Gejolak Masa Muda 2

Gejolak Masa Muda 2
Rani Terjatuh


__ADS_3

Sudah beberapa saat lamanya Rani berada di dalam air dingin, dan kini paru-parunya mulai menuntut oksigen. Dia pun berjuang untuk mencari lapisan es yang jebol, tempatnya terjatuh tadi, dan ingin secepatnya mencapai permukaan air.


Sesak... Rasanya sesak sekali... Itulah yang Rani alami saat ini. Dia bergerak-gerak gelisah di jok, dan merasa kesulitan untuk bernapas.


”Ghev, hentikan mobilnya,” pinta Rani.


”Apa?” tanya Ghevin, tidak yakin dengan apa yang didengarnya.


”Hentikan mobilnya,” ulang Rani. "Please."


Meski bingung, Ghevin menurutinya. Dia pun menepikan mobil, lalu Rani segera melompat turun. Bisa terdengar suara Ghevin memanggil nama Rani, dia meminta Rani untuk kembali, tapi Rani tidak memedulikannya.


Akhirnya Rani berhasil menemukan lapisan es yang jebol, dan begitu mencapai permukaan air, dia langsung menghirup udara sebanyak-banyaknya. Tapi itu tidak sepenuhnya menghilangkan rasa sesaknya, dan hanya sedikit menguranginya.


Ghevin tiba-tiba saja sudah berada di dekat Rani, di trotoar. Rani tidak bisa lagi menyembunyikan air matanya dari Ghevin. Dan saat Ghevin melihat Rani menangis, seketika wajah Ghevin langsung dipenuhi rasa bersalah.


”Ran, kenapa lo turun?” tanya Ghevin. ”Ayo, masuk lagi ke mobil.”


Rani menggeleng. ”Gue nggak mau pulang sama lo,” tolaknya. Mungkin berdua dengan Ghevin di mobilnya hanya akan membuat rasa sesaknya kembali. Bisa-bisa dia mati kehabisan napas.


Ghevin tampaknya mengerti kenapa Rani tidak mau pulang bersamanya, karena dia tidak lagi memaksa Rani untuk masuk ke mobilnya.

__ADS_1


”Seenggaknya biar gue temenin lo sampai lo dapat taksi,” tawar Ghevin.


Lagi-lagi Rani menggeleng. ”Gue mau pulang jalan kaki aja,” katanya.


”Apa lo gila?” Ya, mungkin Rani memang sudah gila. Ghevin menolaknya, jadi wajar saja dia kehilangan kewarasannya. ”Rumah lo masih cukup jauh. Lagi pula bahaya, Ran. Ini kan udah malam.”


Ternyata Ghevin masih mengkhawatirkan Rani. Tapi itu justru membuat Rani semakin bertambah sakit. Jika saja dia bersikap cuek pada Rani, mungkin malah lebih tidak menyakitkan.


”Gue nggak mau cepat-cepat sampai di rumah, karena butuh waktu untuk nenangin diri,” kata Rani beralasan. ”Bokap-nyokap gue nggak boleh sampai ngelihat gue kayak begini.”


”Tapi mana bisa gue ngebiarinin lo pulang jalan kaki sendirian malam-malam begini?” tukas Ghevin. ”Kalo sampai terjadi apa-apa sama lo, kan tanggung jawab gue juga.”


”Gue bisa menjaga diri baik-baik,” kata Rani. ”Jadi please, Ghev, pergilah. Jangan buat ini semakin sulit buat gue.”


”Telepon gue begitu lo sampai di rumah,” cetus Ghevin.


Mau tak mau, Rani jadi teringat pada Melly ketika dia mencoba bernegosiasi dengan Tristan agar Tristan mengizinkan Melly pulang bersamanya. Waktu itu, Melly berjanji akan menelepon Tristan begitu sampai di rumah. Sekarang, sepertinya Rani juga harus menjanjikan hal yang sama pada Ghevin. Karena itu satu-satunya syarat, agar Ghevin mengizinkan Rani pulang sendirian.


”Oke, gue akan telepon lo,” janji Rani.


Sampai ketika sudah berdiri di sebelah mobilnya, Ghevin masih saja ragu untuk pergi. Tapi karena memegang janji Rani, dia masuk juga kembali ke mobil.

__ADS_1


Ghevin sudah pergi dari pinggir danau. Bagai tamparan keras, Rani pun tersadar, bahwa memang tidak akan ada lagi Ghevin dalam hidupnya—Ghevin yang sangat disuka, dan membuatnya sangat bahagia selama ini. Dia sudah pergi, dan tidak akan pernah kembali lagi.


Rani menggeleng-geleng tanpa sadar. "Nggak... Ghevin nggak boleh pergi! Gue nggak mau dia pergi! Dia harus kembali! Harus!!!"


”Ghev!” seru Rani.


Rani berlari secepat mungkin dengan sepatu hak tinggi. Dia lantas turun ke jalan, dan berusaha mengejar mobil Ghevin yang mulai menjauh.


”Ghev, kembali! Ghev!”


Tapi sayangnya mobil Ghevin semakin menjauh. Dalam kegelapan malam, hanya lampu belakangnya yang terlihat. Lari Rani semakin lama semakin lambat, hingga akhirnya dia pun terjatuh ke aspal. Bersamaan dengan itu air matanya mengucur semakin deras, bak baju yang sedang diperas.


🎶


Aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi


Aku tenggelam dalam lautan luka dalam


Aku tersesat dan tak tahu arah jalan pulang


Aku tanpamu butiran debu

__ADS_1


🎶


__ADS_2