
Setelah meletakkan kado di gift corner, Rani dan Ghevin memasuki ballroom yang sangat luas, dengan dekorasi serba pink. Di salah satu sisi ballroom terdapat panggung. Latar belakang panggung itu gambar istana.
"Oh, gue tahu. Di pesta ini Amanda pasti akan menjadi putri."
Dilihat dari betapa banyaknya orang yang memenuhi ballroom, Rani bisa menebak orang yang diundang Amanda mencapai ratusan.
”Ramai banget,” komentar Rani.
”Yang diundang Amanda emang bukan cuma teman seangkatannya, tapi sekaligus satu sekolahnya,” jelas Ghevin. ”Bahkan teman-teman SMP-nya juga diundang. Selain itu, masih ada juga keluarga besarnya dan kenalan bokap-nyokapnya.”
Ada yang sepertinya dengan sengaja dilewatkan Ghevin yaitu anggota geng Tristan. Tadi Rani memang sempat melihat beberapa anggota geng Tristan berseliweran.
”Padahal ini baru ultah keenam belasnya, ya,” gumam Rani. ”Gimana nanti ultah ketujuh belasnya?”
Rani tidak mau iri. Amanda boleh saja menjadi putri dan mengadakan pesta ulang tahunnya di hotel dengan ratusan atau ribuan tamu. Tapi cuma dia yang menghabiskan hari ulang tahunnya berdua bersama Ghevin.
”Eh, itu Melly,” tunjuk Rani tiba-tiba. Dia melihat sekilas, Melly berdiri bersama Tristan sebelum sekelompok orang menutupi mereka.
”Lo ke sana aja,” kata Ghevin. ”Ada beberapa teman Amanda yang gue kenal. Gue mau nemuin mereka dulu.”
Rani tidak langsung menghampiri Melly, melainkan mengecek terlebih dahulu teman-teman Amanda yang dimaksud Ghevin. Ternyata teman-teman Amanda itu cowok. Kalau sampai cewek, Rani pasti akan ikut dengannya.
__ADS_1
Mungkin Ghevin lebih memilih menghampiri teman-teman Amanda karena tidak ingin bertemu Tristan. Memang lebih baik mereka tidak bertemu sih, daripada mereka membuat pesta itu kacau—meskipun sebenarnya Rani tidak begitu peduli dengan kelangsungan pesta itu.
Semakin mendekati Tristan dan Melly, Rani baru bisa melihat mereka dengan jelas. Melly mengenakan gaun hitam bermodel sabrina, sedangkan Tristan...
"Astaga, Tristan!"
Tristan terlihat sangat ganteng dengan tuksedo hitamnya. Rani jadi teringat pada Tuksedo Bertopeng. Waktu kecil dia sempat naksir berat padanya. Tuksedo Bertopeng lho, bukan Pahlawan Bertopeng-nya Crayon Sinchan.
"Lho, kenapa gue malah mikirin Tuksedo Bertopeng?"
”Udah dari kapan datangnya, Mell?” tanya Rani pada Melly begitu tiba di dekatnya dan Tristan.
”Dari setengah jam lalu,” sahut Melly. ”Mana Ghevin?”
Melly melongok-longok ke arah yang Rani tunjuk. ”Nggak kelihatan,” keluhnya. ”Kalo dilihat dari cara lo ngebiarinin Ghevin, gue tebak teman-teman Amanda pasti cowok.”
Rani nyengir. ”Benar banget!” celetuknya. ”Tapi selain itu, nggak apa-apa kok kalo Ghevin emang mau nemuin teman-teman Amanda. Gue kan nggak mau membatasi pergaulannya.” Lagaknya seolah-olah Rani pacar Ghevin yang dengan bijak membiarkan Ghevin memilih teman-teman yang diinginkannya.
”Yah emang nggak apa-apa, selama teman-teman Amanda cowok,” kata Melly. ”Nah, coba kalo cewek, apa lo akan tetap ngebiarinin Ghevin begitu?”
”Jelas nggak!” tandas Rani.
__ADS_1
Tristan hanya mengernyit, dia tampak tidak senang mendengar pembicaraan Rani dan Melly. Kernyitan Tristan semakin dalam ketika ada yang memanggil Melly, dan orang itu adalah orang yang paling tidak diinginkannya berada di dekat-dekat Melly.
”Miko!” seru Melly girang. Memang Miko yang barusan memanggilnya, dan kini berdiri bersama mereka. Miko mengenakan kemeja hitam dan celana hitam. ”Kamu datang sama siapa?”
”Sendiri," sahut Miko singkat. Malang sekali Miko. Seharusnya dia mengajak cewek bersamanya ke situ sehingga tidak terlihat nelangsa begitu.
Miko dan Melly mulai membicarakan hal lain, tapi pembicaraan itu hanya berlangsung supersingkat sebab Tristan buru-buru menginterupsi mereka.
”Sayang,” panggil Tristan pada Melly. Bukan cuma Melly, Rani pun melongo mendengarnya. Sejak kapan dia memanggil Melly dengan sebutan ”Sayang”? Jelas Tristan hanya ingin membuat Miko cemburu. ”Aku mau ngenalin kamu sama papa-mamaku.”
Wajah Melly langsung memucat. ”S-sekarang?” gagapnya. ”Nanti aja deh, pas udah mau pulang.”
”Harus sekarang!” tandas Tristan, lalu dia menarik Melly agar mengikutinya. Berhasil juga Tristan memisahkan Melly dari Miko.
Rani sampai terkikik geli melihat Melly. Melly memang ingin Tristan mengenalkannya pada orangtuanya, tapi pada saat yang bersamaan, Melly juga tegang setengah mati. Lihat saja,
ekspresinya seolah Melly akan bertemu Cerberus, dan bukan orangtua Tristan.
.
.
__ADS_1
(Tbc)