nilainya di sekolah juga menurun drastis.
Orang-orang sampai menyangka dia mengalami depresi. Gue bahkan sempat takut dia berniat bunuh diri."
Sedalam itukah perasaan Amanda pada Ghevin, sampai-sampai ketika Ghevin meninggalkannya keadaan Amanda jadi separah itu?
"Jadi yah, gue yakin gue memperlakukan adik lo jauh lebih baik daripada lo memperlakukan adik gue," kata Tristan. "Karena nggak seperti lo, gue masih punya hati."
Setelah itu Tristan langsung berdiri dan berjalan keluar ruangan. Melly pun ikut berdiri. Dia sempat ragu sejenak, tapi akhirnya dengan takut-takut memutuskan pamit pada Ghevin dan menyusul Tristan.
Kini tinggal Rani berdua dengan Ghevin. Diam-diam Rani melirik ke arah Ghevin, dan dia melihat Ghevin hanya diam sambil memandangi bangku yang tadi diduduki Tristan. Sepertinya kata-kata Tristan benar-benar telah memengaruhinya.
(Tbc)
__ADS_1